TC Kebun Polikultur (TCSS)

TC PPPT Mangga Dua

Info Desa

Partners

Past Supporting Partners & Experience

Majalah/Newsletter

Hasil Riset

Flag Counter

Rantai Wirausaha Masyarakat Desa di Serdang Bedagai

23/03/2010

 

Opak

Jika berkesempatan melawat ke Sumatera Utara dan Anda punya kesempatan pula menelusuri jalan darat mejunu kota kecil Tebing Tinggi dari kota Medan, Anda akan melintasi sebuah tempat wisata kuliner yang sangat menarik pemandangan mata dan menggugah hasrat untuk menjamah makanan ringan yang dipajang di sisi kiri dan kanan jalan Pasar Bengkel (berjarak lebih kurang 30 KM dari kota Medan ke arah Tenggara), Setelah melewati kota kecil Perbaungan. Berbagai aneka makanan ringan dan oleh-oleh terpajang di kios-kios yang ada di sepanjang jalan Pasar Bengkel. Aneka jajanan dan oleh-oleh tersebut sebahagian besar terbuat dari ubi kayu (secara nasional biasa disebut singkong).

Aneka jajanan tersebut antara lain: keripik ubi, rengginang, mie yeye, opak, keripik pedas, keripik ubi rambat/ubi jalar, dan berbagai macam jajanan lain, sebahagian khas dari daerah setempat dan sebahagian lain adalah jajanan umum, namun tetap buatan asli pengrajin setempat.

 

 

DodolJajanan yang sangat terkenal dan menjadi semacam trade mark, sudah terharum namanya di se-antero Sumatera Utara dari Pasar bengkel ini adalah Dodol Pasar Bengkel yang terbuat dari ketan (atau istilah setempat dikenal dengan beras pulut). Dodol pasar bengkel terdiri dari berbagai rasa, ada rasa original, nanas, durian, pandan dan lainya.

 

Profil Pasar Bengkel

Pasar Bengkel sudah ada sejak tahun 1973, terletak di kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), daerah kabupaten yang baru dimekarkan pada tahun 2003 lalu dari kabupaten Deli Serdang ini merupakan pasar yang sangat dikenal oleh penduduk Sumatera Utara karena berbagai pelancong yang melewati pasar ini selalu singgah untuk membeli sekedar jajanan atau oleh-oleh untuk keluarga. Bahkan ketenaran Pasar Bengkel (yang notabene hanya sebuah desa di pinggir jalan lintas Sumatera) ini, mengalahkan ketenaran kota Sei Rampah, sebagai ibu kota kabupaten Serdang Bedagai.

KiosTidak kurang dari 99 pedagang dengan menggunakan kios kecil di pinggir kanan kiri jalan menyemarakkan Pasar Bengkel dengan dagangan hampir sejenis, artinya semua jenis dagangan (seperti yang disebut diatas) yang ada pada satu kios hampir dipastikan ada di kios lain. Karena Pasar Bengkel merupakan pusat jajanan dan oleh-oleh.

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh BITRA Indonesia dengan topik “Studi Terhadap Kebijakan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Kabupaten Serdang Bedagai dan Aplikasinya pada Unit Usaha Kerajinan Masyarakat Pasar Bengkel, Kecamatan Perbaungan”, pada Oktober 2005, terhadap 99 responden (semua pedagang Pasar Bengkel), didapatkan hasil seperti dalam tabel:

Transaksi Penjualan Pedagang Per-Hari:

No

Rentang Penjualan dalam Rupiah

Persentase (%)

1

Rp 0 sampai Rp 100,000,-

39,4%

2

Rp 101,000 sampai Rp 500,000,-

49,5%

3

Di atas Rp 500,000,-

11,1%

Jika diambil garis tengah rata-rata transaksi penjualan Rp 500,000,- dikalikan dengan jumlah 99 pedagang maka diperoleh angka uang yang berputar di sekitar Pasar Bengkel Rp 49,500,000,- per-hari. Angka yang lumayan fantastis bagi kewirausahaan rumahan.

Tidak heran jika pada pertengahan tahun 1990-an Pemerintah Deli Serdang mendirikan Pusat Promosi Industri dan Pariwisata Kabupaten Deli Serdang (saat itu wilayah ini belum mekar menjadi kabupaten Serdang Bedagai) di lokasi Pasar Bengkel ini. Namun sangat disayangkan, lembaga yang bertujuan sangat bagus dan didirikan dengan dana milyaran rupiah ini kini tidak berfungsi.

Multiply effect yang ditimbulkan dengan keberadaan Pasar Bengkel ini adalah, kini banyak bermunculan bus angkutan antar kota, antar kabupaten, bahkan antar propinsi di pulau Sumatera yang menjadikan Pasar Bengkel sebagai tenpat rehat (pemberhentian untuk istirahat). Hal ini terjadi awalnya karena setiap penumpang bus selalu memohon pada pak sopir untuk berhenti sejenak ketika bus melintas di Pasar Bengkel, para penumpang ingin membeli jajanan untuk sekedar dimakan dalam perjalanan atau oleh-oleh untuk dibawa pulang.

