{"id":5064,"date":"2019-05-04T07:57:47","date_gmt":"2019-05-04T00:57:47","guid":{"rendered":"http:\/\/bitra.or.id\/2012\/2019\/05\/04\/pelatihan-desa-maju-reforma-agraria-di-kampong-secanggang\/"},"modified":"2019-05-04T15:19:59","modified_gmt":"2019-05-04T08:19:59","slug":"pelatihan-desa-maju-reforma-agraria-di-kampong-secanggang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/pelatihan-desa-maju-reforma-agraria-di-kampong-secanggang\/","title":{"rendered":"Damara, Integrasi Pengelolaan Desa Agraria &#038; Agroekologi"},"content":{"rendered":"<div id=\"attachment_5067\" style=\"width: 310px\" class=\"wp-caption alignright\"><a href=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/2019\/05\/04\/pelatihan-desa-maju-reforma-agraria-di-kampong-secanggang\/pelatihan-damara-secanggang\/\" rel=\"attachment wp-att-5067\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-5067\" class=\"wp-image-5067 size-medium\" src=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/Pelatihan-Damara-Secanggang-300x160.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"160\" srcset=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/Pelatihan-Damara-Secanggang-300x160.jpg 300w, https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/Pelatihan-Damara-Secanggang.jpg 567w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><p id=\"caption-attachment-5067\" class=\"wp-caption-text\"><em>Foto bersama para peserta pelatihan Damara dari Secanggang, Langkat <\/em>(Foto: Farizal Sinaga)<\/p><\/div>\n<p><span style=\"color: #666699;\">Langkat | 25.4.2019 | kpa.or.id |\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Badan Perjuangan Rakyat Penungggu Indonesia (BPRPI) dan Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) menggelar pelatihan Desa Maju Reforma Agraria (Damara) dari tanggal 20 hingga 25 April 2019 lalu di Kampong Adat Secangggang, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara.<\/p>\n<p>Kampong Secanggangg merupakan satu diantara puluhan desa basis anggota KPA yang tengah mengimplementasikan Damara, atau pembangunan desa yang maju dan mandiri berbasis reforma agraria. Selain itu, Kampong Secanggang tercatat sebagai salah satu wilayah pelaksanaan Damara pada wilayah adat di Sumatera Utara.<\/p>\n<p>Pelatihan yang berlangsung selama lima hari, dipandu Ferry Widodo, dari Departemen Penguatan Organisasi KPA. Secara partisipatif, mereka bersama dengan para anggota organisasi menyusun rencana strategis untuk masa hadapan. Termasuk, rencana tata guna lahan dan juga praktik penataan produksi berbasis <em>agroekologi<\/em> (pertanian yang ramah dan memiliki daya dukung lingkungan tinggi).<\/p>\n<p>Penyusunan rencana strategis, bermula dari memahami situasi sosial di kampong. Memetakan peluang-peluang yang bisa dimanfaatkan dan dimaksimalkan secara bersama untuk penyelesaian konflik (<em>baca<\/em>: tata kuasa) dan perbaikan tata produksi.<\/p>\n<p>Dari proses tersebut, para anggota organisasi kemudian menyepakati beberapa rencana yang akan dilaksanakan dalam beberapa waktu ke depan, berupa pengembangan sekolah adat, penerapan pertanian organik, pengembangan koperasi simpan pinjam\u00a0<em>Credit Union<\/em>\u00a0(CU), pelatihan pengolahan pasca panen (<em>off farm<\/em>), perbaikan akses jalan, mendorong akses terhadap listrik, pemetaan partisipatif, penguatan data untuk mendukung penyelesaian konflik dan pelatihan kader kepemimpinan.<\/p>\n<p>Terkait perencanaan tata guna lahan (<em>baca<\/em>: pemetaan partisipatif), masyarakat mengimajinasikan bagaimana Kampong Damara Secanggang ke depan. Bagaimana ruang-ruang yang tersedia, terdisrtibusi secara adil dapat memperkuat solidaritas antar warga. Meninggkatkan dan menjamin keberlanjutan demi generasi penerus kampong.<\/p>\n<p>Wilayah Kampong Secanggang tercatat seluas 300 hektar yang dibagi ke dalam wilayah pemukiman, wilayah produksi pertanian, fasilitas sosial, dan lahan produksi untuk buah-buahan, apotik hidup, demplot pertanian dan sentra-sentra pengolahan hasil produk pertanian.<\/p>\n<p><strong>Penataan Produksi Berbasis Pertanian\u00a0Agroekologi<\/strong><\/p>\n<p>Salah satu yang dilakukan dalam lima hari pelatihan tersebut adalah pelatihan penataan produksi yang difasilitasi oleh Syahroni dari Institut Agroekologi Indonesia (INAgri). Pelatihan ini dilaksanakan pasca penyusunan strategi dan pelatihan partisipatif. Dalam kesempatannya, Syahroni memaparkan materi, teori, konsep dan praktik pertanian <em>agroekologi<\/em> yang diikuti antusiasme para peserta.