MEDAN – Direktur Utama PT Angkasa Pura Edie Haryoto menjanjikan kepada Wakil Presiden Muhammmad Jusuf Kalla bahwa pembangunan bandar udara pengganti Polonia Medan, yaitu Kualanamu di kabupaten Deli Serdang, akan selesai tahap pertama dan mulai dioperasikan Oktober 2009 mendatang.
Saat ini pembangunan bandara internasional, yang akan dilengkapi dengan rel kereta api dan akses jalan tol dan non tol baru tersebut, baru sekitar 15 persen dilakukan. Yaitu, berupa pemotongan pohon kelapa sawit untuk lahan pembangunan, pembersihan lahan dan pembangunan tiang pancang untuk struktur gedung terminal serta runway sepanjang 3.000 meter x 60 meter persegi untuk pendaratan pesawat Boeing 747.
Janji itu disampaikan Edie saat memberikan paparan atas pembangunan bandara di hadapan Wapres Kalla beserta sejumlah menteri dan pejabat pusat dan lainnya di ruang VIP Pangkalan Udara TNI-AU Polonia Medan, Sabtu (29/3) pagi. Hadir dalam pemaparan itu Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil, Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal serta Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto.
“Target kami, Oktober 2009 bandara Kualanamu sudah mulai operasi untuk pendaratan Boeing 747. Ini sejalan dengan mulai ditinggalkannya bandara Polonia, yang sekarang sudah mencapai 5 juta pergerakan penumpangnya,” ujar Edie.
Edie mengakui pelaksanaan pembangunan Kualanamu, hingga saat ini dapat dikatakan masih dalam jadwal dan jalurnya. Sejauh ini pembangunan tahap pertama sudah berjalan 15 persen. Edie juga melaporkan masih ada 27 keluarga yang bertahan di kawasan itu karena perbedaan angka ganti rugi.
“Hambatan lain, penutupan jalan umum yang melintasi areal pembangunan bandara serta pembebasan lahan rail link seluas 1,4 hektar akibat harga ganti rugi yang terus meningkat,” aku Edie.
Menanggapi janji dan persoalan yang masih melilit pembangunan bandara Kualanamu itu, Wapres mengatakan,” Kita pegang ya janji bapak. Janji bapak ini kita pegang dan dicatat, untuk kita tagih nanti, yaitu Oktober 2009.”
Wapres menilai bahwa sebenarnya pembangunan bandara ini di Medan termasuk terlambat mengingat banyak sejumlah kota seperti Batam, Palembang dan lainnya sudah memiliki bandara yang cukup representatif dengan kemajuan dan pertumbuhan penumpang.
“Saya khawatir kalau nanti Oktober 2009 mulai operasi, bandara itu tidak bisa menampung lagi peningkatan jumlah penumpang yang langsung naik dari sebelumnya 5 juta penumpang di Polonia menjadi 8 juta penumpang di Kualanamu. Karena itu, kalau nanti Oktober 2009 selesai, tahapan pembangunan berikutnya harus segera dimulai,” tandas Kalla.
Terkait masalah yang masih ada, Wapres meminta agar Angkasa Pura dapat menyelesaikannya dengan baik. “Meskipun hanya sedikit pemukimnya yang masih bertahan, selesaikan dengan baik masalah lingkungan yang masih terjadi. Karena bandara itu juga akan tergantung dengan ekonomi sekitar, termasuk dari penduduk,” lanjut Wapres Kalla.
Bakal lokasi Bandara Kualanamu dua tahun lalu ditinjau pertama kalinya oleh Wapres Kalla. Beberapa bulan kemudian lokasi itu mulai dibangun. Dana yang dianggarkan mencapai Rp 2,1 triliun dari APBN dan Rp 1,4 triliun dari pinjaman konsorsium swasta, yang dipimpin Bank Mandiri.
Sumber : KOMPAS