TC Kebun Polikultur (TCSS)

TC PPPT Mangga Dua

Info Desa

Partners

Past Supporting Partners & Experience

Majalah/Newsletter

Hasil Riset

Flag Counter

Hidroponik dengan Sistem Pertanian Ramah Lingkungan

15/10/2012 , ,

Sayuran, salah satu komoditas yang setiap hari dicari masyarakat. Tingginya jumlah permintaan memiliki konsekuensi pada minimnya jumlah ketersediaan sayur di pasar. Pada saat produksi tidak mampu mengikuti permintaan, hargapun melambung naik. Karena itu, harus ada kreasi untuk bisa mengatasi persoalan yang muncul. Salah satunya adalah dengan konsep pertanian hidroponik yang memanfaatkan bahan-bahan yang mudah dan murah harganya.

Untuk mewujudkan tersedianya stok sayur yang sehat dengan harga stabil bagi masyarakat kota, upaya-upaya kreatif harus dilakukan petani. Namun petani banyak mengalami kendala, utamanya adalah keterbatasan lahan. Karenanya model city farming atau urban farmin (pertanian kota atau pertanian pinggiran kota) dengan pola hidroponik layak dicoba. Model pertanian ini banyak dibincangkan orang, tapi masih sulit untuk merealisasikannya.

Lain halnya dengan yang dilakukan Albana Sembiring. Di halaman rumahnya di Desa Tanjung Anom, Kecamatan Pancur Batu, Deliserdang, pemuda berusia 34 tahun ini merealisasikan gagasannya sejak 1,5 tahun yang lalu. Kini, dari kreasi inovasi dalam model usaha tani sayurannya tersebut ia sudah bisa memanen sayuran dari kebun hidroponik yang dibuatnya sendii dan memasarkannya kepada masyarakat.

Albana yang saat ditemui sedang menyirami tanamannya menceritakan, dirinya membuka sebuah usaha kebun sayur dengan menerapkan semangat ramah lingkungan (organik), ekonomis dan tidak perlu pakai tanah. Untuk memproduksi sayuran, Albana tidak terlalu pusing dengan ukuran lahan. Karena cara yang dipakai untuk bercocok tanam adalah teknologi hidroponik atau teknik pertanian menggunakan media air.

Dengan memanfaatkan lahan seluas 4 meter x 10 meter, serta menerapkan jarak tanam antar sayur 15 cm, dengan cara hidroponik Albana bisa menanam 1.400 batang sayuran berumur pendek dan memanen rata-rata 90 kg sayur setiap musim tanam (40 hari). Paling lama 2 hari setelah panen bibit sayur yang baru dapat ditanam kembali. “Dari sini bisa dilihat nilai praktis dari penggunaan teknik hidroponik,” katanya.

Semangat ramah lingkungan diterapkannya dengan cara tidak menyemprot sayuran dengan racun hama (pestisida) kimia, memakai ulang alat yang digunakan dalam instalasi hidroponik dan menghemat jumlah pemakaian air. Untuk menekan biaya produksi, Albana berupaya menggunakan barang-barang bekas yang sering dibuang masyarakat seperti botol plastik minuman dan kotak kemasan buah-buahan dimanfaatkan menjadi instrument pada instalasi hidroponik yang diciptakannya.

Melalui prinsip ramah lingkungan ini, akhirnya tercipta sistem hidroponik yang tidak mahal dan mudah dalam cara penggunaannya. Berbeda dengan system hidroponik canggih yang dikembangkan para petani di luar negeri. Meskipun ekonomis, prinsip-prinsip penting dari teknologinya tetap diterapkan.

Sejak Albana membangun kebun sayurnya, cukup banyak jenis sayuran yang telah dihasilkannya, seperti selada keriting, sawi pakchoi, sawi manis, petchai dan selada merah. Bukan hanya sebatas memproduksi sayuran untuk dimakan anggota keluarga saja, tetapi 90% produksi sayurannya dijual secara langsung kepada konsumen. Beberapa warung pecel lele di sekitar Jalan Setia Budi, Medan dan beberapa ibu rumah tangga menjadi pelanggannya. “Pembeli umumnya senang karena ada layanan pesan antar yang saya terapkan, karena langsung dipetik dari kebun kondisi sayur segar. Kesegarannya tetap terjaga meskipun pembeli menyimpan kembali di rumah selama 2 hari, dan tentunya tidaklah ada sisa racun hama yang menempel di sayuran. Itu yang sering saya sampaikan kepada pelanggan,” katanya.

