Pemberdayaan Pedesaan | Gagasan
Oleh, Hadi Siswoyo
Ketua CU BIMA, Desa Air Hitam, Kualuh Leidong, Labuhan Batu Utara
Kondisi geografis desa Air Hitam yang berjarak sekitar + 9 km dari pantai Bagan Siapi-api memiliki tekstur tanah gambut jadi atau liat putih yang diakui memiliki tingkat kesuburan tanah yang sangat tinggi, hal ini dapat dibuktikan dengan kondisi tanaman yang hijau menawan walau jarang sekali dipupuk, tapi tentu saja yang paling subur adalah rumput liar yang begitu melimpah. Hampir disetiap sudut desa ini terlihat gerombolan-gerombolan rumput yang subur merona-ria.
Secara umum desa ini sangat potensial untuk berternak sapi karena tersedia pakan yang sangat melimpah, sampai-sampai masyarakat desa Sukaramai dan Bargot yang berjarak 40 km mengambil rumput pakan sapi dari desa ini, namun ada pertanyaan yang sangat menggelitik ketika menghitung jumlah peternak sapi yang ada di desa ini, ternyata jumlahnya sangat sedikit, hanya sekitar 35 KK dari lebih dari 2,500 KK penduduk desa Air Hitam.
Jumlah peternak sapi yang minim ini bukan tanpa alasan. ketika menyelami lebih dalam kepada masyarakat ternyata ada dua hal yang menjadi penyebab utama factor sedikitnya masyarakat yang tertarik berusaha dibidang ternak Sapi; Pertama, besarnya modal awal. Modal awal berternak sapi memang membutuhkan modal yang tidak sedikit, untuk membeli satu ekor sapi produktif membutuhkan modan minimal 5 juta rupiah, lain lagi biaya pembuatan kandang dan kebutuhan perlengkapan ternak sapi lain.
Kedua, usaha ternak sapi memiliki resiko yang sangat tinggi. Sebenarnya resiko yang paling menonjol dari usaha ternak sapi ini adalah resiko kematian yang menjadi momok paling menakutkan. Ketika terjadi kematian atau sakit keras yang tidak dapat tertolong, selama ini masayarakat tidak punya upaya kecuali pasrah menerima nasip, karena biasanya lembu yang dijual dalam kondisi seperti ini hanya dihargai sekitar 30% dari harga pasaran oleh tengkulak penampung, sementara jika dipasarkan sendiri dalam bentuk daging lebih berisiko lagi karena pasar tidak tersedia dan dagingnya akan membusuk karena tidak habis terjual.
Salah satu contoh yang terjadi menjelang Hari Raya Idul adha baru-baru ini, bebera orang masyarakat yang berniat Qurban membeli seekor sapi jantan seharga tuju juta rupiah dari desa lain, dalam pengangkutan menuju ke desa Air Hitam sepanjang perjalanan duguyur hujan deras selama lebih dari dua jam. Sesampai di rumah, karena merasa kasihan yang empunya mebuatkan api unggun untuk penghangat sapi tersebut, tapi naas, entah bagaimana caranya sapi tersebut terbakar kakinya sehingga cacat dan sakit.
Dua hari kemudian yang empunya berniat menjual sapi tersebut karena sudah tidak dapat dijadikan hewan Qurban, setelah bernegosiasi dengan penampung, karena pertimbangan kemudahan pengangkutan akhirnya sapi disembelih di tempat dan diangkut dengan dua sepeda motor. Namun apa yang terjadi ketika sapi sudah sampai kepada penampung dalam kondisi sudah disembelih ternyata si penampung bersilat lidah dan hanya berani membayar dua setengah juta rupiah daging sapi tersebut, padahal 3 hari sebelunya harganya tuju juta rupiah. Hal seperti ini sering terjadi, dan hampir di setiap daerah, dikarenakan pemilik sapi tidak punya pilihan pembeli penampung selalu mencari kesempatan.
Menyikapi kondisi tersebut, kelompok Credit Union Bina Maju Bersama (CU BIMA) berupaya mencari solusi dari masalah di atas karena bagaimanapun investasi di bidang ternak sapi tetap merupakan prospek yang sangat besar bagi masyarakat desa Air Hitam. CU BIMA sudah menggulirkan program pinjaman kelompok untuk usaha ternak sapi yang dikelola secara bersama oleh kelompok unit sebagai jawaban masalah yang pertama. Namun mengingat terbatasnya modal yang dimiliki CU BIMA, masih sangat sedikit kelompok unit yang mendapat pinjaman.
Sementar untuk megatasi masalah yang kedua, beberapa waktu yang lalu CU BIMA telah berhasil mengumpulkan 23 orang peternak sapi dalam sebuah wadah yang disebut Kelompok Peternak Sapi Air Hitam. Wadah ini tidak hanya sebagai media berbagi pengalaman bagi anggotanya tapi hal paling menonjol adalah diperolehya solusi dari masalah resiko bagi peternak sapi tersebut.
Bahwa untuk menghindarkan resiko kerugian yang demikian besar jika sapi anggota sakit dan terpaksa disembelih, pemilik akan menghubungi panitia taksir yang dibentuk secara independent yang nantinya akan memberikan harga sesuai pasaran. Setelah itu sapi dipotong dan dibagi secara merata kepada semua anggota yang pembayaranya diberi tenggang waktu 1 bulan dengan catatan yang dibayar oleh anggota hanya sebesar 80% dari harga taksir tersebut. Sistem penanggulangan resiko ternak ini yang disebut dengan sistem tanggung renteng. CU BIMA akan menalangi/mendahulkan uang pembayaran sapi yang dipotong dengan harga 80% dari harga taksir kepada yang empunya sapi dan selanjutnya pengutipan kepada anggota menjadi tanggung jawab CU BIMA. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya perpecahan di dalam kelompok yang disebabkan tersendatnya pembayaran daging. Dengan pembayaran lebih awal uang penjualan sapi tersebut secepatnya dapat dipergunakan untuk membeli sapi yang baru atau untuk keperluan ternak.
Menurut Saya, cara ini cukup efektif digunakan, kalaupun harus sapi peternak disembelih karena terserang penyakit, masih ada 3 keuntungan yang diperoleh kelompok:
1. Bagi pemilik yang mendapat musibah, kerugian dapat diminimalisir hanya 20% sementara jika dijual kepada tengkulak kerugian mencapai 70%.
2. Angggota kelompok dan keluarganya akan mendapat asupan gizi daging sapi dengan harga yang murah dan terjangkau karena dapat diangsur.
3. Anggota kelompok lebih percaya diri dan nyaman dan tidak was-was dalam usaha ternaknya.
Dengan cara seperti ini diharap masyarakat lebih percaya diri untuk mencoba usaha ternak sapi karena sudah ada penangkal resiko (solusi) dari masalah yang paling ditakuti. Selain itu kelompok berharap pemerintah lebih pro-aktif membantu masayarakat dengan menyediakan permodalan dan tenaga kesehatan ternak untuk masyarakat desa Air Hitam sehingga petensi desa berupa kesuburan tanah dan rumput dapat termanfaatkan secara maksimal. Mengingat usaha ternak sapi memiliki prospek yang menjanjikan, CU BIMA dapat dijadiakan mitra dalam menjembatani hubungan antara investor dan masyarakat.