Ratusan jenis makanan kuliner tersedia di Pasar Bengkel baik yang siap santap maupun yang masih butuh pengolahan lagi. Terserah kepada pengunjung. Apakah mau membeli yang langsung bisa dimakan, atau diolah lagi dengan dimasak di rumah. Tidak kurang dari 5 perusahaan angkutan yang kini menjadikan Pasar Bengkel sebagai tempat rehat sekitar 1 jam atau 30 menit saja. Kesan yang muncul terhadap Pasar Bengkel kini menjadi pusat jajanan perjalanan dan wisata kuliner khusus untuk jajajan atau makanan ringan.

 

Bahan Baku

Untuk membuat berbagai macam kerajinan panganan ini tertunya perlu pasokan yang cukup besar. Bahan baku berupa ketan (beras pulut), kelapa dan gula merah (gula aren) untuk pembuatan dodol. Ubi kayu (singkong), ubi jalar untuk pembuatan berbagai macam keripik dan panganan lain yang diolah dari ubi-ubian dan pisang untuk keripik pisang. Dari mana asalnya?

Kabupaten Serdang Bedagai dengan luas wilayah 1,900,22 KM persegi, yang terdiri dari 17 kecamatan dan 243 desa dengan jumlah penduduk 588,263 jiwa, merupakan wilayah pertanian yang cukup baik dengan potensi sumber daya lahan sawah 40,613 Ha dan potensi lahan kering 46,852 Ha. Jumlah produksi dihitung pada akhir tahun 2006, untuk padi dan ketan (beras pulut) mencapai 188,972 ton per-tahun, hasil panen dari wilayah Kecamatan Pantai Cermin, Perbaungan, Teluk Mengkudu, Tanjung Beringin, Sei Rampah, Bandar Khalifah, Tebing Tinggi, Dolok Masihul dan Kotarih. Ubi kayu (singkong) 74,839 ton per-tahun, hasil panen dari wilayah Kecamatan Pegajahan, Sei Rampah, Perbaungan, Dolok Masihul, Tebing Tinggi dan Dolok Merawan. Pisang 4,836 ton per-tahun, hasil panen dari wilayah Kecamatan Sipispis, Dolok Merawan, Pantai Cermin dan Sei Rampah. Kelapa 701,72 ton per-tahun. Masih banyak jenis tanaman pangan yang dihasilkan oleh Kabupaten ini, namun karena tidak terlalu terkait dengan tulisan ini, tidak perlu kita sebutkan. Daerah ini memang dikenal sebagai salah satu daerah lumbung tanaman pangan di Sumatera Utara.

Sebahagian dari hasil bumi Serdang Bedagai tersebut diutamakan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat lokal kabupaten, sementara sebahagian lain sisanya (surplus produk seperti beras surplus/swasembada beras 113.701 ton) dipasarkan ke wilayah sekitar seperti kota Medan, kabupaten Deli Serdang, kota Tebing Tinggi, kabupaten Simalungun, kota Pematang Siantar Dll.

 

Panganan dari Ubi Kayu (Singkong)

Sentra tanaman ubi kayu (singkong) di daerah Serdang Bedagai terdapat di berbagai kecamatan, seperti disebut di atas. Budaya menanam ubi kayu merupakan budaya yang telah biasa dilakukan masyarakat di sini karena besarnya serapan pasar untuk berbagai produk besar maupun produk rumahan yang berbahan baku ubi. Berbagai pusat pengelolaan ubi seperti pabrik-pabrik pembuat tepung tapioka untuk berbagai macan makanan sampai industri rumahan yang terletak di desa Pegajahan, kecamatan Pegajahan, di mana hampir setiap rumah di desa ini melakukan pengerjaan produksi berbagai makanan jajanan yang terbuat dari ubi.

Tanaman ubi biasanya ditanam masyarakat dengan kebun khusus, dengan menyediakan lahan khusus untuk kebun ubi dalam satu hamparan yang cukup luas (bisa mencapai 1 sampai 2 Ha) atau hanya sekedar tanaman pekarangan di sekeliling rumah tinggal di kampung mereka. Tanaman ini juga tidak perlu perawatan khusus kecuali untuk mengatasi gulma seperti ilalang. Tanaman ubi juga tidak diberikan asupan kimia dari luar (tidak perlu dipupuk kimia dan semprotan pestisida) biasanya masyarakat mengatasi gulma dengan menggaruknya dan membiarkan gulma membusuk di bawah pohon ubi sampai menjadi pupuk alami. Ada  juga petani yang memadukan dengan ternak kambing dan lembu yang ditempatkan di sekitar rumahnya lalu kotoran diangkut untuk memupuk kebun ubi. Ternak tidak dapat disatukan langsung dengan perkebunan ubi, karena jika ternak langsung ditempatkan di kebun ubi maka pohon ubi muda akan habis disantap oleh kambing atau lembu, akibatnya pohon ubi akan rusak.

