Jakarta, WASPADA Online
Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, pemerintah prihatin melihat kenyataan banyaknya pelajar yang tidak lulus pada tahun 2005 ini setelah pemerintah menetapkan tidak ada lagi nilai konversi untuk kelulusan tahun 2005. “Pemerintah prihatin atas hasil itu, tapi itulah kenyataan yang harus kita hadapi,” kata Wapres Jusuf Kalla saat konferensi pers seusai shalat Jumat di Istana Wapres, Jakarta Jumat (1/7). Menurut Wapres, sebenarnya hal itu sudah diketahui sejak dulu, namun selama ini masih terus ditutup-tutupi dengan berbagai cara termasuk dengan melakukan konversi atau sistem katrol. “Memang kualitas pendidikan kita rendah, kita sadari itu, cuma kita memolesnya dengan berbagai macam cara,” katanya.
Tahun 2003, tambahnya pemerintah telah menetapkan angka kelulusan bagi pelajar adalah 3,5. Sedangkan pada tahun 2004 pemerintah menetapkan angka kelulusan 4,1. “Angka 4,1 itu masih rendah, tapi tahun 2004 itu pun masih dikonversi karena masih takut, tahun ini (2005) tidak ada konversi lagi,” kata Wapres dengan nada tingi.
Menurut Kalla, hal itu dilakukan pemerintah untuk mengetahui dengan benar di mana daerah-daerah yang tingkat pendidikannya rendah sehingga harus diangkat dengan diberikan perhatian dan diberikan dana yang lebih besar. “Suatu bangsa ingin maju hanya bisa apabila mengetahui keadaan yang sebenarnya. Apabila selama ini hanya dipoles-poles angkanya maka kita tidak akan maju,” kata Wapres. Menurut Jusuf Kalla keputusan pemerintah menetapkan tidak ada nilai konversi bukan bermaksud untuk menyusahkan murid tetapi, pemerintah ingin memaksa murid untuk belajar lebih keras. (ant)