{"id":894,"date":"2012-09-17T12:17:21","date_gmt":"2012-09-17T05:17:21","guid":{"rendered":"http:\/\/bitra.or.id\/2012\/?p=894"},"modified":"2012-09-17T12:21:40","modified_gmt":"2012-09-17T05:21:40","slug":"bertani-organik-merdeka-dari-ketergantungan-luar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/bertani-organik-merdeka-dari-ketergantungan-luar\/","title":{"rendered":"Bertani Organik, Merdeka dari Ketergantungan Luar"},"content":{"rendered":"<div id=\"attachment_896\" style=\"width: 310px\" class=\"wp-caption alignleft\"><a href=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2012\/09\/Organik-Namo-Landur.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-896\" class=\"size-medium wp-image-896\" title=\"Organik-Namo-Landur\" src=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2012\/09\/Organik-Namo-Landur-300x225.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"225\" srcset=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2012\/09\/Organik-Namo-Landur-300x225.jpg 300w, https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2012\/09\/Organik-Namo-Landur.jpg 900w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><p id=\"caption-attachment-896\" class=\"wp-caption-text\">Lahan sawah padi Nurzannah yang akhirnya menjadi percontohan organik bagi petani sekitarnya.<\/p><\/div>\n<p>Pada awalnya saya adalah petani biasa, seperti kebanyakan orang, yaitu bertani secara konvensional, bertani dengan memakai pupuk-pupuk kimia buatan pabrik, memakai racun untuk mengatasi hama dan herbisida untuk mengendalikan gulma.<\/p>\n<p>Pada tahun 2009 saya di ajak oleh seorang\u00a0 teman untuk bertani secara organik, saat itu kebetulan saya menanam padi dan cara budidayanya saya coba ikuti sesuai arahan beliau. Namun padi yang saya tanam malah menjadi ejekan oleh petani lain yang melintas di sawah saya. Itu hal yang wajar, menurut saya karena pada saat itu tampilan dari padi saya bertolak belakang dengan tampilan padi tetangga yang menggunakan bahan kimia, padi mereka tampak hijau, subur dengan daun yang gemulai bila ditiup angin. Namun padi saya tumbuhnya kurus, kaku dengan warna batang daun berwarna kuning. Jangankan orang lain saya sendiripun bingung melihat keadaan padi saya yang dikelola dengan mulai meninggalkan bahan kimia, alias mulai organik tersebut.<\/p>\n<p>Meskipun sudah mencobanya, jujur memang pada saat itu saya belum begitu mengerti apa dan bagaimana itu pertanian secara organik, bahkan terlintas dibenak saya, \u201ckalau memang begini tanaman yang disebut dengan organic\u2026 Lebih baik tidak melakukannya.\u201d Menurut saya, ini hanya omong kosong dapat berhasil!<\/p>\n<p>Hingga pada pertengahan tahun 2010, saya diajak kembali oleh teman untuk mengikuti sekolah lapang (SL) yang difasilitasi dan didampingi oleh BITRA Indonesia, pada saat itu dilaksanakan di Desa Namo Landur Kec. Namo Rambe, diikuti oleh belasan peserta. Sempat saya ragu untuk mengikuti program ini, namun atas dukungan suami, akhirnya saya ikut dalam kegiatan tersebut. Menurut suami saya, bagaimana kita bisa tahu bertani secara organic, dapat berhasil atau tidak jika kita belum melakukannya dengan benar. Suami saya berprofesi sebagai tukang cukur, namun\u00a0 beliau merasa prihatin dengan masyarakat sekarang yang tanpa disadari dan secara tak langsung teracuni oleh bahan makanan yang dihasilkan oleh petani yang memakai pestisida ddan pupuk kimia pada tanaman mereka.<\/p>\n<p>Dengan dukungan suami akhirnya saya mau belajar dengan sungguh-sungguh dan langsung mempraktekkan ilmu dan pengetahuan yang saya dapat kelahan sendiri. Hal yang semula terjadi terulang kembali, saya kembali diejek, ditertawakan oleh tetangga saya yang bertani di sekitar lahan kami. Cemooh tersebut karena bertani secara organik bahan dasarnya adalah kotoran ternak, maka tanaman saya disebut oleh mereka tanaman <em>taik<\/em>! Petani kurang kerjaan! Apalagi pada saat saya menanam padi secara <em>tanam bibit langsung (Tabela)<\/em> saya bahkan dibilang gila! Karena menanam padi tanpa menyemai bibit terlebih dahulu.<\/p>\n<p>Bahkan orangtua kandung saya sendiri, ikut-ikutan tidak mendukung dengan cara saya bertani. Namun saya tidak goyah karena saya telah mendapat gambaran bagaimana cara bertani organik yang benar walau belum sepenuhnya saya kuasai dan saya yakin bisa.<\/p>\n<p><strong>Perkembangan &amp; Keuntungan Organik<\/strong><\/p>\n<p>Tahun pertama memang belum begitu memuaskan hasilnya namun tidak kalah dengan hasil petani konvensional. Pada musim tanam yang kedua mulai dapat dilihat keuntungan-keuntungan dari pertanian organik. Pada saat itu tanaman disekitar rata-rata terkena penyakit dan banyak yang gagal panen, namun tanaman saya jauh lebih sehat dari tanaman konvensional dan hasil panen lebih tinggi. Pada musim tanam ketiga, keuntungan organik semakin banyak dirasakan, tanaman sekitar semua tumbang ditiup angin, tinggallah padi kami yang berdiri tegak, dan pasti hasilnya baik dari segi kualitas maupun kuantitas bahkan harga jual lebih tinggi.