
Keluarga petani sedang panen kangkung organik di desa Pualau Gambar, Serbajadi, Serdang Bedagai. Foto: Iswan Kaputra |
Makin banyaknya masyarakat yang peduli akan makanan sehat, membawa berkah tersendiri bagi petani sayur organik. Begitu juga dengan petani sayur organik Kelompok Tani Nusa Indah Sukun, saat ini semakin kewalahan memenuhi pesanan, Selasa (20/8).
Baiknya pasar sayur organik ini membuat semakin banyak pihak ingin belajar pertanian organik ke Kelompok Tani Nusa Indah Sukun. Termasuk para mahasiswa dari Jurusan Agribisnis Universitas Brawijaya (UB).
Mahasiswa UB, Sri Ajeng mengungkapkan, awalnya tertarik mempelajari pertanian organik karena tugas dari kampus. Dari beberapa rekomendasi kakak tingkat ataupun dosen, akhirnya diambil keputusan belajar pertanian organik di Kelompok Tani Nusa Indah Sukun.
“Saat berada langsung di lapangan, kami semakin senang belajar di Kelompok Tani Nusa Indah Sukun, sebab tidak hanya belajar menanam. Kami juga belajar mulai dari budidaya, penanganan pascapanen hingga pemasaran,” jelas Ajeng, Selasa (20/8).
Begitu banyaknya yang dipelajari, Ajeng mengaku, waktu tiga bulan yang ada untuk belajar dirasa masih belum cukup. Dengan serius belajar langsung di Sukun, gadis asal Mojokerto ini berharap saat nanti kuliah usai, bisa merintis bisnis pertanian organik yang pasarnya masih terbuka lebar.
Ajeng menyebutkan, di jurusan agribisnis, yang seangkatan dengannya, ada enam mahasiswa yang belajar di Kelompok Tani Nusa Indah Sukun. Mereka terdiri dari Suci Wulansari, David Dwi Riswanto, Ditha Ayu, Anifatul dan Fiko Mahendra.
Ketua Kelompok Tani Nusa Indah Sukun, Hari Suyanto mengaku bersyukur Kelompok Tani Nusa Indah hingga saat ini masih bisa eksis. Bahkan, baru-baru ini mendapat bantuan dari Bank Indonesia berupa dua green house agar mutu hasil budidaya sayuran organik bisa semakin bagus.
“Dari permintaan sayuran 3,5 ton per bulan yang masuk ke kami, belum setengah saja yang bisa kami penuhi, “ ujar Hari.
Dengan semakin tingginya kesadaran gaya hidup sehat di masyarakat, Hari menyebutkan, berapapun hasil sayur organik yang dikelolanya, selalu habis diserap pasar. Karena itu, selain mengembangkan di Kota Malang, pihaknya saar ini juga mengembangkan di Gunung Kawi dan Mojokerto.
Sumber: http://mediacenter.malangkota.go.id