Rp 4,5 Miliar untuk Beli Gabah
Kepala Bulog Divre I Sumbagut, Heru Priyono menegaskan, sampai akhir tahun 2006 stok beras yang ada di Gudang Bulog Divre I Sumbagut cukup untuk memenuhi kebutuhan, bahkan diperkirakan surplus hingga 22.000 ton.
Musibah kekeringan di Jawa dipastikan tidak akan mempengaruhi distribusi beras, baik untuk masyarakat miskin maupaun kebutuhan lainnya oleh Bulog,” ujarnya kepada wartawan, di sela-sela Rapat Koordinasi Ketahanan Pangan, di Gedung Binagraha, Jalan Diponegoro Medan, Kamis (20/7).
Menurut Heru, stok beras di Gudang Bulog Divre I Sumbagut saat ini mencapai 40.000 ton ternasuk yang sedang dibongkar muat di Belawan sebanyak 10.000 ton. Selain itu, ada lagi kapal sedang muat di Jatim sebanyak 10.000 ton.
Cadangan ini, lanjutnya, masih ditambah lagi dengan rencana mendatangkan beras dari Jatim yang akan mengisi gudang di Sibolga sebanyak 5.000 ton, sehingga total cadangan lebih dari 55.000 ton. Sementara, penyaluran beras untuk masyarakat miskin (raskin) hingga akhir tahun tinggal 33.000 ton lagi. Artinya, masih akan ada cadangan hingga akhir tahun sebanyak 22.000 ton.
Heru menambahkan, dengan cadangan darurat sebanyak 22.000 ton ini pihaknya tidak khawatir kekeringan akan mengganggu stok beras di Sumut. Untuk diketahui, seluruh cadangan beras Bulog Sumut didatangkan dari Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Ia menjelaskan, hingga Juli 2006 pihaknya memperkirakan sudah bisa menyalurkan raskin untuk tiga kali putaran dengan plafon sebanyak 33. 000 ton. Sementara berdasarkan SK Gubsu, raskin untuk rumah tangga miskin (RTM) ini dilakukan enam kali putaran dengan penyaluran antara 8.000-10.000 ton tiap satu kali putaran.
Dalam kesempatan itu, Heru juga mengakui lambatnya realisasi raskin di Sumut. Namun, untuk melakukan percepatan realisasi raskin pihaknya telah melakukan rapat dengan pihak Pempropsu dengan target realisasi mencapai 50% hingga akhir Juli.
Berkenaan dengan stok beras ia mengatakan, dengan cadangan yang ada sekarang, tanpa adanya kiriman lagi, kebutuhan raskin sudah bisa dipenuhi.
Apalagi panyaluran untuk kebutuhan selain raskin juga relatif kecil. Misalnya alokasi untuk musibah sangat kecil, sedangkan beras yang dialokasikan sebagai dampak dari gejolak harga sampai saat ini masih nihil.
Hingga pertengahan Juli tahun ini, Bulog belum juga melakukan pembelian gabah lokal akibat harga gabah yang terus meningkat. Bahkan, dengan trend harga gabah saat ini, ia memastikan, hingga akhir 2006 Bulog tetap tidak mampu membeli gabah. Sementara, pemerintah telah menyiapkan dana berupa letter of credit (L/C) untuk pembelian gabah sebanyak 15.000 gabah kering giling atau setara dengan Rp 4,5 miliar.
Akibat harga gabah yang berada di atas harga pembelian pokok (HPP), hingga saat ini kami tidak melakukan pembelian gabah sekalipun sudah disiapkan L/C sebesar Rp 4,5 miliar, katanya.