Info Penting
Selasa, 16 Jul 2024
  • Kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, sistem pangan dan energi, produktivitas ekonomi dan integritas lingkungan semuanya bergantung pada siklus air yang berfungsi dengan baik dan dikelola secara adil. Kita harus bertindak berdasarkan kesadaran bahwa air bukan hanya merupakan sumber daya yang dapat digunakan dan diperebutkan – namun merupakan hak asasi manusia, yang melekat pada setiap aspek kehidupan. ---Hari Air Sedunia tahun 2024 adalah 'Air untuk Perdamaian'.---
  • Kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, sistem pangan dan energi, produktivitas ekonomi dan integritas lingkungan semuanya bergantung pada siklus air yang berfungsi dengan baik dan dikelola secara adil. Kita harus bertindak berdasarkan kesadaran bahwa air bukan hanya merupakan sumber daya yang dapat digunakan dan diperebutkan – namun merupakan hak asasi manusia, yang melekat pada setiap aspek kehidupan. ---Hari Air Sedunia tahun 2024 adalah 'Air untuk Perdamaian'.---

BITRA Kembangkan Pertanian Permakultur Yang Ramah Lingkungan dan Iklim

Selasa, 29 Maret 2022

Meski memproduksi pangan sebagai element asupan yang paling penting bagi kehidupan manusia, namun dunia pertanian konvensional berkontribusi cukup besar bagi pemanasan gobal (global warming), menurut Food and Agriculture Organization (FAO) badan pangan dan pertanian PBB (UN), pertanian dan aktivitas pengelolaan lahannya menyumbang 20,4% terhadap emisi gas rumah kaca (GRK), di urutan pertama adalah listrik dan sumber panas lain (25%), sedang di bawah dunia pertanian ada aktivitas industri (17,9%), selanjutnya aktivitas transportasi (14%), energi lainnya, sampah makanan, bangunnan dan yang lainnya.

Jadi pertanian konvensional, selain merusak lingkungan juga menyumbang besar (pada urutan ke 2) terhadap global warming. Belakangan waktu muncul konsep pertanian polikultur/wanatani/tumpangsari dan instilah lainnya, terhadap pertanian yang menganut tanaman beragam sebagai koreksi pertanian monokultur (tanaman sejenis dalam hamparan yang luas) dan polikultur dianggap pertanian yang sangat ramah lingkungan. Konsep dan praktik pertanian yang paling baru adalah pertanian model permakultur.

Permakultur merupakan kata serapan yang disadur dari bahasa Inggris, yaitu permaculture, sebagai singkatan dari permanent agriculture. Artinya, pertanian dengan tatanan kehidupan yang lestari, terus menerus, dan permanen. Maka dari itu, permakultur memegang erat prinsip keseimbangan dan berkelanjutan.

Pertanian permakultur mulai dipelajari BITRA Indonesia sekitar 3 tahun yang lalu dari salah satu lembaga pengembang permakultur di Indonesia, yakni IDEF Foundation di Bali. Kini BITRA menerapkannya pada basis-basis dampingan di pedesaan. Seperti aktifitas yang dilakukan di desa Sukamandi Hulu, Pagar Merbau, Deli Serdang, kemarin, Sabtu 27 Maret 2021. BITRA Bersama kelompok tani dampingan membuat pakan ikan organik, “pembuatan pakan ikan dilakukan karena di desa ini banyak petani memelihara ikan di kolam, saluran irigasi depan rumah dan lahan sawah, dengan maksud agar petani dapat memanfaatkan limbah kehidupan sekitar, menghasilkan ikan yang sehat untuk asupan gizi bagi keluarga petani dan konsumsi orang lain secara umum, jika ikan yang diproduksi surplus bagi kebutuhan keluarga petani.” Demikian penjelasan panjang Berliana Siregar, Manager Program Community Development (ComDev) BITRA Indonesia pada bitraorid.

“Aktifitas pertanian permakultur selain sangat baik bagi lingkungan, selaras dengan alam, secara ekonomi juga akan meningkatkan pendapatan petani dan yang paling penting adalah juga mengurangi ketergantungan keluarga petani pada asupan ikan yang terkontaminasi residu bahan kimia dari pasar luar.” tambah Berliana.

Permakultur memiliki konsep yang serupa dengan konsep pertanian terpadu dan pertanian organik, namun permakultur memberi penekanan pada desain, perencanaan pertanian dan integrasinya dengan implementasi berupa praktek pertanian. Permakultur berangkat dari pemikiran Bill Mollison & David Holmgren (1978), “bekerjalah dengan alam, bukan melawannya”. Manusia berperan sebagai desainer untuk kehidupannya sendiri dan memiliki tanggung jawab terhadap masa depannya dan bumi. Prinsip utamanya adalah bertanggung jawab akan eksistensi manusia dan keturunannya, termasuk menjaga keberlangsungan puspa, satwa, dan makhluk hidup lainnya.

Dasar etik dari Permakultur yaitu (1) Peduli akan bumi: bagaimana kita menyediakan semua sistem kehidupan (elemen hidup dan mati) untuk tetap berkelanjutan dan bertambah, (2) Peduli akan manusia: bagaimana kita memperluas akses sumber daya yang diperlukan untuk keberlangsungan hidup manusia, dan (3) Pengaturan batas konsumsi dan populasi: bagaimana kita mengatur seberapa banyak kebutuhan sendiri, sehingga kita bisa menyisihkan sumber daya untuk masa depan. “Apa yang kita ambil, harus kita kembalikan”, dan “alam membutuhkan pengembalian dari apa yang sudah diterima manusia”, prinsif ini menjadi kode etik dalam permakultur, sehingga dalam penerapannya harus memiliki perancangan ekologis yang bisa membangun sistem pemanfaatan energi, baik energi yang masuk maupun yang keluar secara efisien.

Liputan JUGA  Rencana Mutasi Pejabat, Dinkes Pacitan Hendak “Bedol Deso”?

Sebagai lembaga pemberdaya masyarakat pedesaan, untuk mencapai pembangunan desa pertanian model permakultur, pada minggu yang sama, BITRA Indonesia juga melakukan pembelajaran dan praktik pembuatan asupan organik bagi pertanian, membuat pupuk organik cair, pupuk organik padat dan pestisida nabati dengan memanfaatkan sumberdaya lokal yang alami dan berlimpah di desa seperti salah satunya kotoran ternak. “Model ini menjadi desain dan praktek paling tepat ditengah usaha tani pertanian yang saat ini menggunakan asupan yang merusak bumi, kesehatan dan masa depan. Kata Sudarmanto, staf lapangan ComDev, BITRA.

 

“Bukan hanya belajar teknis pertanian permakultur, bersama-sama petani, kita juga belajar dan berdiskusi substansi dan menganalisa persoalan besar yang terjadi dan dihadapi petani. Dari praktik-praktik kecil di lapangan, kita bersama coba merangkai bahwa teknik-teknik ini berdampak cukup besar untuk mendorong kedaulatan petani. Teknik lapangan ini sangat erat kaitannya dengan peningkatan ekonomi petani, menjaga ekologi, kesehatan serta kedaulatan petani itu sendiri. Proses desain ekologis untuk mewujudkan permakultur dapat diterapkan melalui metode dan langkah SADAR (Survey, Analisis, Desain, dan Rencana) dan TREO (Terapkan, Rawat, Evaluasi, dan Oprek).” Sambung Quadi Azam, staf Advokasi, BITRA. (Isw)

 

Kegiatan Lainnya