{"id":5533,"date":"2020-04-29T14:51:10","date_gmt":"2020-04-29T07:51:10","guid":{"rendered":"http:\/\/bitra.or.id\/2012\/?p=5533"},"modified":"2020-05-03T16:22:46","modified_gmt":"2020-05-03T09:22:46","slug":"empati-di-tengah-pandemi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/empati-di-tengah-pandemi\/","title":{"rendered":"Empati di Tengah Pandemi"},"content":{"rendered":"<div id=\"attachment_5552\" style=\"width: 310px\" class=\"wp-caption alignright\"><a href=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/2020\/04\/29\/empati-di-tengah-pandemi\/bantuan-bitra-cegah-covid-19-langkat\/\" rel=\"attachment wp-att-5552\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-5552\" class=\"wp-image-5552 size-medium\" src=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Bantuan-Bitra-cegah-Covid-19-Langkat-300x175.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"175\" srcset=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Bantuan-Bitra-cegah-Covid-19-Langkat-300x175.jpg 300w, https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Bantuan-Bitra-cegah-Covid-19-Langkat.jpg 560w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><p id=\"caption-attachment-5552\" class=\"wp-caption-text\"><em>Tim Relawan dari kelompok-kelompok dampingan BITRA Indonesia, menyerahkan APD sederhana untuk kelompok rentan di Desa Teluk, Kec Secanggang, Kab Langkat melalui Tim Gugus Tugas Covid-19 Desa dan langsung ke masyarakat rentan.<\/em>\u00a0 \u00a0|<\/p><\/div>\n<p><strong>Oleh: J Anto<\/strong><\/p>\n<p>Di tengah situasi ekonomi yang makin membuat masyarakat megap-megap akibat pandemi Covid-19, rasa kemanusiaan tak pernah mati. Setelah gerakan berbagi masker, hand sanitizer, cairan disinfektan, sarung tangan dan baju isolasi, kini lahir gerakan berbagi sembako untuk \u201cwong cilik\u201d.<\/p>\n<p>Minggu (5\/4) siang, sebuah mobil Kijang Inova tiba-tiba berhenti di sebuah perempatan Jalan Malaka. Lalu lintas sepi. Hanya ada 4 abang becak yang sedang duduk-duduk di atas sadel becak mereka, becak motor (betor) dan dayung. Pandang mata para abang becak itu terlihat kosong menatap ke arah jalanan yang sunyi.<\/p>\n<p>Dari pintu mobil, keluar dua orang laki-laki. Sigap mereka membuka garasi mobil. Sejurus, tangan keduanya terlihat bungkusan plastik. Mereka lalu mendekati empat abang becak itu, menyerahkan bungkusan plastik itu disertai ucapan:<\/p>\n<p>\u201cPak, ini bantuan sembako dari kami, tak seberapa isinya, semoga bisa ikut meringankan beban ekonomi keluarga bapak.\u201d<\/p>\n<p>Rasa kaget bercampur haru menyeruak dari ekspresi wajah para abang becak itu. Mereka menerima bungkusan plastik itu sembari mengucapkan terimakasih. Tanpa banyak membuang waktu lagi, dua laki-laki itu kembali masuk ke dalam mobil. Roda mobil lalu bergerak menuju ke tempat lain.<\/p>\n<p>\u201cKita harus cepat bergerak, tak boleh menunggu terlalu lama, takut datang tukang becak lain lagi, nanti timbul kerumunan,\u201d ujar Rudy Hermanyo, salah seorang dari laki-laki itu. Bungkusan plastik itu berisi beras, gula pasir, teh, minyak goreng dan mie instan.<\/p>\n<p>Siang itu, Rudy Hermanto memang tengah melakukan hunting, menyisir abang-abang becak yang btengah mangkal di sejumlah perempatan jalan di pusat pertokoan. Bekerjasama dengan pengurus Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kecamatan Medan Tembung, mereka melakukan kegiatan bagi-bagi sembako. Para penggiat sosial ini sudah bergerak sejak pukul sebelas siang hingga berakhir pukul lima sore.