Pada pertemuan perdana Sekolah Lapang Iklim (SLI), kelompok tani Horas Jaya, desa Panombeian mengikuti materi pengantar perubahan iklim yang difasilitasi oleh Iswan Kaputra dari BITRA Indonesia.
Dipimpin Ketua Kelompok, Riama Simanjuntak, kelompok tani Horas Jaya membuat pupuk organik dan pestisida nabati yang bahannya berasal dari ketersediaan/kekayaan alam pada lingkungan sekitar desa.
Kelompok Horas Jaya juga mencari/mengumpulkan pupuk dari kotoran kambing, sapi dan kerbau yang tercecer karena digembalakan pada kebun sawit masyarakat, kotoran dikumpulkan untuk dibawa pada lahan sawah, pertanian pangan padi organik mereka.
Tim dari BITRA Indonesia, audiensi kepada pihak Balai Besar Wilayah Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sumatera Utara untuk menjalin kerja sama dan saling berbagi ilmu pengetahuan dengan masyarakat tani dampingan BITRA pada SLI yang akan dilakukan pada desa-desa dampingan BITRA Indonesia.
Petani pemandu dan petani peserta turun ke sawah untuk melakukan agro eco system analysis (AESA), mengamati, mencatat, mendeskripsikan dan mempresentasikan serta merumuskan alternatif solusi yang dihadapi. “Proses mingguan secara berkesinambungan (learning cycle base on experience and learning by doing) diharapkan menumbuhkan semangat untuk kembali bertani, melahirkan berbagai inovasi upaya adaptasi dampak anomali iklim, bahkan lahirnya pemimpin pemimpin petani di tingkat lokal. Ucap Berliana Siregar, Manager Divisi Community Development and Envirovment (CDE) BITRA Indonesia. (Isw)