TC Kebun Polikultur (TCSS)

TC PPPT Mangga Dua

Info Desa

Partners

Past Supporting Partners & Experience

Majalah/Newsletter

Hasil Riset

Flag Counter

Potensi Pertanian Organik di ASEAN

23/04/2014 , ,
Sekolah lapangan peertanian selaras alam (SL-PSA) untuk mempraktikkan pertanian organi di desa Pulau Tagor, Serbajadi, Serdang Bedagai.

Sekolah lapangan peertanian selaras alam (SL-PSA) untuk mempraktikkan pertanian organi di desa Pulau Tagor, Serbajadi, Serdang Bedagai.

Petani organik perlu meningkatkan mutu produk hasil pertanian untuk menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN yang akan datang. Indonesia diyakini berpotensi menjadi produsen hasil pertanian organik terbesar pada tahun 2020.

Potensi Indonesia untuk menjadi produsen terbesar sangat terbuka dengan tersedianya lahan yang cukup luas. Lebih lagi, ketersediaan sinar matahari sepanjang tahun juga menjadi modal utama untuk dapat membangun pertanian dan perkebunan organik.

Potensi ini dijelaskan di dalam seminar ”Pertanian Organik untuk Meningkatkan Mutu dan Daya Saing Produk”, Selasa (25/3), di Auditorium Badan Litbang Pertanian, Jakarta. Pembicara dalam seminar ini adalah Prof Dr Agus Kardinan dan diikuti juga oleh beberapa perwakilan dari lembaga pertanian terkait.

Dengan berbagai keuntungan itu, Agus meyakini, sebagai penghasil produk organik, petani Indonesia dapat menjadi pionir di wilayah pemasaran ASEAN. ”Indonesia dapat menjadi sumber produk organik ASEAN, bahkan dunia, karena potensi dan sumber dayanya mencukupi,” kata Agus seusai seminar.

”Kita bisa menanam sepanjang tahun karena limpahan sinar matahari,” ujarnya. Selain itu, proses pertanian secara organik juga dapat diintegrasikan dengan lingkungan sekitar, misalnya limbah peternakan untuk pupuk. Cara seperti itu dapat menekan intensitas penggunaan bahan kimia berbahaya sehingga lebih ramah lingkungan.

Ia juga menyatakan bahwa petani di Indoensia lebih banyak mempunyai keunggulan dan keuntungan dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya.

Saat ini yang menjadi kendala yang hampir terjadi di semua negara ASEAN adalah krisis lahan yang kian parah.

Krisis lahan ini adalah kerusakan lahan yang terjadi akibat dari pengolahan tanah dengan menggunakan bahan anorganik. Hal itu misalnya pupuk yang tidak ramah lingkungan dan mengandung banyak zat kimia berbahaya.

Agus yang juga menjabat sebagai Koordinator Inspektor Organik di Lembaga Sertifikasi Pertanian Organik menyayangkan masih belum optimalnya pengelolaan lingkungan oleh petani.

Menurut dia, sebagian besar petani menggunakan cara konvensional yang mengakibatkan bertambahnya jumlah lahan kritis dan produk yang bisa berdampak buruk bagi kesehatan masyarakat. (A09/ACI/WIE/SIR)

Sumber: http://print.kompas.com

Search

Arsip

Desa Penerap SID di Sumut

https://www.youtube.com/watch?v=Yg5mzpjmOrI

Data Kelompok

Kab/Kota Lk Pr Jlh Jlh Kel
Langkat 173 142 315 12
Binjai 26 31 57 3
Deli Serdang 783 766 1549 31
Serdang Bedagai 815 620 1435 49
Tebing Tinggi 36 126 162 5
Batu Bara 26 170 196 5
Lab Batu Uatara 490 306 796 2
Jumlah 2349 2161 4510 107