Modal awal usaha kebun sayur yang dikembangkan Albana saat ini, diperolehnya dari pinjaman kredit usaha rakyat (KUR) melalui sebuah bank pemerintah. Meskipun jumlahnya tidaklah besar, tetapi kredit tersebut sudah dapat memicu kelahiran sebuah bisnis pertanian skala kecil yang ia beri nama “Bania Farm”.

Ada 3 jenis program yang ditawarkan kepada masyarakat yaitu penjualan sayuran bebas pestisida, pelatihan/kursus berkebun tanpa tanah dan perakitan instalasi hidroponik. Saat ini, sebuah gagasan sedang ia upayakan untuk bisa terealisasi, yaitu memunculkan petani-petani sayur hidroponik dari kalangan anak muda, masyarakat dan para pekerja yang akan memasuki masa pensiun yang berada di dalam kota dan pinggiran sekitar Kota Medan.

“Ke depan mereka ini akan didorong menjadi sebuah jaringan pelaku usaha kecil menengah yang diharapkan memberi dampak positif terhadap bisnis pertanian di Kota Medan, bahkan di Propinsi Sumatera Utara,” ungkap Albana.

Sementara itu, Iswan Kaputra, selaku peneliti dari Yayasan Bina Ketrampilan Pedesaan (BITRA) Indonesia mengatakan bahwa konsep hidroponik dalam pertanian bisa jadi merupakan solusi yang tepat untuk mengatasi semakin sempitnya lahan pertanian. Dengan konsep hidroponik, seseorang tetap bisa bertanam meskipun hanya memiliki lahan yang sempit. “Lagipula dengan konsep hidroponik, kita bisa memakainya berkali-kali, jadi konsep ini sangat praktis dan ekonomis,” katanya.

Pembuatan Mudah dan Murah

menjelaskan bahwa pembuatan media bertanam sayuran dengan konsep hidroponik tidaklah sulit. Begitu pula dengan bahan-bahan yang digunakan cukup mudah untuk didapatkan. Dari sisi ekonomi cukup murah, secara teknis, pembuatannya cukup mudah.

Hal pertama kali dilakukannya sebelum membuat bak-bak yang akan dijadikannya sebagai media tanam sanyuran, dirinya melakukan pembersihan lahan untuk lokasi penempatan bak. “Pembuatannya tidak sulit, bisa dengan menggunakan pipa, atau bisa juga menggunakan bak,” katanya.

Jika menggunakan pipa, maka pipa tersebut harus disambung-sambung hingga berbentuk pola yang mana dari pola tersebut nantinya bisa berdiri tegak. Sebagai tempat untuk memasukan benih, di bagian atas pipa, yakni yang nantinya menjadi tempat tumbuhnya benih harus dilubangi dengan diameter sekitar 4 cm. Pipa-pipa yang saling tersambung tersebut di bagian ujung paling bawah diarahkan ke dalam bak penampung air yang berlebih. “Dengan menggunakan pipa, biaya yang keluar kebanyakan terfokus pada pengadaan pipa,” ujarnya.

Kemudian jika menggunakan media bak, bahan-bahan yang digunakan bisa jadi akan lebih murah. Bahan-bahan yang digunakan di antaranya bambu, papan, terpal, plastik, stirofom. Bahan-bahan tersebut bisa dibeli dengan harga yang murah.
Yang pertama kali untuk membuat bak tersebut di antaranya dengan membuatnya sebagaimana bak pada umumnya. Setelah selesai dibuat bak, terpal dibentangkan agar bisa menampung air. “Setelah terpal terpasang, dites dulu agar tidak bocor,” katanya.

