Fokus Program

Adaptasi Perubahan Iklim Berbasis Komunitas

Meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap perubahan iklim melalui pendidikan lingkungan, konservasi, dan pengelolaan sumber daya alam.

Terjadinya perubahan iklim dan cuaca yang semakin tidak beraturan (anomali) dan banyak menimbulkan bencana alam, badai, banjir yang semakin parah dan lama surut, kekeringan yang semakin panjang saat musim kemarau, mencairnya es di kutub dan naiknya permukaan air laut (rob) semakin sangat sering terjadi. Belakangan waktu, dunia menyebutnya krisis iklim. Para pihak menengarai hal ini akibat kerusakan lingkungan yang semakin parah. Penebangan hutan secara liar dan tidak terkendali, penggunaan gas freon dan pestisida kimia secara berlebihan, pencemaran udara oleh pabrik maupun kendaraan bermotor, penggunaan plastik dan benda lain yang sulit terurai dalam tanah dan berbagai tindakan atau prilaku tidak peduli kepada lingkungan yang dilakukan baik secara sadar maupun tidak sadar.

Naiknya suhu di permukaan laut maupun daratan bisa menyebabkan sulitnya terbentuk awan pembawa hujan, sehingga musim hujan atau kemarau tidak lagi bisa diprediksi secara tepat. Banyaknya material atau partikel kimia yang tidak dapat terurai dalam tanah, juga menyebabkan kualitas dan daya dukung lahan menurun drastis, sementara kerusakan hutan yang semakin parah memicu terjadinya banjir dan longsor pada musim hujan dan kesulitan air atau kekeringan pada musim kemarau. Penggunaan pestisida dan bahan kimia beracun lainnya telah menyebabkan matinya jutaan bahkan milyaran mikro organisme dalam tanah, sehingga proses pelapukan material organik (dekomposisi) dalam tanah juga terhambat, ini menyebabkan tingkat kesuburan tanah semakin menurun dari waktu ke waktu.

Dampak dari perubahan iklim ini akhirnya dirasakan oleh semua sektor kehidupan, namun dampak terbesar sangat dirasakan di sektor pertanian. Menurunnya kualitas, kesuburan dan daya dukung lahan, menyebabkan produktivitas hasil pertanian juga ikut menurun, begitu juga dengan ketersediaan air yang semakin terbatas dan kualitasnya pun semakin menurun, juga menjadi penyebab terus anjloknya produksi pertanian.

Demikian data dan fakta panjang tentang anomali iklim dan dampaknya yang terungkap dalam seminar dengan “Pangan Ramah Iklim untuk Kehidupan yang Berkelanjutan”, Taman Kolam Alam Sibayak, Desa Tangkahan Durian, Kec. Brandan Barat, Kab. Langkat, tanggal 07 Maret 2023, sebagai salah satu dari rangkaian kegiatan Expo Pangan Sehat dan Sarasehan ke 35 di usia ke 37 tahun Yayasan BITRA Indonesia yang diselenggarakan 7 hingga 8 Maret 2023.