Meide Yarni, SST, MKM, perwakilan dari Dinas P3AKB Kabupaten Langkat, menekankan pentingnya peran perempuan dalam pembangunan desa. "Agar perempuan mendapatkan tempat yang sama dalam peran terhadap laki-laki, kita harus menghilangkan pelabelan kurang baik terhadap gender tertentu dan tidak hanya mengutamakan pendidikan pada anak laki-laki. Kegiatan yang ada di kabupaten harus diteruskan ke desa-desa agar pendidikan kesetaraan gender tidak hanya dirasakan di ibu kota kabupaten," ujarnya.
Srianto, Kepala Desa Telaga Jernih, menyampaikan terima kasih kepada BITRA atas terselenggaranya kegiatan ini. "Kegiatan ini menambah wawasan bagi kami agar nantinya PUG ini berkelanjutan, dan masyarakat menerima hasil dari pertemuan perencanaan berbasis gender," katanya.
Dra. Rusdiana, Direktur BITRA, menjelaskan bahwa BITRA bermaksud mendorong penerapan anggaran responsif gender di level desa. "Kami ingin memastikan bahwa kelompok-kelompok inklusi seperti lansia, anak, perempuan marginal, dan disabilitas benar-benar merasakan manfaat dari anggaran responsif gender sehingga mereka bisa terlibat dan merasakan manfaat dari dana desa," ungkapnya.
Dengan adanya diskusi ini, diharapkan pemerintah desa mampu menyusun anggaran yang lebih adil dan responsif terhadap kebutuhan semua lapisan masyarakat. Anggaran Responsif Gender (ARG) tidak hanya bertujuan mengakomodasi keadilan bagi perempuan dan laki-laki dalam memperoleh akses dan manfaat, tetapi juga memastikan partisipasi mereka dalam pengambilan keputusan dan kontrol sumber daya.
Kegiatan ini merupakan langkah konkret untuk mewujudkan pembangunan desa yang inklusif dan adil bagi seluruh warga. Hakikat dari pembangunan adalah kesejahteraan bagi rakyat Indonesia, dan dengan komitmen bersama, tujuan ini diharapkan dapat tercapai. Desa Telaga Jernih Adakan Diskusi Pengarusutamaan Gender dan Perencanaan Pembangunan Responsif Gender
Meide Yarni, SST, MKM, perwakilan dari Dinas P3AKB Kabupaten Langkat, menekankan pentingnya peran perempuan dalam pembangunan desa. "Agar perempuan mendapatkan tempat yang sama dalam peran terhadap laki-laki, kita harus menghilangkan pelabelan kurang baik terhadap gender tertentu dan tidak hanya mengutamakan pendidikan pada anak laki-laki. Kegiatan yang ada di kabupaten harus diteruskan ke desa-desa agar pendidikan kesetaraan gender tidak hanya dirasakan di ibu kota kabupaten," ujarnya.
Srianto, Kepala Desa Telaga Jernih, menyampaikan terima kasih kepada BITRA atas terselenggaranya kegiatan ini. "Kegiatan ini menambah wawasan bagi kami agar nantinya PUG ini berkelanjutan, dan masyarakat menerima hasil dari pertemuan perencanaan berbasis gender," katanya.
Dra. Rusdiana, Direktur BITRA, menjelaskan bahwa BITRA bermaksud mendorong penerapan anggaran responsif gender di level desa. "Kami ingin memastikan bahwa kelompok-kelompok inklusi seperti lansia, anak, perempuan marginal, dan disabilitas benar-benar merasakan manfaat dari anggaran responsif gender sehingga mereka bisa terlibat dan merasakan manfaat dari dana desa," ungkapnya.
Dengan adanya diskusi ini, diharapkan pemerintah desa mampu menyusun anggaran yang lebih adil dan responsif terhadap kebutuhan semua lapisan masyarakat. Anggaran Responsif Gender (ARG) tidak hanya bertujuan mengakomodasi keadilan bagi perempuan dan laki-laki dalam memperoleh akses dan manfaat, tetapi juga memastikan partisipasi mereka dalam pengambilan keputusan dan kontrol sumber daya.
Kegiatan ini merupakan langkah konkret untuk mewujudkan pembangunan desa yang inklusif dan adil bagi seluruh warga. Hakikat dari pembangunan adalah kesejahteraan bagi rakyat Indonesia, dan dengan komitmen bersama, tujuan ini diharapkan dapat tercapai.