<\/p>\n<p><strong>Sembako Untuk Abang Becak dan Ojol<\/strong><br \/>\nKenapa abang becak?<\/p>\n<p>\u201cMereka elemen masyarakat yang langsung terdampak pandemi virus Covid-19. Penghasilan dari sewa penumpang anjlok drastis,\u201d tutur Rudy Hermanto saat dihubungi via telpon Rabu (8\/4). Sebanyak 200 paket sembako hari itu berhasil dibagikan ke para abang becak. Menurut Sekretaris PSMTI Medan Tembung, Chin Kiang, organisasinya berpartisipasi menyumbang 100 paket.<\/p>\n<p>\u201cSasaran kami tak hanya abang becak, ojol juga,\u201d ujar Chin Kiang. Melakukan kegiatan sosial, meski dilakukan kecil-kecilan, bukan hal baru baginya. Jauh sebelum pandemi Covid-19 terjadi, tiap Sabtu malam, mulai pukul 22.00 WIB, bersama 6 \u2013 7 anggota \u201cgeng\u201d sepeda motornya, Chin Kiang menyisir emperen-emperan ruko Jalan Asia, Sutomo, Pemuda, Kesawan dan Nibung. Puluhan bungkus nasi goreng mereka bungkus dalam kantong plastik besar.<\/p>\n<p>\u201cKami bagikan untuk tunawisma yang selama ini tidur di emperan ruko,\u201d tuturnya. Pukul sepuluh malamam adalah saat para tuna wisma kembali setelah megemis. Kini saat terjadi pandemi Covid-19, ia lebih banyak memberi bantuan sembako ke kalangan abang becak dan pengemudi ojol. Bagi Chin Kiang, tak penting berapa banyak bantuan sembako diberikan ke kelompok warga yang rentan terimbas secara ekonomi sebagai imbas pandemi virus corona.<\/p>\n<p><strong>Saat Parlemen Jalanan Menenteng Plastik Sembako<\/strong><br \/>\n\u201cYang penting ada kemauan untuk berempati,\u201d katanya. Ia kini banyak bekerjasama dengan Rudy Hermanto dalam melakukan kegiatan sosialnya. Rudy Hermanto yang disebut Chin Kiang, tak lain anggota DPRD Sumut dari Fraksi PDI Perjuangan Sumut.<\/p>\n<p>Sejak pemerintah mengumumkan kebijakan social distancing untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona, Rudy Hermanto emilih menjadi \u201cparlemen jalanan\u201d. Ia aktif terlibat dalam berbagai gerakan sosial berbagi alat-alat kesehatan, baik yang dinisiasi secara pribadi maupun bekerjasama dengan pihak lain seperti PSMTI, sesama aktivis partai termasuk dengan Masyarakat Indonesia Tionghoa Sumut (MITSU).<\/p>\n<p>Tak dipungkiri, sejak masyarakat Medan mengeluhkan terjadinya kelangkaan alat perlindungan diri seperti masker, hand sanitizer dan cairan disinfektan, lahir ragam inisiatif warga untuk membantu mereka yang kesusahan mendapatkan alat-alat pelindung diri untuk terhindar dati penularan virus corona. Imanuel Languyu, pelaku jasa bridal misalnya membuat gerakan bagi masker kain gratis sebanyak 5.000 buah.<\/p>\n<p>Sejumlah anak muda yang menyebut diri gerakan #bergotongroyong, dikoordinir Bobi Septian, meracik hand sanitizer, cairan disinfektan, juga masker kain. Sejak 6 Maret, mereka telah berhasil membagikan 7.000 botol hand sanitizer dan 13.000 masker kain. Gerakan yang dimotori anak-anak muda ini juga telah melakukan penyemprotan desinfektan ke beberapa rumah warga yang ada di 4 kecamatan Medan.<\/p>\n<p>Organisasi masyarakat sipil seperti BITRA Indonesia Medan, juga tak ikut ketinggalan. Lewat Bupati Sergai, Soekirman, Rabu (8\/4), mereka menyerahkan 3.000 tas. Isinya hand sanitaizer, ramuan jamu peningkat daya tahan tubuh, masker dan poster berisi informasi dan himbauan pencegahan Covid-19. Paket 3.000 APD itu akan disalurkan untuk warga desa di Sergai.