Indonesia merupakan sasaran utama Amerika Serikat dalam melakukan “Economic Hit Man” (EHM), yaitu penjajahan ekonomi melalui tipu daya negara secara sistematis untuk mencurangi dan menipu melalui pinjaman utang yang melebihi kemampuan membayar, dan selanjutnya menguasainya.
Pendapat itu mengemuka dalam diskusi yang digelar Yayasan Bitra Indonesia di kantornya, Jalan Bahagia By Pass Medan, Rabu (18/1). Diskusi bertema “Pengakuan John Perkins, Sang Perusak Ekonomi” itu menghadirkan tiga narasumber, yaitu DR Irsyad Syarif Lubis MSc, akademisi dari Program Pascasarjana Ekonomi USU, Amir Mirza Hutagalung, Sekjen Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Sumut.
“Penjajahan ekonomi Amerika Serikat atas negara-negara miskin bukanlah hal baru seperti yang diungkapkan John Perkins dalam buku Confessions of an Economic Hit Man, tetapi sudah berlangsung sejak lama. Berbagai upaya dilakukannya untuk membuat negara kita memiliki ketergantungan yang sangat besar terhadap negara adidaya tersebut,” kata Irsyad.
Menurut Irsyad lagi, Indonesia menjadi sasaran karena beberapa alasan, di antaranya karena memiliki semangat juang serta diplomasi yang rendah. Di sisi lain, sebagai sebuah negara yang memiliki potensi perlawanan cukup besar, Indonesia juga ditakuti. Perlawanan oleh Malaysia atau negara Asia lainnya tidak terlalu menakutkan Amerika.
Ditambahkannya, bukan hanya praktisi yang menjadi target dalam EHM, tetapi juga kalangan akademisi dan guru. Contoh yang paling sederhana adalah teori dalam prinsip ekonomi yang menyatakan “dengan modal sekecil-kecilnya untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya”. Teori ini yang selanjutnya diturunkan kepada murid dan mahasiswa sebagai pedoman dasar dalam berbisnis.
Sementara itu Koordinator Daerah (Korda) Transparansi Internasional Sumut, Jaya Arjuna, yang turut hadir dalam acara tersebut menyampaikan keraguannya terhadap pengakuan John Perkins. Menurutnya, pengakuan John Perkin ini hanyalah bagian dari strategi AS untuk membangun image-nya yang semakin memburuk di mata dunia akibat kebijakan-kebijakan yang merugikan negara-negara miskin.
Apalagi, lanjutnya, apa yang disampaikan John Perkins hanya berupa pola-pola lama yang dilakukan oleh AS. “Saya yakin pemerintah AS sudah menyiapkan strategi baru untuk melakukan new kolonialisme melalui penguasaan sumber daya alam dengan cara-cara yang halus. Makanya isu ini selanjutnya dimunculkan,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut Sekjen HIPMI, Amir Mirza Hutagalung mengatakan, Economic Hit Man oleh pemerintah AS ini merupakan upaya agar kebutuhan rakyat AS tetap terpenuhi. “John Perkins tetap membenarkan tindakan pemerintah AS dan memandang negara ini bukanlah sebagai negara yang jahat. Economic Hit Man sendiri adalah gabungan dari pengusaha yang di-back up oleh pemerintah,” katanya.
Tentang Buku
Buku Confessions of an Economic Hit Man sendiri adalah sebuah buku yang mengungkapkan pengakuan John Perkins, seorang konsultan ekonomi lembaga keuangan Amerika yang terlibat dalam rencana dan pelaksanaan EHM. Dalam buku tersebut ia menjelaskan, dirinya menjadi salah satu dari 12 orang yang dikirim untuk membuat sebuah rencana strategi energi dengan sasaran Pulau Jawa.
Ia menjelaskan pula dua tujuan EHM, yaitu membenarkan kredit dari dunia internasional yang sangat besar jumlahnya yang akan disalurkan melalui perusahaan AS seperti Bechtel, Halliburton, Stone dan Webster melalui proyek engineering dan konstruksi raksasa.
Tujuan kedua yaitu EHM bekerja sama untuk membangkrutkan negara-negara penerima pinjaman raksasa tersebut, sehingga negara miskin ini akan “dicengkeram” oleh para krediturnya. Negara-negara penerima utang itu akan menjadi target yang mudah ketika negara adidaya ini memerlukan yang dikehendaki, seperti pangkalan militer, suaranya di PBB atau akses pada minyak dan sumber daya alam lainnya
Sumber: Medan Bisnis – Medan