Dikatakannya, setelah bak berisi air yang mana kedalaman tidak melebihi ketebalam stirofom. Stereofom yang sudah tersedia dimasukkan ke dalam bak. Steirofom tersebut sebelum nya juga harus sudah dilubangi terlebih dahulu dengan ukuran diameter 4 cm. Lubang-lubang teersebut berguna sebagai tempat untuk meletakkan benih sayuran yang akan ditanam. Pada dasarnya, steirofom tersebut berfungsi sebagai pengganti media tanah.

Selanjutnya, untuk melindungi benih agar tidak terkena cahaya matahari secara langsung ataupun hujan yang bisa merusak benih yang masih halus, harus dipasang peneduh yang dibuat dari plastik. Peneduh plastik tersebut dibuat melengkung agar air hujan tidak ada yang tempias. “Benih harus terlindung agar tidak rusak,” katanya.

Dikatakannya, dalam beberapa hari, benih yang ditempatkan di dalam steirofom tersebut mulai tumbuh. Sebagaimana umumnya tanaman sayuran, bisa dipanen setelah berusia 40 hari. Selama berkembang, akar tanaman akan mencari air yang meresap di steirofom.

Ia menjelaskan, steirofom tersebut nantinya bisa digunakan untuk bertanam sayuran selama berkali-kali. Hal tersebut merupakan kelebihan dari bertanam dengan konsep hidroponik yang mana media tanam dapat digunakan berulang kali tanpa harus mengganti medianya.

Cukup dengan menggantikan air dan membersihkan steirofom yang kemudian mendiamkannya beberapa hari kemudian bisa digunakan untuk meletakkan benih. “Bak ini sudah digunakan berkali-kali dari 1,5 tahun yang lalu,” katanya lagi.
Untuk lebih praktis lagi dalam penggunaan bahan dan tempat, bak bisa dibuat dengan teknik bertingkat dua. Dengan demikian, dalam satu bangunan bak bisa memanen lebih banyak sayuran.

Dia sendiri kini memiliki bak untuk bertanam sayuran dengan konsep hidroponik sebanyak 5 unit. Dari keseluruhan bak tersebut dirinya terdapat lebih dari 1.400 batang.

Konsep hidroponik juga memiliki kelebihan dalam hal kemudahan melakukan pemanenan. Sayuran yang sudah siap dipanen cukup dicabut saja. Hal tersebut jauh lebih mudah dibandingkan dengan sayuran ditanam di media tanah. Sama halnya dalam membersihkan sayuran. “Karena ini tidak ditanam di tanah, jadi pembersihannya cukup mudah,” katanya. Begitu juga dalam menyiapkan penanaman selanjutnya.

Dikatakannya, steirofom yang sebelumnya digunakan harus dibersihkan terlebih dahulu agar akar dan lumut yang melekat bisa dikikis. Begitu juga dengan air yang berada di dalam bak juga harus dibuang dan diganti dengan air yang baru. “Kalau mau panen, tinggal cabut saja,” katanya sambil mengangkat serumpun selada keriting yang menempel di steirofom dan siap untuk dipanen.

Dengan mudahnya pemanenan, dirinya tak jarang melibatkan anaknya untuk ikut memanen sayurannya. Dengan demikian, dirinya juga bisa mewariskan kegemarannya bercocok tanam. “Mudah-mudahan konsep bertanam hidroponik ini bisa menjadi solusi bagi masyarakat yang ingin menanam sayuran namun tidak memiliki lahan yang cukup ataupun terbatas,” katanya.

Modal Kecil, Untung Setiap Hari

Meskipun media tanam yang digunakan termasuk sederhana, namun dari situ Albana bisa mendapatkan keuntungan yang tidak sedikit. Ia mengaku hanya mengeluarkan modal Rp 500.000 untuk membuat media tanam berupa bak yang terbuat dari terpal, papan, pipa, sterofom, bambu dan bahan lainnya yang mudah dan murah.

Kini, dari panen yang bisa dilakukan setiap hari, dirinya bisa menjual sayuran dengan harga yang kompetitif. Dikatakan Albana, konsep bertani hidroponik yang dimulainya sejak 1,5 tahun lalu cukup menguntungkan bagi dirinya. Dari bak yang sama, dirinya bisa memanen sayuran berkali-kali dengan cara yang sangat mudah. “Kita cukup membuang airnya saja, kemudian mengganti bibitnya,” katanya.

