TC Kebun Polikultur (TCSS)

TC PPPT Mangga Dua

Info Desa

Partners

Past Supporting Partners & Experience

Majalah/Newsletter

Hasil Riset

Flag Counter

Kesadaran Konsumen Akan Bahan Pangan Sehat Pacu Geliat Pertanian Organik

13/07/2022 , , , , , ,

Oleh NIKSON SINAGA

Kelompok-kelompok tani organik dari berbagai kabupaten di Sumut bertemu dan bertukar pemiliran dan pengalaman dalam dalam seminar bertajuk Menuju Kebijakan dan Inovasi Pangan Sehat Berkeadilan bagi Petani di Medan, Sumatera Utara, Selasa (28/6/2022)

Kesadaran konsumen dibutuhkan untuk memacu geliat pertanian organik. Di Sumut, kelompok tani membatasi produksi padi organik karena penyerapan di pasar stagnan. Edukasi pangan sehat butuh terus dilakukan.

MEDAN, KOMPAS — Gerakan konsumen dibutuhkan untuk memacu geliat pertanian organik. Di Sumatera Utara, sejumlah kelompok tani membatasi produksi padi organik karena penyerapan pasar yang stagnan. Edukasi untuk menciptakan kesadaran konsumen atas bahan pangan sehat mesti terus dilakukan.

”Di beberapa negara maju, gerakan pertanian organik justru dimulai dari konsumen. Karena semakin banyak konsumen yang sadar akan kebutuhan pangan sehat, pertanian organik pun berkembang,” kata Duta Organik Indonesia Soekirman dalam seminar bertajuk ”Menuju Kebijakan dan Inovasi Pangan Sehat Berkeadilan bagi Petani” di Kota Medan, Sumatera Utara, Selasa (28/6/2022).

Dalam seminar yang diselenggarakan Yayasan Bina Keterampilan Pedesaan Indonesia (Bitra) itu hadir juga Kepala Bidang Ketersediaan dan Distribusi Pangan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Pemerintah Provinsi Sumut Nurhaida Pohan, Direktur Pelaksana Bitra Rusdiana, serta sejumlah kelompok tani organik dari sejumlah daerah di Sumut.

Soekirman, yang juga mantan Bupati Serdang Bedagai itu, menyebutkan, gerakan-gerakan konsumen sebenarnya sudah mulai muncul di Sumut, tetapi belum cukup besar. Sejumlah komunitas membentuk kelompok untuk mempermudah pemesanan produk organik dari kelompok tani. Mereka, misalnya, memesan 300 butir telur dan 1 ton beras organik per bulan untuk komunitasnya.

Ketua Kelompok Tani Perempuan Horas Jaya Riama Simanjuntak (kiri) menjadi pembicara dalam seminar bertajuk Menuju Kebijakan dan Inovasi Pangan Sehat Berkeadilan bagi Petani di Medan, Sumatera Utara, Selasa (28/6/2022).

Dengan begitu, kelompok tani organik pun akhirnya bisa menyiapkan produksi hingga pemasaran lebih baik serta terencana. Gerakan konsumen ini harus ditumbuhkan dengan mengedukasi masyarakat agar semakin banyak yang sadar akan kebutuhan pangan sehat.

”Selama ini, kita hanya berfokus melihat masalah pertanian organik dari menanam sampai panen sehingga masalah pengemasan hingga pemasaran tidak menjadi perhatian,” kata Soekirman.

Ketua Penjamin Mutu Organik Kabupaten Serdang Bedagai Jumino mengatakan, saat ini kelompok tani mitra mereka di Serdang Bedagai menghasilkan sekitar 8 ton beras organik setiap panen. ”Kemampuan kami meningkatkan produksi sebenarnya cukup besar, tetapi permintaan pasar stagnan, hanya sekitar 8 ton,” ucap Jumino. Jumino mengatakan, dari segi penghasilan, petani lebih untung menanam padi organik karena harganya lebih tinggi. Produksinya juga bisa ditingkatkan dibandingkan dengan pertanian berbasis pupuk kimia.

Harga beras organik di Sumut, misalnya, sekitar Rp 15.000 per kilogram. ”Harga itu sebenarnya masih cukup murah dan konsumen punya daya beli hingga Rp 20.000 per kilogram,” kata Jumino. Menurut Jumino, petani yang menjual gabah basah pun bisa mendapat selisih Rp 1.000 per kilogram dibandingkan dengan harga padi non-organik atau lebih mahal 20-30 persen dari padi nonorganik yang berkisar Rp 3.500–Rp 4.500 per kilogram. Pertanian organik pun bisa memberi kesejahteraan lebih baik bagi petani. Apalagi, harga pupuk kimia saat ini sedang melonjak tinggi dan sulit didapat.

Hortikultura

Di Sumut, pertanian organik sayur-sayuran pun semakin diminati pasar dengan harga yang cukup baik. Kelompok-kelompok tani organik terus dibentuk untuk memenuhi permintaan.

Ketua Kelompok Tani Perempuan Horas Jaya Riama Simanjuntak, dari Desa Panombeian, Kecamatan Panombeian Panei, Kabupaten Simalungun, mengatakan, sudah dua tahun terakhir membentuk kelompok untuk menanam sayur-sayuran organik. Anggota kelompok sekitar 25 perempuan. ”Kendala utama yang dihadapi memenuhi kebutuhan kotoran ternak untuk pupuk,” kata Riama.

Dia mengatakan, harga produk sayur organik cukup menjanjikan dan bisa sampai tiga kali lipat harga sayur non-organik. Ia mencontohkan, harga kacang panjang kini sekitar Rp 2.000 per kilogram, sedangkan kelompok mereka bisa menjual hingga Rp 6.000 per kilogram. Semua hasil mereka selalu terserap konsumen.

Editor: GREGORIUS MAGNUS FINESSO

Sumber: Kompas.id 28 Juni 2022.

Search

Arsip

Desa Penerap SID di Sumut

Data Kelompok

Kab/Kota Lk Pr Jlh Jlh Kel
Langkat 173 142 315 12
Binjai 26 31 57 3
Deli Serdang 783 766 1549 31
Serdang Bedagai 815 620 1435 49
Tebing Tinggi 36 126 162 5
Batu Bara 26 170 196 5
Lab Batu Uatara 490 306 796 2
Jumlah 2349 2161 4510 107