{"id":5354,"date":"2019-10-30T15:36:52","date_gmt":"2019-10-30T08:36:52","guid":{"rendered":"http:\/\/bitra.or.id\/2012\/?p=5354"},"modified":"2019-10-30T15:46:24","modified_gmt":"2019-10-30T08:46:24","slug":"4-desa-wisata-indonesia-masuk-100-besar-destinasi-berkelanju-dunia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/4-desa-wisata-indonesia-masuk-100-besar-destinasi-berkelanju-dunia\/","title":{"rendered":"4 Desa Wisata Indonesia Masuk 100 Besar Destinasi Berkelanjutan Dunia"},"content":{"rendered":"<div id=\"attachment_5355\" style=\"width: 310px\" class=\"wp-caption alignright\"><a href=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/2019\/10\/30\/4-desa-wisata-indonesia-masuk-100-besar-destinasi-berkelanju-dunia\/danau-atas-danau\/\" rel=\"attachment wp-att-5355\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-5355\" class=\"wp-image-5355 size-medium\" src=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/Danau-atas-Danau-300x139.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"139\" srcset=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/Danau-atas-Danau-300x139.jpg 300w, https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/Danau-atas-Danau.jpg 567w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><p id=\"caption-attachment-5355\" class=\"wp-caption-text\"><em>Danau Sidihoni, merupakan danau di atas danau di desa Ronggur Ni Huta, desa yang terletak pada puncak pulau Samosir, Danau Toba, Sumatera Utara.<\/em><\/p><\/div>\n<p>Masing-masing dua desa wisata di Bali dan Yogyakarta masuk dalam 100 besar Destinasi Berkelanjutan di Dunia versi Global Green Destinations Days (GGDD). Adapun empat desa tersebut yaitu Desa Pemuteran (Bali), Desa Penglipuran (Bali), Desa Wisata Nglanggeran (Yogyakarta), dan Desa Pentingsari (Yogyakarta).<\/p>\n<p>Sesuai Siaran Pers Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) yang diterima Kompas.com, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Kemenparekraf Dadang Rizki Ratman di Jakarta, Senin (28\/10\/2019) mengatakan, empat desa wisata tersebut mampu bersaing di level internasional karena memakai pedoman yang sudah berstandar internasional.<\/p>\n<p>\u201cKonsep Desa Penglipuran misalnya yang masuk dalam Top 100 Destinasi Berkelanjutan dunia, salah satunya karena desa itu dianggap bisa mempertahankan sisi tradisional dan kelestarian lingkungannya,\u201d ujar Dadang dalam Siaran Pers Kemenparekraf.<\/p>\n<p>Lanjut Dadang, penataan desa dan bangunan tradisional di Desa Penglipuran masih terjaga utuh. Begitu juga dengan 75 hektare hutan bambu dan 10 hektar vegetasi yang masih terawat. Hal ini yang menjadi ciri khas dari Desa Penglipuran.<\/p>\n<p>Dadang juga berujar, meski kini mayoritas penduduk sudah menganut hidup modern namun suasana tradisional khas Bali tidak lantas hilang begitu saja. \u201cKini Desa Penglipuran jadi salah satu destinasi wisata populer di Indonesia,\u201d katanya. Ketiga desa wisata lainnya juga menjaga keseimbangan dalam mengelola desa wisata. Masyarakat desa mendapatkan manfaat ekonomi dari melestarikan budaya dan alam sekitar desa.<\/p>\n<p>Selain itu, Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan Kemenparekraf Valerina Daniel menambahkan, keempat desa wisata itu masuk dalam kategori konservasi lingkungan, pemanfaatan ekonomi untuk masyarakat lokal, dan sosial-budaya.<\/p>\n<p>\u201cNantinya, destinasi yang berada di peringkat teratas pada daftar Sustainable Destinations Top 100 akan diundang untuk menerima \u2018Best of Top 100\u2019 di ITB Berlin 2020,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, Ketua Dewan Pariwisata Berkelanjutan I Gede Ardika menyebut bahwa peranan stakeholder khususnya para pelaku pariwisata di daerah yang berkomitmen dalam penerapan standar destinasi pariwisata berkelanjutan.<\/p>\n<p>Nantinya, akan lebih banyak lagi destinasi pariwisata di Indonesia yang berjalan dengan prinsip berkelanjutan. \u201cKita perlu berkolaborasi dengan pemda dan pelaku pariwisata dan para juara di desa wisata atau destinasi pariwisata tersebut,\u201d kata Ardika.<\/p>\n<p>Penghargaan Sustainable Destinations Top 100 merupakan program tahunan Green Destinations Foundation yang bertujuan memamerkan cerita sukses dan praktik pariwisata berkelanjutan dari destinasi pariwisata di seluruh dunia.<\/p>\n<p><em>Sumber:<\/em><br \/>\n<em>Artikel ini telah tayang di\u00a0<a href=\"http:\/\/kompas.com\/\">Kompas.com<\/a>\u00a0dengan judul &#8220;4 Desa Wisata Indonesia Masuk 100 Besar Destinasi Berkelanjutan Dunia&#8221;,\u00a0<a href=\"https:\/\/travel.kompas.com\/read\/2019\/10\/29\/131500127\/4-desa-wisata-indonesia-masuk-100-besar-destinasi-berkelanjutan-dunia?page=2\">https:\/\/travel.kompas.com\/read\/2019\/10\/29\/131500127\/4-desa-wisata-indonesia-masuk-100-besar-destinasi-berkelanjutan-dunia?page=2<\/a>.<\/em><br \/>\n<em>Penulis: Nicholas Ryan Aditya<\/em><br \/>\n<em>Editor: Silvita Agmasari<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Masing-masing dua desa wisata di Bali dan Yogyakarta masuk dalam 100 besar Destinasi Berkelanjutan di Dunia versi Global Green Destinations Days (GGDD). Adapun empat desa tersebut yaitu Desa Pemuteran (Bali), Desa Penglipuran (Bali), Desa Wisata Nglanggeran (Yogyakarta), dan Desa Pentingsari (Yogyakarta). Sesuai Siaran Pers Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) yang diterima Kompas.com, Deputi Bidang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7,16,18],"tags":[671,872,873,874],"class_list":["post-5354","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-community-development","category-ekonomi-rakyat","category-pedesaan","tag-berkelanjutan","tag-desa-wisata","tag-destinasi","tag-dunia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5354","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5354"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5354\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5360,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5354\/revisions\/5360"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5354"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5354"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5354"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}