Usaha ini telah dijalankan sejak tahun 2005. Tanpa bantuan dari pihak luar, Ibu Sriwarni mengandalkan dukungan penuh dari keluarga dalam menjalankan usahanya. Kini, dari keripik saja, Ibu Sriwarni mampu meraih omzet hingga Rp500.000 per minggu. Produk keripiknya dijual dengan harga Rp40.000 per kilogram, di luar pendapatan dari produk-produk makanan lainnya.
Awalnya, pembuatan keripik pisang nangka hanya dimaksudkan sebagai usaha sampingan untuk menambah penghasilan keluarga. Namun, karena kualitas rasa yang terjaga, tetangga dan kerabat mulai tertarik dan memesan secara rutin. Melihat peluang ini, Ibu Sriwarni memberanikan diri untuk memperluas pemasarannya.
Dalam memasarkan produknya, Ibu Sriwarni menerapkan strategi sederhana namun efektif. Ia memanfaatkan media sosial seperti Facebook dan WhatsApp, serta jaringan pertanian lokal untuk memperkenalkan produknya ke khalayak yang lebih luas.
Tantangan dan Harapan
Menjalankan usaha rumahan tentu bukan tanpa tantangan. Ibu Sriwarni mengakui bahwa ia harus pandai membagi waktu antara mengurus rumah tangga dan memproduksi makanan. Namun, berkat semangat yang tinggi serta dukungan dari suami dan anak-anaknya, ia mampu mengatasi berbagai hambatan tersebut.
Ke depan, Ibu Sriwarni berharap dapat mengembangkan usahanya lebih jauh, baik dari sisi produksi maupun pemasaran. Ia bermimpi suatu saat bisa memiliki tempat produksi yang lebih besar dan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.
Oleh Irma Yanti, Penulis adalah Peserta Pelatihan JWD Mekar Makmur, Kecamatan Sei Lepan. Langkat