TC Kebun Polikultur (TCSS)

TC PPPT Mangga Dua

Info Desa

Partners

Past Supporting Partners & Experience

Majalah/Newsletter

Hasil Riset

Flag Counter

Kedaulatan Pangan Sulit Terwujud Jika Tak Ada Tindakan Strategis

19/09/2012 ,

Indonesia, sebagai negara agraris hingga kini masih melakukan impor bahan pangan dalam jumlah yang terus bertambah. Akibatnya, kekhawatiran kedaulatan pangan akan sulit terwujud jika tidak ada tindakan strategis yang bisa mengeluarkan dari situasi sulit seperti sekarang ini.

Kepala Balai Pelatihan Pertanian Jambi Tedy Rahmad Mulyadi kepada MedanBisnis, Senin (17/9) di Medan mengatakan, lonjakan harga kedelai yang dipicu oleh pembatasan ekspor kedelai dari Amerika Serikat sebagai salah satu negara produsen kedelai terbesar di dunia, harus menjadi peringatan bagi Indonesia bahwa terdapat kemungkinan besar akan terjadinya krisis pangan.

Hal tersebut utamanya dikarenakan lonjakan harga kedelai telah membuat industri tahu dan tempe nyaris gulung tikar. “Ini semacam alarm, kemungkinan datangnya krisis pangan di Indonesia, maka sektor pertanian harus dikuatkan,” tegasnya.

Tedy mengatakan, tahun 2011, angka impor pangan nasional, seperti susu mencapai 90%, gula 30%, daging sapi 30%, kedele 70%, garam 50%, beras 2 juta ton dan gandum 5 juta ton per tahun.

Dari data tersebut, menunjukkan bahwa Indonesia memiliki ketergantungan yang sangat besar terhadap pasokan kebutuhan bahan pokok dari luar negeri. Produksi bahan pangan dari dalam negeri hingga saat ini masih belum bisa mencukupi kekurangan sehingga harus mengimpor. “Jadi wajar saja jika ada kekhawatiran kedaulatan atau kemandirian pangan sulit terwujud,” ungkapnya.

Menurutnya, untuk mengatasi kesulitan tersebut, sektor pertanian harus mendapatkan penguatan melalui pembangunan pertanian yang mana parameter keberhasilanntya diihat dari pertumbuhan perekonomian nasional, penciptaan lapangan pekerjaan, berkurangnya kemiskinan dan kelestarian lingkungan nasional.

“Kalau pertanian kita kuat, semisal terdapat industrial unggul, berkelanjutan yang berbasis sumberdaya lokal untuk meningkatkan kemandirian pangan, petani akan mendapatkan nilai tambah serta memiliki daya saing untuk ekspor dan tentunya kesejahteraan petaninya bisa tercapai,” katanya.

Selama ini kata Tedy, pemerintah sudah mencanangkan program penguatan ketahanan pangan melalui peningkatan produksi pangan menuju surplus beras 10 juta ton tahun 2014 melalui peningkatan produktivitas tanaman pangan (padi & palawija).

Selain itu, peningkatan produktivitas lahan pertanian dan luasan areal pertanian baru melalui pencetakan sawah 100.000 hektare dan perluasan areal hortikultura/perkebunan/peternakan.

Seperti diketahui bahwa kondisi alam geografis Indonesia memiliki banyak kelebihan atau peuang di antaranya keanekaragaman hayati yang didukung dengan konsep agro ekosistem, kultur masyarakat yang agraris, adanya paket strategis dan tepat guna di sektor pertanian dan yang tidak kalah pentingnya sumber daya penyuluh.

“Khusus untuk penyuluh, menurut saya dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan dan meningkatkan kesjahteraan, penyuluh pertanian, perikanan, dan kehutanan harus dikuatkan terlebih dahulu, karena merekalah tonggak paling depan yang membantu para petani,” katanya.

Tedy menambahkan, yang seharusnya dilakukan pemerintah adalah melakukan tindakan strategis yang bisa mengeluarkan dari situasi sulit yang terjadi saat ini dan kemungkinan akan terus terjadi.

Di antaranya dengan penguatan sumber daya manusia di sektor pertanian, memiliki kemampuan manajemen kewirausahaan dan basis usaha tani yang mampu bersaing. “Tindakan strategis itu diperlukan agar kekhawatiran akan terjadinya krisis pangan bisa dihilangkan dengan terwujudnya kedaulatan pangan,” tambahnya. (dewantoro)

Sumber: www.medanbisnisdaily.com

Foto: www.spi.or.id

Search

Arsip

Desa Penerap SID di Sumut

Data Kelompok

Kab/Kota Lk Pr Jlh Jlh Kel
Langkat 173 142 315 12
Binjai 26 31 57 3
Deli Serdang 783 766 1549 31
Serdang Bedagai 815 620 1435 49
Tebing Tinggi 36 126 162 5
Batu Bara 26 170 196 5
Lab Batu Uatara 490 306 796 2
Jumlah 2349 2161 4510 107