TC Kebun Polikultur (TCSS)

TC PPPT Mangga Dua

Info Desa

Partners

Past Supporting Partners & Experience

Majalah/Newsletter

Hasil Riset

Flag Counter

Ketika Petani Dihimpit Beban

26/10/2011

Problema Petani | Kedaulatan Pangan

Petani kerap dipuja sebagai pihak yang berjasa bagi hidup manusia. Ungkapan ini masuk akal karena tanpa petani kebutuhan pokok manusia tidak akan terpenuhi. Saat ini, selain harus menghadapi cuaca ekstrim yang kerap menjadi teror pada saat masa panen, yang berakibat pada kesulitan pangan di masing-masing daerah, petani juga tak bisa lepas dari lilitan utang, pencarian lahan, dan pembelian pupuk.

Kasus ini tidak hanya terjadi di Sumatera Utara, di daerah Lemahabang, Karawang Senang misalnya, petaninya sengsara akibat panen utang. Solihat (31), salah satu buruh tani berujar bahwasanya hasil panen pun belum tentu cukup untuk biaya makan 2 bulan dikarenakan hutang yang harus dilunasi.

Beban itu makin berat terasa karena musim paceklik kali ini jauh lebih panjang. Hutang yang menumpuk tidak bisa diimbangi dengan hasil panen, malah lebih sering kurang. Kebutuhan yang terus bertambah, namun penghasilan tak kunjung bertambah membuat mindset petani bahwasanya musim panen tidak ubahnya musim paceklik. Warga petani tak berdaya untuk memperbaiki keadaan dan memilih untuk bertahan. Mereka mengharapkan upaya dari pemerintah untuk membantu mereka, namun harap hanya selonsong mimpi. Kenyataannya mereka memilih lebih baik mati karena buruh tani tidaklah berarti.

Di daerah kawasan Kecamatan Bagan Sinambah, sentral perkebunan kelapa sawit di Rokan Hilir, sejumlah petani sawit mengeluhkan sulitnya akses memenuhi pupuk untuk kebun sawit mereka. Ini terjadi karena pengangkutan yang tidak memadai. Koperasi Unit Desa (KUD) yang diharapkan berdiri tak kunjung muncul. Ini mengakibatkan petani menjadi sulit untuk menyediakan pupuk bagi tanamannya. Selain itu, KUD juga dapat menjadi stabilisator agar harga pupuk tidak dipermainkan seenaknya serta agar koordinasi antara pemerintah dan masyarakat tani bisa lebih baik. Selain itu, adanya KUD nanti diharapkan bisa meningkatkan efektifitas serta efisiensi kerja dan waktunya supaya mencapai hasil yang maksimal.

Di Pekanbaru sendiri, tepatnya di Desa Mudiak Ulo, Kecamatan Hulu Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi, masyarakatnya yang sudah memiliki bahan kesulitan untuk mendayagunakannya karena kesulitan mencari lahan sawit. Lahan-lahan yang ada menurut riaupos.co.id sudah dibeli oleh pemilik modal dari luar Hulu Kuantan dan warga etnis Tionghoa. Padahal, desa tersebut mempunyai masyarakat yang punya semangat tinggi untuk membuka lahan sawit, namun ketidaktersediaan lahan membuat mereka harus mencari ke desa-desa tetangga.

Sebagian warga memang ada yang menjualnya kepada pihak luar, namun itu pun dikarenakan karena kesulitan ekonomi yang menjerat mereka. Dikhwatirkan jika ini terus berlanjut, maka bukan tidak mungkin warga tani akan ‘kembali’ menjadi korban dan hanya menjadi pembantu di kebun kelapa sawit milik orang lain. Harapan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) pun menghampiri di hati masyarakat agar segera mencari solusi untuk perbaikan ekonomi masyarakat. Namun, jika dilihat dari kondisi sekarang, terlalu jauh menggantungkan harapan kepada para penguasa, karena mereka sendiri juga terlalu menyepelekan masalah persoalan agraria yang menyangkut kesejahteraan rakyat. (andi)

Search

Arsip

Desa Penerap SID di Sumut

Data Kelompok

Kab/Kota Lk Pr Jlh Jlh Kel
Langkat 173 142 315 12
Binjai 26 31 57 3
Deli Serdang 783 766 1549 31
Serdang Bedagai 815 620 1435 49
Tebing Tinggi 36 126 162 5
Batu Bara 26 170 196 5
Lab Batu Uatara 490 306 796 2
Jumlah 2349 2161 4510 107