Harga jual yang rendah menjadi momok bagi petani yang menggantungkan mata pencahariannya dari menyadap getah karet. Setiap kali menyadap getah petani berharap harga getah tinggi sehingga bisa memenuhi kebutuhan pokok yang terus merangkak naik.Dijelaskannya, harga getah karet lom, pada akhir bulan Juli lalu berkisar Rp 8.500 – Rp 9.000 per kg atau turun Rp 2000 per kg dari 2 minggu sebelumnya. “Kepastian harga sangat dibutuhkan petani. Sesungguhnya berapun harga karet itu kami akan jual, kalau tidak dari mana kami makan,” katanya.
Sepengetahuan petani kata dia, rendahnya harga karet adalah kadar air yang tinggi. Selain itu, getah masih bercampur dengan daun dan tatal (kulit pokok). Bahkan ada juga beberapa petani yang mencampurnya dengan pasir, garam, ataupun urea.
Petani kata Parno, tidak sempat untuk menyimpan getah karetnya untuk menurunkan kadar air ataupun menunggu ketika harga karet tinggi. “Ini kaitannya dengan modal, jadi harus cepat dijual,” ungkapnya.
Tohap Simamora, dari PT Mas Mulia, salah satu pabrik pengolahan karet di Kisaran, mengatakan, pihaknya masih kerap menemukan getah karet dari petani bercampur dengan sampah seperti kayu atau pasir. Hal tersebut, akan berpengaruh terhadap harga karet petani.
Selain itu, kadar getah karet petani umumnya rata-rata masih 39 – 40 persen selebihnya campuran. Selama ini kata dia, pihaknya menerima getah karet dari petani dengan harga Rp 22.000 per kg untuk kadar bersih. “Jika kadar getahnya hanya sekitar 39 – 40 persen harganya bisa menjadi Rp 11.000 per kg,” jelas Tohap.
Selama ini, lanjut Tohap, toke atau pengumpul lah yang mendapatkan keuntungan. Mereka mengumpulkan getah dari banyak petani kemudian menjualnya ke pabrik setelah sebelumnya disimpan untuk menurunkan kadar airnya. Sehingga, toke mendapatkan harga yang lebih tinggi. “Misalnya dalam 1 truk, mereka kirim 4 – 5 ton, bisa mendapat untung bersih Rp 2,5 juta – Rp 3 juta per truk, sementara sehari mereka bisa kirim 3 – 4 truk,” katanya.
Sementara Kepala Bidang Produksi Dinas Perkebunan Sumut Herawaty, mengatakan, pemerintah sudah mencanangkan gerakan bokar (bahan olah karet) bersih dan sudah disosialisasikan ke kabupaten/kota penghasil karet.
Menurutnya, petani tidak bisa seluruhnya disalahkan sebab bisa jadi dari pengumpul yang melakukannya. Dalam hal ini, kata dia, yang harus dilakukan segera khususnya untuk pemerintah daerah penghasil karet adalah menjajaki kemitraan antara petani dan eksportir supaya ada kepastian harga dan kontrol mutu dari mitrta.
Secara tidak langsung, kata dia, akan melatih petani menghasilkan bokar bersih. (dewantoro)