Ia menjelaskan, dengan konsep hidroponik ternyata juga telah memangkas ongkos produksi secara signifikan. Dari penggunaan media yang ada, ia hanya cukup membersihkan sisa tanaman yang ada, menggantikan air kemudian didiamkan beberapa saat untuk selanjutnya mulai ditanami kembali.

Selain itu, dari sisi modal, dari setiap kilogram sayuran yang bisa dipanennya, dirinya hanya mengeluarkan modal Rp 4.000. Padahal sayuran yang dijualnya bisa laku dengan harga Rp 8.000 perkilogram. Dengan demikian, menurutnya, konsep hidroponik potensial untuk dikembangkan bagi masyarakat yang ingin bercocok tanam di lahan yang terbatas.

Ia menjelaskan, dari keseluruhan sayuran yang ditanamnya, setiap hari dirinya bisa memasarkan sayuran kepada pelanggan sebanyak 2 – 3 kg per hari. Jika dihitung secara total selama sebulan, dirinya bisa menjual sebanyak 60 kilogram. Dengan harga jual Rp 8.000 per kilogramnya, maka dirinya bisa mendapatkan keuntungan sebesar Rp 480.000. Dari situ, modal awal yang dikeluarkannya di awal memulai bertanam dengan konsep hidroponik bisa kembali dalam masa panen tak sampai dua kali. “Sayuran ini bisa dipanen di usia 40 hari, ini sudah 1,5 tahun, dan tidak keluar modal lagi karena ini bisa digunakan berkali-kali,” katanya.

Saat ini dirinya sudah memiliki pelanggan tetap yang mana akan selalu mau dengan senang hati untuk membeli sayuran darinya. Hal tersebut khususnya dikarenakan sayuran organik memiliki rasa yang lebih gurih daripada sayuran yang tidak diperlakukan secara organik.

Dengan perkembangan yang ada, dirinya semakin semangat untuk terus mengembangkan konsp hidroponik dan mengajak kepada siapapun yang berkeinginan untuk bertanam dengan pola sederhana namun tetap menguntungkan agar mau bertanam dengan konsep hidroponik.

“Ya, apalagi sekarang lahan untuk bertanam semakin sempit, maka di sini perlu lebih kreatif paling tidak untuk mencukupi kebutuhan akan sayuran di daerah sekitar, kalau sudah berkembang dengan lebih besar, baru skala pemasaran juga harus lebih luas lagi,” katanya.

Dikatakannya, karena sayuran yang dipanennya merupakan produk organik, dalam memasarkannya pun menggunakan cara yang berbeda dengan yang biasanya dilakukan petani sayuran lainnya. Dirinya selalu memberitahukan kepada calon pelanggan bahwa dirinya akan memanen sayuran dengan kualitas yang baik dan terjamin serta bersedia mengantarkannya ke pelanggan secara langsung jika berkeinginan untuk membeli.

“Dengan cara memasarkan seperti itu, jadinya lebih efektif, karena kita juga mendapatkan kepastian pelanggan,” katanya.
Dengan cara pemasaran tersebut, menurutnya memberikan keuntungan yang lebih banyak. Tidak hanya secara ekonomis, namun secara sosial juga bisa menjadi media untuk berkomunikasi dengan pelanggan dan menyosialisasikan cara hidup sehat melalui pola konsumsi pangan yang sehat. Dengan demikian, menurutnya bisa menjadikan pelanggan sebagai mitra dalam mengembangkan pola pertanian yang sehat dan ramah terhadap lingkungan. (Dewantoro)

Sumber: Harian Medan Bisnis, 15 Oktober 2012, Hal 4.

Search

Arsip

Desa Penerap SID di Sumut

https://www.youtube.com/watch?v=Yg5mzpjmOrI

Data Kelompok

Kab/Kota Lk Pr Jlh Jlh Kel
Langkat 173 142 315 12
Binjai 26 31 57 3
Deli Serdang 783 766 1549 31
Serdang Bedagai 815 620 1435 49
Tebing Tinggi 36 126 162 5
Batu Bara 26 170 196 5
Lab Batu Uatara 490 306 796 2
Jumlah 2349 2161 4510 107