Diversifikasi Pangan | Kehati Award 2012
Usaha pemerintah untuk mengembangkan pangan lokal melalui Gerakan Sehari Tanpa Nasi memang layak diapresiasi. Namun demikian, menurut praktisi pertanian, poin penting dan paling utama seiring ajakan itu adalah aksi konkrit pemerintah dalam mendorong pengembangan pangan lokal hingga ketersediaannya terjaga dengan harga terjangkau.
“Saya sangat setuju dengan gerakan Sehari Tanpa Nasi. Gerakan itu sepantasnya mendapat dukungan luas dari berbagai pihak di Indonesia demi ketahanan pangan sekaligus mengurangi ketergantungan masyarakat pada beras,” tutur Ketua Yayasan Cinta Alam Pertanian, Maria Loretha di Adorana, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, sebagaimana ditulis Kompas.com, Rabu (4/4/2012)
Maria Loretha adalah petani pelestari sejumlah sumber pangan lokal NTT, seperti sorgum, jewawut, beras hitam dan jelai. Bersama suaminya, Jeremias Lethor, ia menekuni usahanya itu di kampungnya di Waiotan, Desa Pajinian, Kecamatan Adonara Barat, Kabupaten Flores Timur. Atas perjuangannya itu, Maria dianugerahi Kehati Award tahun 2012. Sementara Yayasan Kehati yang pendirinya antara lain Prof Dr Emil Salim, 18 tahun lalu, secara khusus mendukung dan memfasilitasi berbagai aktivitas, konservasi serta penggunaan biodiversitas di Indonesia secara berkelanjutan.
Menurut Maria, persoalan serius yang bakal menghadang perkembangan pangan lokal adalah ketersediaanya yang langka dan harganya yang sangat mahal. Sebagai contoh di NTT, jagung bose, jagung pipilan yang sudah dipisahkan dari kulit luarnya harganya antara Rp 18.000 hingga Rp 25.000 per kg, yang berarti setara 2 kg atau 3 kg beras.
Padahal, Tegas Maria, NTT adalah daerah yang sangat potensial dengan berbagai jenis pangan lokal seperti jagung, sorgum, jewawut, jelai, umbia, putak (dari gewang sebangsa palem) bahkan juga umbi hutan, gadung.
karena itu, yang diperlukan, kata Maria, adalah mendorong pengembangan pangan lokal itu dan secara terus menerus mengampanyekan manfaat dan nilai gizi lebih dalam pangan nonberas tersebut.
Sementara itu, Puji Sumedi dari Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati) menjelaskan, gerakan Sehari Tanpa Nasi merupakan salah satu implementasi kebijakan pemerintah tentang Penganekaragaman Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal.
“Gerakan ini akan efektif jika dilakukan bersama dari tingkat nasional hingga daerah. Fokusnya adalah mengganti beras dengan pangan lokal, bukan gandum,” katanya.
Ia mengemukakan, jika kemudian pemerintah serius mengembangkan gerakan tersebut, makna positifnya adalah konsumsi beras orang Indonesia akan menurun, sementara konsumsi pangan lokal meningkat.
Sumber: http://dk-insufa.info