TC Kebun Polikultur (TCSS)

TC PPPT Mangga Dua

Info Desa

Partners

Past Supporting Partners & Experience

Majalah/Newsletter

Hasil Riset

Flag Counter

Semua Berkewajiban dalam Konservasi DAS

23/02/2015 , , ,

Dialog-DAS-Suara-Perjuangan-FMDalam melakukan upaya konservasi daerah aliran sungai (DAS), sebelumnya kita harus merubah mindset masyarakat terhadap DAS tersebut. DAS bukan bantaran sungai saja. DAS merupakan ekosistem yang sangat besar, suatu wilayah yang luasnya dibatasi oleh punggung-punggung bukit, ada anak sungai, sungai besar, sampai ke muara. Dari hulu, tengah, sampai hilirnya harus dikelola secara baik. Oleh sebab itu, penanganan dan pengelolaan DAS tidak boleh secara parsial saja, harus multifungsi. Seluruh stakeholder dan berbagai elemen masyarakat harus melakukan konservasi DAS ini secara bergotong royong, bersama-sama. Jadilah, pengelolaan DAS terpadu, namanya.

Ahmad Syofian, Kepala Badan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BP-DAS) Ular-Wampu Provinsi Sumatera Utara, mengungkapkan hal itu dalam dialog interaktif live radio Suara Perjuangan, Stabat yang diselenggarakan oleh BITRA Indonesia, Selasa (17/2), lalu. Turut pula sebagai narasumber Prof. Dr. Ir. Abdul Rauf, MP dari Ketua Forum DAS Sumut yang juga merupakan akademisi Universitas Sumatera Utara (USU). Dialog yang dipandu Iswan Kaputra dari BITRA Indonesia ini sengaja mengangkat tema “Konservasi DAS Wampu”, mengingat masih minimnya informasi yang diterima masyarakat tentang DAS sekaligus merespons kondisi DAS-DAS yang ada di Sumatera Utara, termasuk DAS Wampu.

Menurut Iswan, dari 458 DAS yang ada di seluruh Indonesia, ada sebanyak 222 DAS kritis, dan 176 berpotensi sangat kritis. “Di Sumatera Utara saja, dari catatan BITRA Indonesia selama 6 tahun belakangan ini kondisi kritis DAS juga telah terjadi di berbagai kawasan, seperti DAS Wampu, DAS Deli, dan DAS Ular serta sub-sub DAS-nya,” katanya.

Prof. Rauf mengatakan, pengelolaan DAS meliputi peran berbagai wilayah. Sebab yang harus melakukan pengelolaan DAS adalah semua orang yang ada dalam DAS. “DAS ini rumah raksasa alam kita, jadi harus dikelola secara bersama. Manusia bagian dari komponen DAS, jadi semua orang harus berperan aktif. Dan konservasi pun tidak selalu hanya dengan menanam pohon. Misalnya air yang jatuh (hujan) ditangkap melalui biopori atau sumur resapan. Air yang berlimpah ruah harus kita panen atau sistem water harvest,” jelasnya.

Kenapa pembicaraan DAS sangat penting, lanjut Prof Rauf, karena Indonesia memiliki curah hujan yang cukup tinggi. “Sementara air adalah sesuatu yang perlu diselamatkan. Kalau sesuai dengan porsinya, maka selamatlah DAS itu. Menyelamatkan DAS itu adalah dengan menciptakan tata air itu sesuai porsinya. Itu yang dinamakan dengan siklus air bumi yang sempurna. Ini merupakan tanda bahwa DAS baik, tidak rusak! Jadi kalau ada hujan, air masuk dulu ke tanah, tidak langsung ke sungai. Siklus air tadi harus terbentuk,” paparnya.

3 Faktor Penyebab Kerusakan DAS & 3 Kebijakan Pengelolaan

Prof. Rauf menambahkan, setidaknya ada 3 faktor utama yang menyebabkan kerusakan DAS. Pertama; faktor iklim, yaitu curah hujan yang tinggi. Kedua; faktor geomorfologi, artinya daerah itu memang daerah yang rawan DASnya rusak. Ketiga, faktor tingkah polah dan kehidupan manusia, ini faktor yang sebenarnya yang paling tinggi menyebabkan kerusakan DAS. “Indikator kerusakan DAS dapat dilihat dari terjadinya banjir di sungai akibat hujan, air sungai yang tercemar, atau tidak jernih,” jelasnya.

Menyikapi kerusakan DAS ini, Syofian menegaskan, BP-DAS sebagai badan regulator dan motivator memang bersifat memberikan penyuluhan kepada masyarakat. “Tapi untuk itu, juga ada 3 kebijakan dalam mengelola DAS, yaitu jangka pendek, menengah, dan panjang. Mulai dari membuat mitigasi banjir, penanaman pohon, membuat sumur resapan dan biopori, sampai bagaimana meminimalisir erosi. Itu semua memang harus ada kerjasama dari berbagai pihak. Tidak bisa dilakukan Dinas Kehutanan sendiri. Kita harus menyeluruh melakukan pengelolaan DAS. Makanya, kita akan roadshow ke beberapa stakeholder dan kepala pemerintahan bagaimana mengelola DAS itu secara terintegrasi. Jadi, tidak bisa dikerjakan satu kabupaten saja. Untuk DAS Wampu dan Ular misalnya, pemerintah yang dilalui aliran atau bahkan dari punggung bukit yang satu ke punggung bukit yang lain, seperti Langkat, Deli Serdang, Binjai, Sergai, Simalungun, dan Karo harus bekerjasama,” jelasnya.

Selain itu, Syofian menambahkan, BP-DAS Wampu-Ular saat ini juga sudah membentuk ratusan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) serta Kebun Bibit Rakyat (KBR) untuk memotivasi partisipasi masyarakat dalam konservasi dan pengelolaan DAS. Salah satu kegiatannya, yaitu dengan membagikan bibit pohon kepada masyarakat untuk ditanam di sekitar bantaran sungai, seperti bibit karet, mahoni, trembesi, petai, jengkol, dan nangka. Bibit-bibit ini sengaja dipilih karena bermanfaat secara lingkungan untuk konservasi maupun ekonomi, yang hasilnya dapat dimanfaatkan masyarakat sekitar. Karena dalam upaya konservasi DAS, selain manfaat lingkungan, manfaat ekonominya juga harus ada. “Khusus untuk membentengi bantaran sungai dari erosi, sebenarnya pohon Jantan, Beringin Air, Jabi-jabi dan pohon Matoa Batak (pohon endemik Sumatera Utara) sangat bagus,” paparnya. (jc)

Search

Arsip

Desa Penerap SID di Sumut

https://www.youtube.com/watch?v=Yg5mzpjmOrI

Data Kelompok

Kab/Kota Lk Pr Jlh Jlh Kel
Langkat 173 142 315 12
Binjai 26 31 57 3
Deli Serdang 783 766 1549 31
Serdang Bedagai 815 620 1435 49
Tebing Tinggi 36 126 162 5
Batu Bara 26 170 196 5
Lab Batu Uatara 490 306 796 2
Jumlah 2349 2161 4510 107