Damar Hitam, 17 Maret 2026 – Senyum para petani coklat di Dusun V Damar Hitam, Desa Mekar Makmur, Kec Sei Lepan, Langkat, kini berubah menjadi keluhan. Harga coklat kering yang dulu dianggap sebagai penopang ekonomi keluarga, kini merosot tajam. Jika pada awal 2025 harga bisa mencapai Rp100.000–130.000 per kilogram, awal tahun ini petani hanya menerima Rp25.000 per kilogram dari pengepul. Perbedaan yang begitu mencolok membuat semangat mereka merawat kebun perlahan memudar.
Dewi (40), seorang petani coklat, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. “Dulu jual 5 kilogram coklat bisa dapat Rp500–600 ribu. Sekarang cuma Rp100 ribu. Kalau begini terus, jadi malas ngerawat kebun,” ujarnya dengan nada getir.
Hal serupa dirasakan Supardi, petani lain di dusun tersebut. Ia mengaku kehilangan motivasi untuk merawat kebunnya. “Rasanya nggak semangat ke kebun dengan harga yang tidak memadai. Biarlah dulu semak, nanti kalau mahal baru dibersihkan lagi,” katanya.
Di sisi lain, Sahrul, seorang pengepul asal Tanjung Pura, menjelaskan bahwa anjloknya harga bukan tanpa sebab. Menurutnya, saat ini banyak daerah sedang mengalami panen raya, sementara permintaan pasar justru lesu. Kondisi ini membuat harga coklat jatuh di tingkat petani. “Permintaan sepi, panen melimpah. Itu yang bikin harga rendah,” terangnya.
Para petani di Damar Hitam kini hanya bisa berharap pada pemerintah. Mereka mendesak agar ada solusi nyata, terutama dalam hal pemasaran. Dukungan kebijakan yang mampu menstabilkan harga dianggap penting agar jerih payah mereka tidak sia-sia.
“Kami ingin harga yang layak, supaya semangat merawat kebun kembali. Kalau pemerintah bisa bantu pemasaran, kami yakin petani akan lebih bergairah lagi,” harap Dewi. (Suparno | JWD Damar Hitam).
Tinggalkan Komentar