Sebanyak 25 orang petani karet asal Langkat optimis mengikuti sekolah lapang (SL) karet yang diadakan Bitra Indonesia, Rabu (16/4), di Desa Stabat Lama Barat, Kecamatan Wampu, Langkat. Menurut Restu Aprianta Tarigan, manager comdev Bitra Indonesia, SL karet yang berlangsung sejak Januari 2014 ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang budidaya karet kepada petani karet di sekitar Desa Stabat Lama Barat, Stabat Lama dan Pantai Gemi, yaitu mulai dari penanaman sampai pasca panen.
Lelaki yang akrab disapa Anta ini juga menambahkan, walaupun peserta SL rata-rata petani karet, tapi masih banyak dari mereka yang belum pas melakukan budidaya karet. “Misalnya soal pembibitan, masih banyak yang belum mengerti,” ujarnya.
Selain itu, tambah Anta, alasan memilih Langkat sebagai lokasi SL salah satunya adalah karena banyaknya petani di Langkat yang mulai beralih ke tanaman sawit. Menurut petani, sawit lebih simpleĀ (gampang) daripada karet, bahkan hasilnya lebih banyak. “Padahal, secara ekonomi karet itu menjanjikan. Dan secara ekologi, karet lebih bernilai konservasi dibanding sawit. Makanya, karet bisa dibudidayakan secara polikultur. Artinya, kalau tanaman karet belum jadi idola bagi petani, ini sebenarnya soal teknik budidaya karet yang dilakukan petani belum maksimal,” papar Anta.
Hal senada disampaikan pula oleh Sahri Alam Samosir, penyuluh SL karet dari UPPT Arah Condong, Balai Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan. Menurutnya, selain pengetahuan, mengubah sikap dan keterampilan petani di SL ini memang menjadi tantangan. “Makanya, di SL ini kita pakai sistem PSK, yaitu Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan. Jadi, teori itu 30 %, praktek lapangan 70%. Karena keterampilannya rendah, di keterampilanlah yang kita tekankan, sehingga perlu pengulangan kembali,” jelasnya.
Mengenai harga karet yang mengalami pasang surut, lanjut Alam, petani harus konsisten dan tidak mudah goyah untuk beralih ke sawit. “Karena prospek karet itu cerah. Makanya, bagi yang sudah bertanam karet, dipertahankan. Kalau harga turun, produksinya yang ditingkatkan, bukan malah beralih,” pesannya.
Demikian pula yang dirasakan H. Muhammad Syarif (56), warga Stabat Lama, yang tertarik mengikuti SL karet tersebut. Menurut petani yang sudah menanam karet sejak 2001 ini, adanya SL ini makin menambah pengetahuannya tentang karet. Dia merasa bersyukur dengan materi pelajaran yang diberikan penyuluh, seperti tentang polikultur, teknik pembibitan, pembuatan pupuk, bahkan cara menyadap karet yang baik.
Fadilah Hanum (38), satu-satunya peserta perempuan di SL ini juga mengaku termotivasi dengan proses belajar di SL. Menurut warga Stabat Lama yang pernah jadi buruh sadap ini, pelatihan SL ini sangat berguna. “Mana tau, kalau nanti saya punya kebun sendiri, jadi tinggal menerapkan,” katanya sembari tersenyum.
Begitu pula dengan harapan para peserta lainnya. Menurut Zulkarnain (45), ketua kelompok SL, meski SL ini akan berakhir Juli mendatang, namun dia berharap para anggota SL yang berasal dari kelompok tani Tuah Tani, kelompok tani Makmur, Tani Murni, Kurnia Maju, yang masing-masing berasal dari Desa Stabat Lama, Stabat Lama Barat, dan Pantai Gemi, ini bisa lebih aktif dan lebih dibina lagi oleh Bitra Indonesia. Dia juga berharap, perlu juga dibentuk koperasi yang akan membantu petani dalam menjawab soal pemasaran karet.
Menyambut usulan Zulkarnain dan peserta SL tersebut, Anta berharap dalam tindak lanjut atau evaluasi SL nanti, petani mampu menerapkan hal-hal yang sudah dipelajari selama 5 bulan itu. Termasuk soal membentuk suatu kelompok pemasaran agar mendapat nilai jual karet yang lebih baik. (jc)