TC Kebun Polikultur (TCSS)

TC PPPT Mangga Dua

Info Desa

Partners

Past Supporting Partners & Experience

Majalah/Newsletter

Hasil Riset

Flag Counter

Pendidikan Kaum Marginal: Minggu Gembira si Anak Nelayan

05/07/2009

Ridho (4) berlarian di sebuah ruang kelas. Bersama seorang teman seusianya, ia memukul-mukul papan tulis sambil berteriak-teriak. Di sudut lain, suasana yang tak kalah gaduh terdengar dari kelas yang berisi anak-anak berusia 5-7 tahun itu . Mereka berteriak, bertanya, berguling-guling di lantai, bahkan naik ke atas meja.

Beberapa pemudi kesulitan menenangkan mereka. Sesaat kemudian, masuklah seorang pemuda menenangkan kelas yang gaduh itu.

Ayo, ayo, semua tenang. Satu dua tiga, ssttt… satu dua tiga, ssttt…, katanya lantang, ditirukan seluruh kelas. Anak-anak itu tenang. Rupanya cara itu sudah disepakati bersama sebagai cara untuk tenang. Lalu, para pemudi membagikan kertas bergambar untuk diwarnai. Anak-anak kembali gaduh, namun tangan mereka sudah sibuk memegang krayon dan mulai mewarnai.

Itulah sekelumit gambaran sekolah alternatif bagi anak- anak nelayan miskin di Desa Bagan Deli, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan. Anak-anak itu belajar bersama setiap Minggu di bawah asuhan sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Forum Mahasiswa Peduli Pendidikan Rakyat (Formappera) bekerja sama dengan Yayasan Bitra Indonesia.

Sekitar 50 anak di Desa Bagan Deli terutama dari Kampung Lorong Proyek dan Lorong Masjid itu belajar berhitung, menulis, menyanyi, menggambar, agama, dan mengenal lingkungan. Mereka dibagi dalam beberapa kelompok; kelompok kelas I-II, kelompok kelas III-IV, dan kelompok kelas V-VI. Kadang-kadang ikut pula anak-anak yang belum sekolah, seperti Ridho.

Hari Minggu (26/2) dua pekan lalu, anak-anak kelompok kelas I-II belajar mewarnai gambar. Adapun anak-anak kelas III-IV belajar berhitung. Anak- anak kelas V-VI belajar tentang sampah. Mereka tampak menyimak dengan sungguh-sungguh, dan menjawab pertanyaan kakak pendampingnya dengan raut wajah malu-malu.

Siang hari, anak-anak itu pergi ke masjid untuk shalat bersama para pendampingnya. Setelah shalat bersama, mereka melanjutkan pelajaran yang masih tersisa. Kadang-kadang mereka mengisinya dengan jalan- jalan di sekeliling kompleks perkampungan itu.

Kurikulum untuk sekolah alternatif itu disusun sendiri oleh para relawan sesuai pengalaman mereka. Rata-rata relawan adalah mahasiswa Jurusan Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Medan. Kurikulum itu tentu tidak sama dengan kurikulum di sekolah formal. Lebih banyak mengakomodasi dunia bermain anak-anak. Dengan demikian, belajar di hari Minggu itu tidak sama dengan les atau pelajaran tambahan.

Sambil bermain

Sekolah yang baru dimulai pada 8 Januari 2006 itu sebelumnya dilakukan di rumah penduduk. Fasilitas belajar disediakan para relawan. Sebanyak 25 relawan datang bergantian, mengajar secara berkelompok, sekitar 4-5 orang setiap minggu.

Tetapi karena tidak leluasa, akhirnya kami pindah di Taman Pendidikan Islam Bagan Deli ini, kata Farida Hanim Saragih (20), Koordinator Formappera.