<\/p>\n<p>Pada saat bersamaan Soekirman Sergai juga menerima bantuan 3.000 butir telur bebek dari Cun Huat, seorang peternak, dan 100 karung beras dari pemilik kilang padi. Keduanya pengusaha UKM, dampingan BITR Indonesia. Bantuan tersebut juga ditujukan untuk masyarakat termiskin yang terdampak Covid-19.<\/p>\n<p><strong>Perjuangan Bersama<\/strong><br \/>\nSementara Ketua Harian MITSU, Juswan Tjoe menyebut hingga saat ini MITSU telah membagikan 119.440 masker, 24.050 sarung tangan 37.289 cairan disinfektan dan sabun, 190 pasang sepatu both, 20 baju isolasi dan 26 unit alat penyemprot. Alat-alat kesehatan untuk membantu paramedis itu telah didistribusikan ke 40 rumah sakit yang ada di Medan dan sekitarnya, Satgas Penanggulan, Poldasu, Kodam I\/BB, Brimob dan Dinas Lingkungan Hidup Deli Serdang.<\/p>\n<p>\u201cMasih ada lagi rumah sakit yang akan kami bantu alat-alat kesehatan, sekarang kami tengah menunggu datangnya pesanan alat-alat tersebut,\u201d ujar Juswan Tjoe saat dihubungi Kamis (9\/4). Menurut Juswan kegiatan MITSU Peduli Covid-19, merupakan bagian dari perjuangan bersama seluruh elemen anak bangsa. Juga sekaligus wujud dukungan terhadap kebijakan pemerintah untuk mencegah meluasnya penyebaran virus corona.<\/p>\n<p>Sebagai organisasi sosial yang pengurusnya merepresentasikan seluruh yayasan suku Tionghoa di Sumut, MITSU menurut Juswan selalu memberi sumbangsih sosial setiap kali muncul bencana di Sumut.<\/p>\n<p>Ratusan ribu alat-alat kesehatan itu telah disalurkan MITSU ke 40 rumah sakit di Medan dan sekitarnya, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provsu, Poldasu, Kodam I\/BB, Brimob dan Dinas Lingkungan Hidup Deli Serdang.<br \/>\nInisiatif berbagai individu, komunitas maupun organisasi sosial dalam gerakan pencegahan penyebaran covid-19, banyak mendapat apresiasi.<\/p>\n<p>\u201cKita memang harus bertindak cepat, tak bisa lagi menunggu pemerintah,\u201d ujar Rudy Hermanto. Belakangan ada hal lain yang membuatnya miris. Sejumlah rumah sakit di daerah, ditengarai tak punya fasilitas rapid test untuk mendeteksi apakah seseorang positif corona atau tidak. Alat rapid test yang didatangkan pemerintah dari Tiongkok hanya berjumlah 105.000 buah. Sebanyak 90.000 buah didistribusikan di Pulau Jawa. Sisanya dibagi untuk sekian puluh provinsi. Jelas itu tak memadai.<\/p>\n<p>\u201cTak heran di daerah, warga yang demam tinggi langsung dikategorikan ODP, tapi sampai kapan, tak jelas,\u201d ujarnya. Galau melihat hal itu. Ia lalu merogoh kocek sendiri, memesan 1.000 alat rapid test corona dari Tiongkok. Sebanyak 20 rapid test sampel sudah datang. Hari Rabu (8\/4), bersama sopirnya, ia langsung berangkat ke Padang Sidempuan. Itu kampung halamannya.<\/p>\n<p>Sebanyak 20 rapid test ia bagikan untuk 3 rumah sakit di Padang Sidempuan, yakni RSU Padang Sidempuan, RS Inanta dan RS Medika. Pada saat yang sama ia juga menyalurkan bantuan dari MITSU, yakni sejumlah alat kesehatan berupa masker, hand sanitizer, sarung tangan, alkohol dan sepatu boots.<\/p>\n<p><strong>Saling Membantu<\/strong><br \/>\nNamun menurut Rudy Hermanto, bantuan alat-alat kesehatan untuk paramedis dan warga saja tak cukup. Ekonomi yang makin memburuk, juga harus mendapat perhatian. Perut yang kosong, katanya, tak bisa dibiarkan berlama-lama. Bisa menimbulkan chaos.