Mempunyai keturunan dengan proses persalinan normal adalah keinginan setiap pasangan, hal yang paling ditunggu dan paling menegangkan bagi suami maupun istri adalah saat detik-detik sijabang bayi akan lahir.
Hal ini lazim dialami oleh pasangan yang akan kedatang tamun istimewa diseluruh dunia, tapi untuk pasangan yang berada di desa Air Hitam, Kec. Kualuh Leidong, Kab Labuhan Batu Utara, saat menegangkan mesti ditambah satu babak lagi yaitu saat pembayaran biaya bersalin kepada bidan yang membantu persalinan tersebut. Pasalnya biaya persalinan yang dipatok bidan desa di desa ini dinilai sangat mahal, untuk satu kali proses persalinan normal biayanya dipatok sekitar Rp 700,000,- – Rp 900,000,- belum lagi ditambah biaya tambahan seperti obat dan biaya hetting (jahit rahim) dengan tarif mencapai Rp 50,000,-/jahitan.
Seperti yang dialami Misno (32) warga Pasar 6, desa Air Hitam yang istrinya beberapa waktu lalu baru melahirkan secara normal dan menggunakan jasa salah satu bidan desa Air Hitam yang terpaksa merogoh kocek sebesar Rp 1,090,000,- hanya untuk membayar biaya bersalin, obat dan hetting, belum lagi biaya dukun kampung. Menurutnya biaya ini sangat mahal mengingat pekerjaan membantu proses kalahirannya juga dibantu dukun melahirkan yang biasa diminta jasanya di desa itu ”memandikan dan mengurus bayi cuman satu kalinya selebihnya dikerjakan dukun bayi”. tambah lelaki yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh tani serampangan (mocok sana – mocok sini) ini.
Tarif ini memang sudah dipatok berkisar sejumlah itu oleh bidan-bidan yang ada didesa ini, walaupun tidak tertulis tapi sudah seperti pasaran yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, ”ya mau gimana lagi. Kuat gak kuat harus dibayar karena memeng dibutuhkan, kan gak mungkin istri sedang kesakitan kita nego harga dulu”, imbuhnya.
Menanggapi program Jampersal (jaminan persalinan) yang dibuat pemerintah, menurutnya program ini cukup baik tapi tidak tepat sistemnya, salah satu syarat untuk mendapat program Jampersal harus melahirkan di Puskesmas, masalahnya Puskesmas satu-satunya hanya ada di kota kecamatan Tanjung Leidong yang memakan waktu tempuh perjalanan normal menggunakan sepeda motor sekitar 40 – 50 menit jika kondisi kering, sementara jika musim hujan waktu tempuhnya bisa 2 – 4 jam bahkan tidak bisa dilalui sama sekali, ditambah lagi sarana transportasinya hanya dengan sepeda motor megingat anggkutan umum roda 4 belum tersedia di daerah ini, oleh karenanya progranm ini mustahil bisa dimanfaatkan warga miskin jika sitemnya tidak diperbaiki atau disesuaikan dengan kondisi geografisnya.
Warga sangat berharap agar ada kebijakan yang memihak kepada masyarakat terpencil saperti ini dari pemerintah berupa penertipan biaya bersalin yang bisa dijangkau atau penyesuaian program Jampesal, sehingga saat-saat menggembirakan menyambut sijabang bayi tidak ternodai oleh beban biaya persalinan yang sangat mencekik leher.
(Hadi, Pewarta Warga, Alumni Pelatihan Jurnalistik Dasar, BITRA Indonesia)
Ilustrasi: http://celebrity.okezone.com