 

Desa Penggajahan

Desa Penggajahan sebagai sentra kerajinan rumahan makanan ringan jajanan juga tidak kalah penting dan terkenal di sekitar beberapa daerah kabupaten di Sumatera Utara, khususnya bagi penduduk kota Medan. Desa Penggajahan yang alamnya masih sangat asri selalu didatangai oleh kalangan masyarakat pedagang jajanan makanan ringan dari berbagai penjuru yang ada di Sumatera Utara, karena selain ingin mengakses langsung berbagai jenis bahan makanan ringan setengah jadi dari ubi, belakangan sebahagian masyarakat juga datang untuk melihat langsung proses dan aktivitas sentra pembuatan makanan ringan ini dan sebahagian lain masyarakat yang datang untuk berwisata.

Selain melihat alam yang masih asri, melihat langsung proses aktivitas pembauatan makanan ringan masyarakat pengunjung juga biasanya akan mendatangi lingkungan Kampung Bali di Penggajahan. Kampung Bali merupakan kampung yang berpenghuni orang-orang berasal dari Bali.

Menurut ceritanya warga Bali yang tinggal di Sergai. Sejarah orang Bali bisa sampai ke Kampung Bali, bermula dari para buruh kontrak yang didatangkan langsung dari Pulau Bali oleh perusahaan perkebunan PTPN IV Adolina sekitar tahun 1962. saat itu ada sekitar 53 KK atau lebih kurang 200 jiwa yang bermukim di Desa Pegajahan. Komunitas ini hidup berdampingan dengan sejumlah buruh perkebunan lainnya yang memang berasal dari bermacam-macam etnis. Ada Jawa, Kalimantan, Simalungun, Tapanuli dan Melayu.

Walau jauh dari kampung halaman, namun komunitas ini tetap mempertahankan adat istiadat dan keyakinan mereka. Sekitar tahun 1989, didirikan sebuah pura di dusun II-B, Pegajahan. Pembangunan pura ini dibantu oleh sejumlah warga Bali yang tersebar di beberapa wilayah Sumut.

Pura yang diberi nama Pura Penataran Dharmaraksaka ini sendiri ramai dikunjungi setidaknya dua kali sebulan oleh umat Hindu Bali untuk beribadah pada waktu purnama dan Tilem (bulan gelap). Upacara ini dipimpin oleh Pandita Wayan Gio. Karena komunitasnya yang kecil membuat warga Bali ini memiliki rasa kekeluargaan yang kental dengan saling mengunjungi warga Bali lainnya diluar wilayah Kabupaten Sergai. “Sementara orang dengan kepentingan wisata (wisatawan lokal) yang berkunjung ke Kampung Bali di Pegajahan selalu saja ada, sengaja mendatangi pura untuk melihat-lihat atau sekedar ingin merasakan berada di Pulau Bali”, kata Nengah, penduduk setempat.

Meskipun sekitar 90 % penduduk desa Penggajahan merupakan pengrajin makanan ringan dari ubi, namun tidak semua bahan baku ubi berasal dari desa ini. 62 persen ubi yang mereka olah berasal dari desa lain, hanya lebih kurang 38 persen bahan baku yang dapat dipenuhi desanya sendiri. Ini merupakan simbiosis mutualisme dari proses pengelolaan kerajinan makanan ringan berbahan baku ubi. Satu sisi bahan baku yang tersedia di desanya dapat dikelola dengan maksimal dan bahan baku ubi dari desa lain juga dapat terserap antar petani dan pengrajin industri rumahan makanan ringan. Disisi lainnya pula pasar tersedia (dalam hal ini Pasar Bengkel), sebagai tempat pemasaran hasil industri kerajinan rumahan yang diproduksi oleh warga desa Pegajahan. Pasar Bengkel juga bagian dari kesatuan komunitas masayarakat desa berbasis pertanian.

Simbiosis mutualisme yang terjadi antara petani ubi, pengrajin makanan ringan di desa Pegajahan dan pedagang di Pasar Bengkel merupakan suatu sistem yang inisiatifnya dibangun oleh masyarakat lokal secara bersama dengan keseimbangan yang cukup ideal dalam menuju kesejahteraan bersama. Hal ini sangat sesuai dengan amanat prinsif-prinsif pemberdayaan ekonomi rakyat yang disebutkan dalam TAP MPR-RI No. XVI/MPR/1998. Di mana dalam poin C disebutkan bahwa; Tidak boleh dan harus ditiadakan penumpukan asset dan pemusatan kekuatan ekonomi pada seseorang, sekelompok orang atau perusahaan yang tidak sesuai dengan prinsif keadilan dan pemerataan. Iswan Kaputra (R&D – ICT BITRA Indonesia).

Search

Arsip

Desa Penerap SID di Sumut

Data Kelompok

Kab/Kota Lk Pr Jlh Jlh Kel
Langkat 173 142 315 12
Binjai 26 31 57 3
Deli Serdang 783 766 1549 31
Serdang Bedagai 815 620 1435 49
Tebing Tinggi 36 126 162 5
Batu Bara 26 170 196 5
Lab Batu Uatara 490 306 796 2
Jumlah 2349 2161 4510 107