Dra. Rusdiana, Direktur Yayasan BITRA Indonesia, dalam kata sambutannya menyatakan, “Pendidikan gender ini bukan hanya tentang memberi pengetahuan, tetapi juga membangun keberanian dan kesadaran bahwa perempuan memiliki peran yang sama pentingnya dengan laki-laki dalam semua aspek kehidupan. Kami berharap melalui pelatihan ini, para peserta tidak hanya memahami konsep gender, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik di keluarga maupun di komunitas mereka.”
Pendidikan gender dasar ini menggunakan metode pendidikan populer yang partisipatif, di mana proses pembelajaran dilakukan secara dua arah, terbuka, dialogis, dan saling menguatkan. Fasilitator bertindak sebagai pengarah yang membantu peserta untuk memahami konsep-konsep yang disampaikan, sambil mendorong mereka untuk aktif berdiskusi dan bertukar pikiran.
Kegiatan ini diikuti oleh 26 peserta yang terdiri dari perempuan dan laki-laki dari kelompok dampingan BITRA Indonesia. Peserta berasal dari berbagai daerah di empat kabupaten, yakni Langkat, Deli Serdang, Serdang Bedagai, dan Simalungun. Pelatihan ini dipandu oleh dua fasilitator dari Yayasan BITRA Indonesia, yaitu Dra. Rusdiana dan Erika Rosmawati Situmorang, SH.
Melalui pendidikan ini, Yayasan BITRA Indonesia mengambil langkah nyata dalam mengatasi ketidakadilan gender di masyarakat. Dengan meningkatnya pemahaman dan kesadaran kritis di kalangan peserta, diharapkan mereka dapat berperan lebih aktif dalam menciptakan masyarakat yang lebih adil dan setara gender. Kegiatan ini bukan hanya sekadar pelatihan, tetapi juga sebuah upaya penting untuk memberdayakan perempuan dan memperkuat peran mereka dalam keluarga, masyarakat, dan pembangunan nasional.
Penutup dari Dra. Rusdiana menegaskan pentingnya pendidikan ini, “Kami di BITRA percaya bahwa kesetaraan gender adalah fondasi bagi masyarakat yang lebih adil dan sejahtera. Melalui pendidikan ini, kami berharap dapat mencetak generasi yang sadar dan peka terhadap pentingnya kesetaraan gender, serta siap menjadi agen perubahan di lingkungannya masing-masing.” Pendidikan Gender Dasar: Upaya Nyata Mengatasi Ketidakadilan Gender
Dra. Rusdiana, Direktur Yayasan BITRA Indonesia, dalam kata sambutannya menyatakan, “Pendidikan gender ini bukan hanya tentang memberi pengetahuan, tetapi juga membangun keberanian dan kesadaran bahwa perempuan memiliki peran yang sama pentingnya dengan laki-laki dalam semua aspek kehidupan. Kami berharap melalui pelatihan ini, para peserta tidak hanya memahami konsep gender, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik di keluarga maupun di komunitas mereka.”
Pendidikan gender dasar ini menggunakan metode pendidikan populer yang partisipatif, di mana proses pembelajaran dilakukan secara dua arah, terbuka, dialogis, dan saling menguatkan. Fasilitator bertindak sebagai pengarah yang membantu peserta untuk memahami konsep-konsep yang disampaikan, sambil mendorong mereka untuk aktif berdiskusi dan bertukar pikiran.
Kegiatan ini diikuti oleh 26 peserta yang terdiri dari perempuan dan laki-laki dari kelompok dampingan BITRA Indonesia. Peserta berasal dari berbagai daerah di empat kabupaten, yakni Langkat, Deli Serdang, Serdang Bedagai, dan Simalungun. Pelatihan ini dipandu oleh dua fasilitator dari Yayasan BITRA Indonesia, yaitu Dra. Rusdiana dan Erika Rosmawati Situmorang, SH.
Melalui pendidikan ini, Yayasan BITRA Indonesia mengambil langkah nyata dalam mengatasi ketidakadilan gender di masyarakat. Dengan meningkatnya pemahaman dan kesadaran kritis di kalangan peserta, diharapkan mereka dapat berperan lebih aktif dalam menciptakan masyarakat yang lebih adil dan setara gender. Kegiatan ini bukan hanya sekadar pelatihan, tetapi juga sebuah upaya penting untuk memberdayakan perempuan dan memperkuat peran mereka dalam keluarga, masyarakat, dan pembangunan nasional.
Penutup dari Dra. Rusdiana menegaskan pentingnya pendidikan ini, “Kami di BITRA percaya bahwa kesetaraan gender adalah fondasi bagi masyarakat yang lebih adil dan sejahtera. Melalui pendidikan ini, kami berharap dapat mencetak generasi yang sadar dan peka terhadap pentingnya kesetaraan gender, serta siap menjadi agen perubahan di lingkungannya masing-masing.”