<\/p>\n<p>Karena itu ia menghimbau agar berbaga bantuan warga, sebaiknya diarahkan untuk warga yang penghidupannya langsung terdampak akibat pandemi.<\/p>\n<p>\u201cBeri mereka bantuan sembako, urusan alat kesehatan biar jadi tanggungjaqwab pemerintah,\u201d ujarnya. Ia menyebut kini yang dibutuhkan adalah empati membantu rakyat miskin kota. Mereka adalah orang-orang yang menjadi miskin karena kena PHK, pedagang kecil yang bangkrut, abang becak, pengemudi ojol dsb. Jika pada Minggu lalu bersama PSMTI mereka telah berbagi sembako ke sejumlah abang becak, minggu depan ia akan mendatangi komunitas difabel.<\/p>\n<p>\u201cKami berencana membagikan 200 paket sembako lagi,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>MITSU, menurut Juswan Tjoe, juga akan segera menggelar kegiatan sosial, berbagi paket sembako. Proses pemesanan sembako dan pengepakan kini sedang berlangsung. Rencananya seminggu jelang pelaksanaan ibadah puasa dimulai, paket sembako akan mulai dibagikan ke warga tidak mampu menjangkau 70 -80 kelurahan di Medan.<\/p>\n<p>Untuk itu, pengurus MITSU akan berkoordinasi dengan seluruh Lurah di Medan. Tujuannya agar bantuan sembako yang diberikan MITSU bisa tepat sasaran. Paket sembako yang dibagikan nantinya juga akan dilengkapi masker kain. Juswan menegaskan paket pembagian sembako dibagikan tanpa membeda-bedakan ras, etnis atau agama mereka yang dibantu.<br \/>\n\u201cDalam situasi pandemi yang tak tahu kapan berakhir, kita harus saling membantu satu sama lain,\u201d kata Juswan Tjoe. Membantu sesama yang tengah membutuhkan pertolongan memang melintasi suku, agama dan unsur primordialistik lain.<\/p>\n<p><em>Tulisan ini dimuat di Rubrik Cakrawala harian Analisa, Minggu 12 April 2020.<\/em><\/p>\n<p><em>Sumber:\u00a0https:\/\/buntomi.wordpress.com\/2020\/04\/22\/empati-di-tengah-pandemi\/<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: J Anto Di tengah situasi ekonomi yang makin membuat masyarakat megap-megap akibat pandemi Covid-19, rasa kemanusiaan tak pernah mati. Setelah gerakan berbagi masker, hand sanitizer, cairan disinfektan, sarung tangan dan baju isolasi, kini lahir gerakan berbagi sembako untuk \u201cwong cilik\u201d. Minggu (5\/4) siang, sebuah mobil Kijang Inova tiba-tiba berhenti di sebuah perempatan Jalan Malaka. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[800,51,18,813,565],"tags":[899,898,897,512,905],"class_list":["post-5533","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-adaptasi-iklim","category-kesehatan-alternatif-obat-herbal","category-pedesaan","category-penyehat-tradisional-hatra","category-perubahan-iklim","tag-corona","tag-covid-19","tag-pandemi","tag-pedesaan","tag-solidaritas"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5533","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5533"}],"version-history":[{"count":7,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5533\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5554,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5533\/revisions\/5554"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5533"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5533"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5533"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}