Perkembangan kelompok petani organis (organik) sangat menggembirakan. Namun di balik itu ada kecemasan karena kalau kita baca dengan hati sesungguhnya yang menggerakan mereka lebih pada aspek ekonomi atau bisnis dan teknik padahal kesadaran organis harus sampai pada tataran pemahaman bahwa menjadi petani organis itu panggilan untuk membangun dunia yang lebih baik. Demikian menurut Y.P. Sudaryanto sebagai Pimpinan Bina Sarana Bhakti, sebuah yayasan yang menjadi pelopor pengembangkan pertanian organis di Indonesia bersama Pater Agatho di kawasan puncak Bogor, Jawa Barat.
“Jadi, ketika saya menanam padi, sayuran dan lain-lain, bukan semata untuk mendapatkan hasil tapi memperbaiki tanah, lingkungan, OPT, kenyamanan dan ikut menghambat kerusakan alam,” tegas anggota Komisi Standar, Aliansi Organis Indonesia (AOI) ini di Bogor, 9 April 2012 melalui surat elektronik kepada redaksi.
Menurutnya, paradigma pertanian organis adalah harmonis, maka keterbukaan, kejujuran, kepercayaan menjadi panglimanya. Dengan demikian ketika tanamannya rusak tidak serta merta menyalahkan OPT dan meragukan sistem organis. Dikhawatirkannya ke depan, petani organis yang “orientasi bisnis melulu” ketika mendapat kesulitan dan kegagalan karena OPT pasti akan berhenti dan kembali pada konvensional.
Kisah Pertanian Organis di Indonesia
Y.P. Sudaryanto mengatakan, paradigma pertanian organis ini tak lepas dari sejarah pengembangan pertanian organis oleh Pater Agatho dan Romo Utomo dari BSB. Pada tahun 1983, BSB mendiskusikan tentang arah yayasan. Waktu itu dukungan untuk pengembangan pertanian organis kuat dari Romo Utomo terutama ide Pater Agatho untuk merealisasi gagasan Fukuoka di Indonesia. Sama sekali tidak terpikir tentang bisnis tapi murni karena 3 hal. Yaitu:
Pertama, contoh pertanian organis yang berhasil dikembangkan oleh Fukuoka dari buku The One Straw Revolution bahwa alam menjadi panglima dalam pertanian. Alam sudah cukup kaya untuk menyediakan makanan bagi manusia. Pertanian harus mengikuti alam bukan sebaliknya. Jangan minta durian saat musim duku atau sebaliknya. Cukup 2 jam bekerja di ladang selebihnya untuk kegiatan menulis, melukis dan lain-lain. Semua indah bernuansa alam.Waktu itu memang menarik sekali contoh model pertanian alam. Sungguh luar biasa sikap hormat terhadap alam. Seandainya pertanian Indonesia seperti itu maka banyak petani terbantu dan suasana agraris akan sangat kental. Itulah impian 29 tahun yang lalu.
Kedua, contoh pertanian konvensional yang merusak. Pada waktu itu sudah menjadi keprihatinan bagi Pater Agatho dan Romo Utomo tentang apa yang terjadi dengan pertanian Panca Usahatani yang di Indonesia sudah berlangsung 15 tahun. Banyak indikator tentang kerusakan tanah, pencemaran sumber-sumber kehidupan bahkan gangguan kesehatan manusia. Buku musim bunga karangan Rachel Carson (1990) menjadi bukti yang tidak terbantahkan. Dalam perenungan terbayang sampai kapan alam tahan menanggung beban pencemaran ini, apa yang terjadi bila alam tidak mampu lagi, berhentikah pertanian? Di mana sumber bahan pangan dicari? Kalau semua sudah habis, uang tidak berguna! Satu cara yang bisa menyelamatkan adalah mencari alternatif pertanian dan itulah pertanian organis.
Ketiga, Karya Penciptaan. Dari sudut pandang lain tentang bagaimana alam diciptakan Tuhan. Dapat dikatakan semua yang ada untuk kehidupan barsama. Alam diciptakan dengan baik. Semua mahkluk hidup diberi secara gratis untuk sumber makanan, tempat tinggal, alat reproduksi, alat perlindungan diri untuk bertahan bahkan kemampuan beradaptasi. Maksudnya hanya satu harmoni antar mahkluk hidup. Jadi tidak mungkin manusia menciptakan teknologi untuk merusak harmoni, ada yang salah bila terjadi ketidakseimbangan alam. Sang Pencipta menjadikan semua itu dalam satu keluarga besar yaitu penghuni bumi yang berhak untuk hidup nyaman, damai dan sejahtera.
Y.P. Sudaryanto menjelaskan, ketika BSB didirikan semangatnya positif yaitu menjaga agar alam tidak rusak setidaknya berusaha menghambat kerusakan yang timbul oleh kekeliruan manusia, mendorong agar tumbuh pemikiran alternatif dalam pengembangan pertanian yang selaras alam, memahami apa kehendak Sang Pencipta dalam menciptakan alam, mengumpulkan ide-ide yang memberi harapan bagi generasi akan datang terutama petani, mengadakan demplot-demplot pertanian organik untuk pengamatan dan menyebarkan ide organis.
“Jelas bahwa motivasi yang menggerakkan keluar dari kesadaran dan refleksi yang mendalam tentang situasi yang makin mencemaskan kehidupan. Motivasinya sangat jauh dari kepentingan bisnis atau peluang harga mahal, hal ini penting mengingat godaan selalu ada,” terang Y.P. Sudaryanto.
Sangat rasional kalau orang bisa tergelincir ke arah tidak jujur bila landasan motivasinya dangkal. Y.P Sudaryanto hanya ingin mengatakan meskipun awal motivasinya bisnis tapi perkembangannya harus mendapat input yang benar tentang apa maksud pertanian organis sesungguhnya. Keselamatan akan kehidupan ke depan itulah yang utama bukan mendapat keuntungan yang besar. Bagaimana menciptakan agar semua diuntungkan dan mendorong kesadaran bahwa kita hanyalah organ dari organisme yang besar yang menentukan kelangsungan hidup seluruh bumi.(ANP/SNY)
Sumber: www.organicindonesia.org