Di sebuah sudut tenang Dusun IV Tani Makmur, Desa Mekar Makmut, Kec Sei Lepan, Langkat aroma pisang goreng dan suara renyah keripik menjadi bagian dari keseharian. Di sanalah Ibu Sriwarni, seorang pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) lokal, meracik keripik pisang nangka yang bukan hanya menggoda lidah, tapi juga mengikat hati pelanggannya.
Salah satu pelanggan setia, Ibu Misri, telah jatuh hati pada cita rasa gurih dan rapuh keripik buatan tangan Ibu Sriwarni sejak tahun 2018. Bagi beliau, keripik ini bukan sekadar camilan—ia adalah bagian dari rutinitas, dari kebersamaan, dari rasa yang tak pernah mengecewakan.
“Gurihnya pas, renyahnya bikin ketagihan. Harganya Rp 40.000 per kilo itu wajar banget untuk rasa seenak ini,” ujar Ibu Misri sambil tersenyum.
Tak hanya menikmati, Ibu Misri juga aktif memberi masukan. Ia bahkan merekomendasikan varian baru: keripik ubi pedas. “Bumbunya nggak pelit, rasanya mantap,” tambahnya, menunjukkan betapa relasi antara pembeli dan penjual bisa tumbuh menjadi kolaborasi rasa.
Cinta terhadap keripik ini pun menular. Ibu Panija, kerabat Ibu Misri, mengaku menjadikan keripik pisang nangka sebagai teman santai sehari-hari. Bagi keluarga mereka, keripik ini bukan hanya camilan, tapi juga oleh-oleh wajib saat berkunjung ke rumah sanak saudara.
“Kalau pulang kampung, pasti bawa keripik Ibu Sriwarni sebagai oleh-oleh Saya. Rasanya udah jadi bagian dari keluarga,” ungkap Ibu Panija.
Di balik setiap lembar keripik yang renyah, ada cerita tentang kepercayaan, konsistensi, dan rasa yang dijaga dengan sepenuh hati. Ibu Sriwarni bukan hanya menjual makanan, ia merawat hubungan—dengan pelanggannya, dengan tradisi, dan dengan cita rasa lokal yang terus hidup. (Desi Rama Saputri | JWD Mekar Makmur)
Tinggalkan Komentar