Bagan Deli adalah perkampungan nelayan padat penduduk. Rumah-rumah sempit berdinding papan dan beratap asbes berimpitan, hanya dipisahkan gang sempit dari papan pula. Di bawah rumah yang disangga tiang-tiang pendek bertumpuk berbagai macam sampah, lumpur, dan bekas-bekas jaring. Air laut yang terperangkap di bawah permukiman tidak mengalir dan menimbulkan bau kurang sedap.

Di Taman Pendidikan Islam Bagan Deli itu ada sejumlah ruang kelas dan sebidang taman bermain yang cukup luas. Anak-anak bisa leluasa belajar sambil bermain. Kami senang karena mendapat banyak pengalaman, tetapi kadang capek juga karena susah sekali mengatur anak-anak itu, ujar Hanim.

Anak-anak itu masih semau gue. Teriakan-teriakan nyaring mereka tidak pernah putus. Mereka berebut menjadi pusat perhatian. Seperti Ridho tadi. Menurut Tedi, salah seorang relawan Formappera, Ridho sudah tidak memiliki ibu, sedangkan ayahnya lebih sering berada di laut. Tidak ada yang mengawasi tingkah lakunya sehingga ia terbiasa tidak menurut pada orang lain. Bandel, dan suka mencari-cari perhatian.

Kami berusaha perlahan-lahan untuk mendekati mereka, mendengarkan, mengerti kebutuhan mereka, dan memberikannya lewat pelajaran-pelajaran di luar sekolah seperti ini, kata Tedi.

Siang itu, di kelompok kelas III-IV dan V-VI, Tedi menjelaskan tentang sampah dan akibat buruknya. Ia membawa sebuah tas sekolah dan meminta anak- anak itu menebak isinya. Anak- anak berebutan menjawab. Ia kemudian mengeluarkan plastik, kertas koran, dan bekas pembungkus makanan.

Setelah memberi beberapa pengertian tentang sampah dan akibatnya, Tedi meminta anak- anak itu keluar kelas dan memunguti sampah di halaman. Basmi sampah! Basmi sampah! kata mereka penuh semangat.

Kami mencoba menjawab persoalan yang paling dekat dengan kehidupan mereka, yaitu persoalan lingkungan yang tidak sehat. Jaring-jaring yang sudah tidak dipakai merupakan sampah yang sulit terurai. Begitu juga dengan plastik, papar Tedi.

Suatu kali para relawan dan warga sekitar Lorong Proyek dan Lorong Masjid pernah mencoba membersihkan sampah di bawah rumah-rumah penduduk. Ternyata, lumpur di bawah rumah itu dalam sehingga menyulitkan gerak mereka, lalu usaha pembersihan dengan cara itu dihentikan. Anak-anak juga lebih banyak bermain daripada ikut membersihkan sampah.

Dengan pelajaran mengenal lingkungan dan kebersihannya, Tedi melanjutkan, minimal anak-anak itu tahu kebersihan diri lebih dulu. Hampir semua anak nelayan selalu mandi di laut sekitar perahu-perahu ditambatkan. Padahal, air di situ sudah sangat kotor dan tercemar oleh sampah dan buangan bahan bakar sehingga menyebabkan penyakit kulit. Untuk menghilangkan kebiasaan itu tentu saja sulit, apalagi para relawan itu belum memiliki ruang pengganti mandi di laut itu.

Masih ada persoalan menanamkan kesadaran menjaga lingkungan sekitarnya kepada anak-anak itu. Ketika melihat orang dewasa membuang sampah sembarangan, gampang saja bagi anak-anak itu untuk menirunya. Itulah sebabnya kami menyasar anak-anak agar saat dewasa nanti mereka tidak melakukannya, kata Tedi.

Masih ada persoalan pendidikan budi pekerti yang sering kali tidak sempat ditanamkan orangtua di Bagan Deli kepada anak-anaknya. Iswan dari Yayasan Bitra Indonesia mengatakan, dipilihnya Bagan Deli sebagai tempat pendampingan karena persoalan budi pekerti juga menjadi persoalan penting.

