TC Kebun Polikultur (TCSS)

TC PPPT Mangga Dua

Info Desa

Partners

Past Supporting Partners & Experience

Majalah/Newsletter

Hasil Riset

Flag Counter

Perdagangan yang Adil untuk Kualitas dan Pendapatan Petani

10/08/2011

Diskusi Multi Pihak | Perdagangan Yang Adil
Sejak pukul 10 pagi, para petani laki-laki dan perempuan sudah berdatangan dan saling bercengkrama melewati jembatan gantung yang bawahnya dialiri oleh air bening di sela-sela bebatuan besar sungai Petani. Udara sejuk kala itu, menambah semangat bagi para petani untuk mempertarungkan ide dan gagasannya dalam satu perhelatan diskusi multi pihak pada Akhir Juli 2011 ini.

Desa Sayum Sabah, sebuah tempat yang berada di kawasan administratif Kecamatan Namorambe, Kabupaten Deli Serdang ini memiliki penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani dengan kebun tanaman campuran dengan maksimalisasi komoditi kakao. Sebagian penduduk lain ada juga yang bertani palawija dan padi. Di desa inilah, tepatnya di Training Center Sayum Sabah (TCSS), diskusi multi pihak para petani diselenggarakan.

Acara diskusi dimulai dengan limpahan pertanyaan dari sang fasilitator, Job R. Purba  (Pembina BITRA Indonesia), pria yang sengaja diundang menjadi pemateri ini bertanya kepada peserta seputar perdagangan adil yang juga menjadi topik diskusi pada hari itu.

“Barangya tidak pernah kena standar sesuai standar dan kualitasnya dianggap tidak baik oleh pedagang,” menurut salah seorang peserta yang berasal dari daerah Serdang Bedagai. Lain lagi jawaban dari Pak Purba, salah seorang petani kakao. “Kami produsen tidak bisa menentukan harga, terlebih lagi dengan pembeli yang berstatus ‘langganan’, ujar pria yang berdomisili di desa Sayum Sabah ini.

Selanjutnya, kegiatan berdiskusi dengan fasilitator Job kepada peserta untuk menuliskan hal-hal apa saya yang menjadi target dalam kegiatan berdagang. Karena berdagang tanpa target atau tujuan sama saja omong kosong. Bila tidak, maka resiko yang akan diterima berupa kegagalan berupa kebangkrutan atau perekonomian bakal sulit karena utang kian lama bakal menghimpit.

Para petani ini memang sengaja diajak berwacana soal perdagangan, bukan karena ingin merubah profesi para petani untuk jadi pedagang… Kelompok petani dari beberapa kabupaten di Sumatera Utara ini memang punya kelompok usaha bersama pemasaran hasil/produksi pertanian organik mereka. Perdagangan yang adil (fair trade) adalah pilihan yang sangat tepat menurut petani, agar para pihak yang terlibat dalam rantai perdagangan hasil pertanian tersebut saling diuntungkan dengan adil.

“Nah, dari beberapa tanggapan dari kawan-kawan peserta, maka kita bisa menarik kesimpulan bahwasanya unsur utama yang berkaitan dengan pemasaran dagang hasil tani adalah produksi, harga, jaringan pemasaran, keuntungan, kesejahteraan, dan mendapatkan kualitas yang baik,” ujar Job Purba.

“Kita mengajak kawan-kawan semua disini untuk bersama-sama menemuka dan berdiskusi guna meningkatkan hasil produksi serta mendapatkan hasil atau keuntungan yang banyak,” tambah pria yang termasuk ‘expert’ untuk bidang mikro kredit serta pemasaran hasil produksi pertanian.

Peserta diajak untuk interaktif  dengan tanya jawab yang diajukan oleh Job. Kali ini, mereka membahas mengenai apa itu keuntungan dan bagaimana meraihnya. Muncullah pernyataan, “KEUNTUNGAN = PENDAPATAN > MODAL BIAYA.” Ini diartikan dengan makna bahwasanya keuntungan itu merupakan hasil dari pendapatan atau hasil penjualan produksi yang jumlanya lebih besar dari modal biaya yang dikeluarkan dalam produksi.

Lalu, Job mengajak peserta untuk sama-sama merumuskan poin-poin penting guna meningkatkan pendapatan dari hasil jual. Dari hasil silang pendapat dan curah wawasan, didapat kalau harga, mutu, dan produksi mempengaruhi pendapatan yang didapat dalam romantika dagang atau jual beli. Selesai proses perumusan poin penting, maka fasilitator meminta peserta untuk mendiskusikan ketiga hal tersebut dalam 4 kelompok. “Saya membagi kawan-kawan peserta dalam 4 kelompok untuk membahas, harga, mutu, produksi, dan tambahan satu lagi, bagaimana mengelola modal yang baik. Setelah didiskusikan, maka kita akan sama-sama melihat hasilnya dipresentasikan dan akan kita sama-sama diskusikan juga,” jelas Job.

Diskusi berlangsung dengan baik. Masing-masing kelompok saling mencurahkan ide untuk sama-sama bisa melengkapi kepingan ‘puzzle’ yang terpisah. Dibantu oleh rekan-rekan dari BITRA suasana menjadi atraktif dan terlihat menyenangkan.

Usai diskusi, Job menguraikan mengenai perdagangan yang adil (fair trade) yang merupakan konsep yang cukup berlawanan dengan free trade (perdagangan bebas) yang akan  sangat merugikan petani. “Fair trade juga merupakan sistem berdagang yang membantu produsen marginal dan kecil serta para pekerja untuk membebaskan diri mereka dari kemiskiskinan serta membantu mereka memenuhi kebutuhan mereka sendiri,” ungkap Job yang menjelaskan mengenai maksud dari perdagangan yang adil itu.

Setelah membicarakan mengenai perdagangan yang adil, presentasi kelompok dilakukan guna mengetahui hasil tukar pendapat dari masing-masing kelompok. Diwakili oleh satu orang, semua peserta memberikan curahan ide terbaiknya, memperbaiki yang kurang benar, dan menambahkan agar menjadi lebih baik, terutama dalam hal peningkatan kualitas produk, agar nantinya dapat bersaing dengan produk unggulan petani lain dan memperbesar pendapatan, dan keuntungan maksimal sesuai yang diharapkan. (andi/isw)

Search

Arsip

Desa Penerap SID di Sumut

Data Kelompok

Kab/Kota Lk Pr Jlh Jlh Kel
Langkat 173 142 315 12
Binjai 26 31 57 3
Deli Serdang 783 766 1549 31
Serdang Bedagai 815 620 1435 49
Tebing Tinggi 36 126 162 5
Batu Bara 26 170 196 5
Lab Batu Uatara 490 306 796 2
Jumlah 2349 2161 4510 107