<\/p>\n<p>Pelatihan dimulai dengan memperbaiki kondisi tanah menggunakan pupuk kompos dan arang sekam. Dikarenakan tanah yang digarap warga saat ini tidak sesubur masa sebelum masuknya perusahaan. Pasalnya, pihak perusahaan selama ini menanam tebu dengan terus memakai pupuk kimia dan pestisida sehingga semakin mengikis tingkat kesuburan tanah.<\/p>\n<p>Memang sejauh ini, warga masih bisa mengusahakan tanah tersebut untuk keperluan pertanian. Namun, biaya yang harus dikeluarkan pun menjadi tidak sedikit, karna membutuhkan pupuk dan pestisida yang banyak agar tetap menghasilkan. Disinilah pentingnya pertanian <em>agroekologi<\/em> untuk memulihkan kembali kandungan-kandungan tanah yang sudah mulai berkurang.<\/p>\n<p>Pupuk kompos, pada dasarnya berfungsi mengembalikan nutrisi dalam tanah. Dedaunan, sekam, bekatul, sampai sampah dapur merupakan bahan baku pembuatan kompos. Bahan-bahan ini lalu ditumpuk berlapis-lapis dalam kotak setinggi satu meter dan disiram dengan mikroorganisme lokal (MOL) yang terbuat dari sisa makanan, seperti nasi dengan campuran nira dan bahan lain yang dapat menjadi MOL.<\/p>\n<p>Sementara arang sekam dibuat dengan cara membuat tungku sederhana dari kaleng dan seng bekas. Sekam sisa dari penggilingan padi ditumpuk begitu saja dan dibiarkan selama 8 jam hingga menjadi arang. Arang sekam berfungsi menyeimbangkan kadar keasaman tanah yang terlalu sering terpapar pestisida, mempertahankan kelembaban, dan membuka ruang pori tanah.<\/p>\n<p>Dalam pola <em>agroekologi<\/em>,\u00a0penyediaan nutrisi dan pestisida untuk budidaya tanaman juga sangat mudah. Buah-buahan muda, tunas rebung bambu, dedaunan pahit, semua yang ada\/tersedia pada alam sekitar kita, bisa dimanfaatkan.<\/p>\n<p>Syahroni juga menyampaikan, &#8220;pertanian <em>agroekologi<\/em> bukan sekedar praktik, namun ianya juga mampu mengembalikan semangat selaras alam dan budaya kolektifitas masyarakat yang selama ini hilang oleh pertanian konvensional ala <em>revolusi hijau<\/em>.&#8221; Katanya.<\/p>\n<p>&#8220;Model pertanian <em>agroekologi<\/em> melihat lanskap sebagai satu kesatuan yang harus dikelola terintegrasi, secara bersama dengan gotong royong, mandiri dan berkelanjutan. Hal ini seirama dengan semangat Damara yang mempunyai prinsip-prinsip berkeadilan, solidaritas, swadaya, demokratis dan berdaulat,\u201d jelas Syahroni.<\/p>\n<p>Di akhir pelatihan, Fatul, Ketua Kampong Secanggang mewakili masyarakat menyampaikan kebanggaannya dan berterima kasih atas pengetahuan yang telah diperoleh. &#8220;Bukan timba atau masyarakat Kampong Secanggang yang mencari sumur, tapi sumur yang mendekati timba\u201d, selorohnya dengan logat melayu yang kental.<\/p>\n<p>&#8220;Harapannya, Kampong Secanggang kelak juga menjadi sumur bagi orang yang ingin mengenal Damara. Meluruskan kembali reforma agraria sebagai langkah mengatasi ketimpangan dan meningkatkan kesejahteraan di tengah pendangkalan makna reforma agraria sejati,\u201d tutupnya.<\/p>\n<p><em>Penulis: Farizal Sinaga<\/em><\/p>\n<p><em>Sumber: kpa.or.id<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Langkat | 25.4.2019 | kpa.or.id |\u00a0 Badan Perjuangan Rakyat Penungggu Indonesia (BPRPI) dan Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) menggelar pelatihan Desa Maju Reforma Agraria (Damara) dari tanggal 20 hingga 25 April 2019 lalu di Kampong Adat Secangggang, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara. Kampong Secanggangg merupakan satu diantara puluhan desa basis anggota KPA yang tengah mengimplementasikan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[800,16,29,794],"tags":[820,431,83],"class_list":["post-5064","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-adaptasi-iklim","category-ekonomi-rakyat","category-pertanian-organik","category-reforma-agraria","tag-damara","tag-kpa","tag-reforma-agraria"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5064","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5064"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5064\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5069,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5064\/revisions\/5069"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5064"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5064"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5064"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}