Untuk mencapai tujuan organisasinya, tak jarang kelompok tani menghadapi tantangan yang bermacam-macam bentuknya, baik dari internal organisasi maupun dari pengaruh eksternal. Itu sebabnya pelatihan manajemen organisasi sangat diperlukan bagi kelompok tani, agar di masa datang kelompok-kelompok tani tersebut mampu mengatasi berbagai tantangan yang terjadi di dalam organisasinya.
Pelatihan manajemen organisasi juga bertujuan menata, mengatur, dan mengelola organisasi kelompok tani menjadi lebih baik, sekaligus memperkuat keberadaan organisasinya di masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan.
Hawari, dari divisi advokasi BITRA Indonesia memaparkan hal ini saat membuka “Pelatihan Manajemen Organisasi” di Training Centre Sayum Sabah (TCSS), Deli Serdang, Kamis (23/5). Pelatihan yang diadakan selama 3 hari ini diikuti 30 orang peserta yang terdiri atas kelompok tani, kelompok kesehatan alternatif dan CU dampingan BITRA Indonesia yang ada di 3 wilayah, yaitu Kabupaten Sergai, Deli Serdang dan Langkat.
Menurut Hawari, pelatihan ini juga bertujuan untuk membenahi kinerja organisasi kelompok tani yang menjadi dampingan BITRA Indonesia. “Misalnya, soal tertib administrasi atau surat menyurat, bahkan soal legalitas pembentukan organisasi kelompok tani juga dibahas dalam pelatihan ini,” jelasnya lagi saat menjadi fasilitator pertama pada sesi pembuka pelatihan.
Demikian pula yang disampaikan Mince Simatupang, fasilitator kedua dari Serikat Pekerja Nasional (SPN) Sumut. Menurut dia, masalah yang seringkali menjadi kelemahan organisasi rakyat (seperti kelompok tani, misalnya) yang berorganisasi, adalah soal administrasi yang terabaikan. Sehingga ketika ditanya berapa jumlah anggotanya, acapkali ketua atau sekretarisnya tidak bisa menjawab dengan pasti berapa jumlah anggota di kelompoknya. Termasuk soal pendataan inventarisnya. “Padahal, jalannya organisasi yang baik justru sangat dipengaruhi oleh kekuatan data dan administrasinya,” ujar Mince.
Merespons pernyataan Mince ini, beberapa peserta mengaku kalau soal administrasi memang kurang. Untuk itu, pesan Mince, pelatihan manajemen organisasi ini mencoba untuk menata organisasi menjadi lebih baik. Baik soal administrasinya, seperti pembuatan surat masuk, surat keluar, dan berbagai jenis surat lainnya, serta membuat struktur organisasi dan mengenal deskripsi tugas dan kerja (job description) setiap divisi di organisasi.
Persoalan legalitas juga hal penting. Memperkuat legalitas dengan membuat surat keputusan tentang pembentukan kelompok tani tersebut. “Selama ini memang masih banyak kelompok tani yang menganggap soal administrasi ini belum begitu penting. Untuk itulah, melalui pelatihan ini kita akan ubah anggapan tersebut, agar ke depannya kelompok tani ini lebih tertata secara manajerial dan makin diperhitungkan keberadaannya,” tambah Mince.
Di akhir pelatihan, Sabtu (25/5), Hawari berpesan, untuk membicarakan soal manajemen organisasi memang tidak cukup dengan tiga hari. Begitupun, selama tiga hari ini mudah-mudahan peserta dapat memahami apa makna organisasi dan manajemen bagi perubahan di kelompok tani. “Oleh sebab itu, selalulah belajar. Perkuat disiplin, loyalitas terhadap pemimpin dan organisasi, pendidikan yang relevan dengan visi misi organisasi, serta semangat melakukan perubahan. Dengan demikian, barulah tujuan organisasi dapat dicapai dengan baik,” katanya. (juhendri)