Biasanya, setelah nelayan pulang dari melaut, anak- anak itu mencuci perahu. Mereka mendapat upah antara Rp 10.000-Rp 25.000. Bukannya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, uang itu sering kali dipakai untuk bermain judi, tuturnya.

Anak laki-laki juga gemar berkelahi. Dengan mengalihkan energi anak-anak itu untuk belajar di hari Minggu, ia mengharapkan kebiasaan itu bisa dikurangi.

Hari-hari belakangan ini dirasa tepat untuk mengurangi kebiasaan itu karena hampir semua nelayan Bagan Deli tidak melaut karena mahalnya biaya. Selain itu, ikan di perairan Belawan semakin berkurang. Perahu lebih banyak menganggur sehingga anak-anak itu tidak akan mendapat pekerjaan membersihkannya.

Kegiatan belajar di hari Minggu itu disambut baik para orangtua di Lorong Proyek dan Lorong Masjid. Ibu Sumiati mengungkapkan kegembiraan dan dukungannya terhadap kegiatan itu. Kedatangan mahasiswa-mahasiswa itu sangat membantu karena kami tidak punya banyak waktu untuk memerhatikan dan mengajari mereka, katanya.

Wujud kepedulian

Hal senada diungkapkan Kusnadi dan Iwan, dua nelayan kepiting di Bagan Deli. Sekarang kebutuhan makin banyak. Hasil melaut tiga hari tiga malam tak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Untuk makan sehari- hari saja tak cukup, apalagi memikirkan pendidikan anak- anak, kata Iwan. Jika sudah lebih besar, anak-anak itu ikut melaut bersama ayah mereka.

Para ayah disibukkan dengan bagaimana agar dapur tetap mengepul, sedangkan para ibu sibuk dengan bagaimana agar uang yang dihasilkan dari melaut cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Dengan adanya sekolah bersama para relawan itu, mereka bisa menyerahkan urusan pendidikan kepada mereka.

Di samping itu, para mahasiswa sendiri bisa menerapkan butir ketiga Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat, yang saat ini semakin terlupakan. Mahasiswa sekarang makin berjarak dengan rakyat. Minimal dengan kegiatan seperti ini mereka bisa membuktikan kepedulian mereka kepada masyarakat, kata Iswan.

Sayangnya, ruang kelas yang dipakai saat ini justru mengulang suasana formal yang sehari-hari dihadapi anak-anak itu. Iswan menuturkan, ke depan akan diupayakan untuk mendekatkan anak-anak itu ke lingkungan yang dipelajarinya. Dengan demikian tidak ada lagi jarak antara anak-anak itu dengan lingkungannya. Mereka bisa melihat langsung dan mulai berpikir apa yang bisa mereka lakukan bagi tempat tinggalnya.

Setidaknya, anak-anak itu menjadi terbiasa mencuci tangan setelah bermain di luar, mengurangi mandi di air laut yang kotor, menyalami orangtua setelah pulang sekolah, membuang sampah pada tempatnya, mengurangi berkelahi dengan teman, dan tetap bergembira di tengah kesusahan yang semakin mengimpit. Segembira lagu milik kelompok musik Ratu yang mereka nyanyikan bersama di ruang kelas dengan nyaring. Kita berteman saja, teman tapi mesraaaa…

Kompas, 09 Maret 2006 Francisca Romana Ninik

Search

Arsip

Desa Penerap SID di Sumut

https://www.youtube.com/watch?v=Yg5mzpjmOrI

Data Kelompok

Kab/Kota Lk Pr Jlh Jlh Kel
Langkat 173 142 315 12
Binjai 26 31 57 3
Deli Serdang 783 766 1549 31
Serdang Bedagai 815 620 1435 49
Tebing Tinggi 36 126 162 5
Batu Bara 26 170 196 5
Lab Batu Uatara 490 306 796 2
Jumlah 2349 2161 4510 107