<\/p>\n<p>Sejak saat itu, masyarakat yang tadinya mengejek, menertawai, mulai mendekati saya dan ingin tahu <em>tips<\/em> saya dalam bertani, bahkan orangtua saya yang tadinya tidak mendukung secara pelan-pelan mau beralih dari konvensional ke organik, meskipun belum sepenuhnya. Benar kata seorang teman, \u201cbiarkan mereka menertawai, mengejek bahkan meremehkan pertanian secara organik, pada saatnya nanti mereka sendiri yang akan menghampiri kita dan bertanya\u201d. Sekarang terbukti kata-kata itu.<\/p>\n<p>Sewaktu saya bertani masih secara konvensional, maksimal dari hasil padi saya hanya mencapai 4 \u2013 5 ton per-hektar, sekarang dengan sistim organik hasil padi saya dapat mencapai 7 ton per-hektar dan saya yakin kedepan akan dapat mencapai hasil yang lebih. Memang dibandingkan dengann hasil teman-teman yang lebih berpengalaman hasil yang saya capai\u00a0 belum seberapa, namun dibanding\u00a0 hasil sebelumnya saya sudah bersyukur, mengapa tidak dengan modal rupiah yang jauh berkurang\u00a0 dapat mencapai hasil yang lebih meningkat.<\/p>\n<p><strong>Merdeka dari Ketergantungan Luar<\/strong><\/p>\n<p>Tantangan yang paling berat untuk beralih ke organik adalah diri sendiri yang terbiasa dengan hidangan pupuk dan obat-obatan pertisida yang telah tersedia secara instan, memang benar bertani secara organik akan lebih terasa rumit dibandingkan dengan cara konvensional, namun itu semua akan terasa mudah dan tidak berat sama sekali jika dalam pelaksanaannya kita menikmatinya.<\/p>\n<p>Coba bayangkan, kita berkarya dengan tanaman kita dimana mulai dari pembuatan pupuk, baik itu pupuk dasar maupun pupuk susulan, pembuatan pestisida nabati, pembuatan obat perangsang tumbuh batang dan daun, pembuatan perangsang bunga dan bulir, dan masih banyak lagi yang lain, itu semua dapat kita lakukan sendiri tanpa bergantung pada orang lain dan bahannya mudah ditemukan di alam sekitar kita. Jadi dengan bertani organic kita merdeka dari berbagai ketergantungan pada pihak luar. Selain itu, biayanya juga jelas relatif sedikit dan ramah lingkungan.<\/p>\n<p><strong>Keahlian Ber-Organik<\/strong><\/p>\n<p>BITRA Indonesia memberi saya peluang untuk terus menambah ilmu dan pengalaman saya dibidang pertanian organik, saya pernah diiukut-sertakan dalam robongan untuk mengadakan studi banding ke Bali. Saya\u00a0 juga\u00a0 diikut-sertakan oleh BITRA dalam beberapa pelatihan, baik pelatihan di lingkungan BITRA itu sendiri yang dilaksanakan di Training Centre Sayum Sabah (TCSS), saya juga pernah dipercaya oleh BITRA sebagai utusan dari BITRA untuk mengikuti pelatihan training of trainer (ToT) Internal Control System (ICS) di Bogor.<\/p>\n<p>Dalam pelatihan ToT ICS di Bogor tersebut ilmu yang diberi bukan hanya sebatas budidaya pertanian organik, melainkan yang lebih tinggi, yaitu tentang sertifikasi dan mengenal pertanian organik negara luar. Bahkan BITRA mau memberdayakan saya dengan cara mengikutsertakan saya sebagai fasilitator pada pelatihan pertanian organik yang dilaksanakan BITRA\u00a0 di kelompok-kelompok tani lian di luar daerah saya, saya berharap, semoga langkah saya tidak hanya sebatas ini dan berharap dapat berbuat lebih banyak.<\/p>\n<p><em><strong>Nurzanah Beru Ginting<\/strong>, Kelompok Tani Mandiri, Desa Namo Landur, Namo Rambe, Deli Serdang, Sumatera Utara.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada awalnya saya adalah petani biasa, seperti kebanyakan orang, yaitu bertani secara konvensional, bertani dengan memakai pupuk-pupuk kimia buatan pabrik, memakai racun untuk mengatasi hama dan herbisida untuk mengendalikan gulma. Pada tahun 2009 saya di ajak oleh seorang\u00a0 teman untuk bertani secara organik, saat itu kebetulan saya menanam padi dan cara budidayanya saya coba ikuti [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[29],"tags":[30,514],"class_list":["post-894","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-pertanian-organik","tag-khabar-dari-kampung","tag-pertanian-organik"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/894","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=894"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/894\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":898,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/894\/revisions\/898"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=894"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=894"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=894"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}