TC Kebun Polikultur (TCSS)

TC PPPT Mangga Dua

Info Desa

Partners

Past Supporting Partners & Experience

Majalah/Newsletter

Hasil Riset

Flag Counter

Beras Organik Banyumas Sulit Pemasaran

08/05/2014 , ,

SL-Pulo-TagorKoordinator Petani Padi Organik kawasan Kemutug Lor, Baturaden, Banyumas, Bambang Purnomo, Kamis (1/5), mengatakan, beras organik sebenarnya merupakan beras yang amat sehat untuk dikonsumsi. Tetapi karena sistem perawatan alamiah, mulai dari pengairan yang harus berasal dari air bersih belum tercemar limbah sabun dan lainnya, sampai pupuk yang juga harus berasal dari kotoran hewan/manusia, maka prosesnya jelas lebih ribet, dan memerlukan biaya lebih banyak ketimbang menanam padi biasa.

“Akibatnya ketika sudah menjadi beras harganya tentu mahal atau tidak bisa setara dengan harga beras biasa. Karena mahal, maka secara otomatis akan mengallami kesulitan saat dipasarkan. Memang beras organik Kabupaten Banyumas problemnya adalah kesulitan dalam pemasaran. Itulah sebabnya perlu ada upaya promosi produk ke kota-kota besar dengan gencar, karena umumnya orang yang suka mengkonsumsi beras organik adalah kalangan kelas menengah ke atas yang banyak bermukim di kota. Mereka seperti para profesi dokter, pejabat kantor dan lainnya” tutur Bambang.

Ia menambahkan, meski dari kualitas beras organik jelas amat berkualitas, tetapi karena kesulitan dalam pemasaran, secara otomatis banyak produk yang tidak tersalurkan ke pasaran dengan baik. “Dulu Ratna Listi, presenter teve pernah berkunjung ke Kemutug Lor dan berniat menjadi pengepul beras organik dari kami untuk dipasarkan di Jakarta dan sekitarnya. Tetapi kemudian berhenti dan kemudian tidak melanjutkan transaksi jual beli. Untungnya panen padi organik tidak seperti padi biasa yang bisa panen 3 kali/tahun. Padi organik setahun maksimal 2 kali panen, sehingga produksi tidak sampai mbludhak” kata Bambang.

Salah satu pemasar beras organik Kabupaten Banyumas di Jakarta, Firdous Wibowo, mengatakan, beras organik produksi Kabupaten Banyumas sebenarnya sudah cukup dikenal masyarakat Jakarta. “Tetapi karena pembelinya eksklusif, orang-orang tertentu saja yang koceknya tebal, maka pemasarannya memang ya tetep seret. Itu karena mau tidak mau dari petani saja sudah harus mahal harganya. Beras biasa berkisar Rp 7 ribu/Kg. Beras organik berkisar Rp 12 ribu/Kg. Saya tetap kesulitan menyadarkan masyarakat umum untuk ramai-ramai suka beli beras organik. Rumah makan biasa juga masih tetap tidak mau beli beras organik. Perlu ada gerakan bersama mengkampanyekan perlunya masyarakat mengkonsumsi beras organik yang amat sehat itu” ujarnya.

Hal senada disampaikan para petani padi organik di Kecamatan Somagede Banyumas. Salah seorang petani tersebut, Sumarno, warga Desa Piasa Kulon, mengakui menjadi petani padi organik harus berani berjuang. “Pasalnya, ketika pertamakali beralih dari menanam padi biasa ke padi organik, hasil panen pasti amat sedikit. Hasil panen bisa sama melimpahnya dengan panen padi biasa ketika sudah bertani padi organik sampai 2 tahun lebih. Ini kan harus berjuang. Kemudian, ketika habis panen, dijual dengan harga sama sep0erti beras biasa, jelas merugi. Maka ketika dicoba dipasarkan, masyarakat umum rata-rata nggak mau beli. Itulah sebabnya ketika belum ketemu pasar, produksi beras organik lebih banyak dikonsumsi diri sendiri” tandasnya. (Ero) 

Sumber: http://krjogja.com

Search

Arsip

Desa Penerap SID di Sumut

Data Kelompok

Kab/Kota Lk Pr Jlh Jlh Kel
Langkat 173 142 315 12
Binjai 26 31 57 3
Deli Serdang 783 766 1549 31
Serdang Bedagai 815 620 1435 49
Tebing Tinggi 36 126 162 5
Batu Bara 26 170 196 5
Lab Batu Uatara 490 306 796 2
Jumlah 2349 2161 4510 107