Di bawah terik matahari yang membakar semak belukar, tiga turis asing—dua dari Kanada dan satu dari Amerika—melangkah penuh semangat. Meski tengah menjalani ibadah puasa, mereka tetap mendaki bukit, menerobos rimbun semak demi satu tujuan: menyaksikan langsung mamalia besar yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Dusun V Damar Hitam, Desa Mekar Makmur, Kec Sei Lepan, Langkat. Rasa ingin tahu dan keinginan untuk memahami alam membuat segala rintangan seolah bukan penghalang.
Selama bertahun-tahun, keberadaan gajah liar di kawasan ini dianggap sebagai ancaman. Para petani kelapa sawit kerap merugi akibat ladang yang dirusak. Namun perlahan, perspektif mulai bergeser. Kehadiran wisatawan asing membuka mata bahwa apa yang dulu dianggap musibah bisa menjadi peluang.
Lahirnya Lembaga Permata Rimba Damar Hitam (LPRD) menjadi tonggak penting. Lembaga swadaya masyarakat ini hadir untuk membantu warga dalam penanganan konflik manusia–satwa. Melalui wadah ini, seorang pelaku pariwisata asal Stabat, Jackson Andi Hutahean, melihat potensi besar: gajah liar sebagai daya tarik ekowisata. Berkat gagasannya, beberapa turis asing kini datang khusus untuk menyaksikan kehidupan gajah di habitat alaminya.
Dalam diskusi bersama warga, Jackson menekankan pentingnya teknologi sederhana untuk mendukung konservasi. “Dengan memasang kamera trap di jalur yang sering dilalui gajah, kita bisa lebih mudah mendeteksi keberadaan dan pergerakan mereka,” ujarnya. Langkah ini bukan hanya membantu masyarakat, tetapi juga memperkuat upaya menjaga keseimbangan ekosistem.
Damar Hitam ternyata menyimpan lebih dari sekadar gajah. Jejak Harimau Sumatera yang tampak jelas di jalan setapak menjadi bukti bahwa lingkungan sekitar dusun masih terjaga. Wisatawan pun bersuka cita melihat tanda-tanda kehidupan satwa langka itu, merasa seolah menyentuh sisi liar Sumatera yang penuh misteri.
Ketika ditanya tentang pengalaman berpuasa sambil berwisata di Indonesia, Olivia, turis asal Kanada, tersenyum puas. “Sangat haus dan lapar, tapi ini menyenangkan. Apalagi saat bertemu gajah tadi, rasa haus dan lapar langsung hilang,” ungkapnya.
Kisah ini menunjukkan bahwa pariwisata bukan sekadar perjalanan, melainkan jembatan antara manusia dan alam. Dusun V Damar Hitam kini bukan hanya cerita tentang konflik, tetapi juga tentang harapan, bagaimana masyarakat, wisatawan, dan alam bisa hidup berdampingan, saling memberi berkah. (Suparno | JWD Damar Hitam)
Tinggalkan Komentar