Di tengah gempuran makanan instan dan tren kuliner modern, Ibu Suraseh memilih jalan berbeda: melestarikan rasa khas Indonesia melalui kue tradisional. Usaha yang ia rintis sejak tahun 2020 di Dusun III Setia Damai, Desa Mekar Makmur, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat, bukan sekadar bisnis rumahan—melainkan bentuk cinta terhadap warisan rasa dan strategi untuk membangkitkan ekonomi keluarga.
“Pembuatan yang mudah dan simpel, tetapi banyak yang minat. Alasan saya berjualan kue ini adalah untuk meningkatkan ekonomi keluarga serta mengembangkan UMKM di desa ini maupun desa lainnya,” ujarnya, Sabtu 6 September 2025, saat JWD Mekar Makmur berkunjung ke rumahnya.
Di usia 45 tahun, Ibu Suraseh telah menjadi sosok inspiratif bagi masyarakat sekitar. Berbekal bahan seadanya dan resep turun-temurun, ia mampu menghasilkan jajanan yang autentik dan digemari lintas generasi. Mulai dari kue lapis, lemper, onde-onde, kue dadar, hingga gorengan—setiap hidangan membawa nostalgia dan kehangatan.
Usahanya tak hanya menopang kebutuhan sehari-hari, tetapi juga membantu biaya pendidikan anak-anaknya yang sedang berkuliah. Dari dapur sederhana, ia membuktikan bahwa tradisi bisa menjadi sumber kekuatan ekonomi.
Tak berhenti di situ, Ibu Suraseh juga memanfaatkan media sosial seperti Facebook untuk memasarkan dagangannya. Strategi digital ini memperluas jangkauan pembeli dan membuka peluang kolaborasi antar pelaku UMKM lokal.
Melalui usaha yang sederhana namun bermakna, Ibu Suraseh menunjukkan bahwa menjaga tradisi bukanlah hal kuno—melainkan langkah maju yang membangkitkan ekonomi, memperkuat identitas, dan menghubungkan generasi. (Nova Elsyani | JWD Mekar Makmur)
Tinggalkan Komentar