Sejak dua bulan terakhir banyaknya masyarakat Stabat Lama, Kec. Wampu, Kab. Langkat, Sumatera Utara yang terkena penyakit tipus dan demam berdarah (DB). Hal ini telah membuat khawatir dan cemas sebagian besar masyarakat. Masyarakat menilai instansi terkait kurang perhatian, terutama Puskesmas.
“Saya telah berulang kali melaporkan hal ini ke pihak Puskesmas, agar dilakukan pembasmian dan pencegahan wabah penyakit ini. Namun belum mendapatkan respon yang cepat,” kata Kepala Desa Stabat Lama, M. Rasid pada Jurnalis Warga beberapa waktu lalu.
“Di dusun Sudirejo, dimana Puskesmas berada justru paling banyak warga yang terkena wabah penyakit ini!” kata Wak Boimen, warga dusun Sidorejo, Stabat Lama.
“Salah satu penyebab mewabahnya penyakit ini, khususnya penyakit tipus, akibat banyaknya warga atau pihak yang ditunjuk untuk menyiram jalanan yang berdebu, menyiram dengan menggunakan air limbah rumah tangga yang dibuang ke selokan di pinggir jalan. Ketika ada seseorang yang menderita sakit tipus buang air kecil yang akhirnya mengalir ke selokan, air tersebut digunakan untuk menyiram jalan agar basah dan debu tidak beterbangan. Dengan begitu maka kuman penyakit tipus akan ikut beterbangan terbawa debu, sehingga penyakit tipus menyebar ke lingkungan masyarakat. Penyakit tipus akan keluar dari tubuh penderita melalui air seni (urine). Itulah penyebaran paling efektif untuk wabah tipus.” Kata Ibu S.R. Siregar, mantan laboring Rumah Sakit Umum, Tanjung Pura yang juga warga Desa Stabat Lama.
“Kami selama ini lebih banyak berobat ke petugas medis baik bidan maupun mantri yang ada di desa,” menurut pengakuan Pak Edi yang anaknya terkena DB, “mereka lebih percaya berobat ke petugas medis non Puskesmas karena akan lebih cepat diobati dan adanya arahan rujukan jika petugas medis ini sudah tidak mampu mengobati. Jika dibawa ke klinik swasta pasti akan lebih mahal lagi setidaknya akan menghabiskan biaya sekitar 3 juta rupiah lebih, katanya.
Bagi masyarakat kecil tentunya biaya tersebut sangat memberatkan, menurut warga penggunaan kartu BPJS masih belum mampu memberikan pelayanan yang memuaskan, “biasanya pengguna kartu BPJS akan dilayani lebih lambat dibanding menggunakan biaya sendiri. Sedemikian parahnya wabah penyakit ini, hingga telah merenggut korban jiwa seorang ibu muda di Stabat Lama.” Tambah Pak Edi.
Warga sangat mengharapkan adanya upaya untuk membasmi nyamuk aedes aegypti untuk membunuh nyamuk penular penyakit DBD dan penyiraman abu jalanan dengan menggunakan air yang lebih bersih dan pengasapan (fogging). Masyarakat meharapkan perhatian pemerintah untuk bertindak secepatnya agar wabah dapat segera dihentikan (ed:isw). Penulis: Irsan Halomoan, Jurnalis Warga di Stabat Lama, Langkat.
Ilustrasi: http://www.kaskus.co.id