{"id":500,"date":"2012-05-16T07:56:04","date_gmt":"2012-05-16T07:56:04","guid":{"rendered":"http:\/\/bitra.or.id\/2012\/?p=500"},"modified":"2013-05-14T10:03:34","modified_gmt":"2013-05-14T03:03:34","slug":"turun-temurun-gagal-mejadi-sarjana-karena-tanah-dirampas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/turun-temurun-gagal-mejadi-sarjana-karena-tanah-dirampas\/","title":{"rendered":"Turun Temurun Gagal Mejadi Sarjana Karena Tanah Dirampas"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2012\/05\/roma4.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-547\" title=\"roma\" alt=\"\" src=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2012\/05\/roma4-221x300.jpg\" width=\"221\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2012\/05\/roma4-221x300.jpg 221w, https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2012\/05\/roma4.jpg 425w\" sizes=\"auto, (max-width: 221px) 100vw, 221px\" \/><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12px;\">Akan tetapi, belum lagi tercapai cita-cita itu, justru kenyataan pahit yang saya dapatkan. Pada tahun 1976, ladang karet modal kuliah saya ini habis digarap paksa oleh PT. Serdang Hulu. Tak cuma itu, saya bahkan diusir, dipukul dan dituduh PKI dengan dalih karena menentang adanya Hak Guna Usaha (HGU) bagi perkebunan-perkebunan besar yang muncul semasa rezim Orde Baru. Ini semua sungguh membuat saya sangat terpukul.<\/span><span style=\"font-size: 12px; line-height: 17px;\"><span style=\"font-size: 12px; line-height: 17px;\">\u00a0<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"font-size: 12px;\">Bahkan kegagalan saya untuk kuliah ini seolah berlanjut ke anak saya. Sehingga cita-cita untuk menguliahkan anak saya pun akhirnya kandas di tengah jalan. Hal ini terjadi sejak PT. Serdang Hulu, pada Juli 2002 silam, kembali mengeluarkan seluruh ladang saya dari areal kebun PT. Serdang Hulu. Padahal saya sudah bekerja keras dengan menanam kelapa sawit dan tanaman tumpang sari demi rencana anak saya yang ingin kuliah tersebut. Tapi kenyataan pahit itu terjadi lagi.<\/p>\n<p>Kemudian pada 14 Januari 2009, PT. Serdang Hulu (yang dipimpin oleh Adm. PT Serdang Hulu) lagi-lagi membabat habis tanaman tumpang sari kami. Selain itu, kelapa sawit kami yang berumur 7 tahun dan mulai produksi di atas lahan lebih 10 hektar itu juga ikut mereka jarah, hingga kini.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sehingga akhirnya, anak kami, Ignatius Tarigan benar-benar gagal untuk kuliah. Bahkan yang paling memilukan bagi keluarga saya, anak kami ini terpaksa masuk Rumah Sakit Jiwa, Medan akibat depresi berat atas kejadian tersebut.<\/p>\n<p>Kini, berbagai upaya hukum telah kami lalui, tapi kejelasan nasib kami tak tentu juga. Sampai kapankah kami harus bersabar? Padahal binatang saja pun dilindungi di negeri ini, tapi kenapa kami tidak punya hak untuk menguasai lahan kami untuk berladang?\u00a0Tentu semua pertanyaan ini kami tujukan pada pemerintah. Sebab sebagai rakyat Indonesia, apakah manusia yang tertindas, melarat, dan miskin seperti kami ini harus senantiasa dirampas haknya? Dan ketika para pengusaha perkebunan besar berbuat sewenang-wenang terhadap kami, adakah payung hukum yang memberikan perlindungan hak buat kami? Atau barangkali benar, bahwa Pancasila dan UUD 1945 itu pun sudah &#8220;dipantangsilapkan&#8221;, sehingga nasib orang-orang yang tertindas seperti kami ini tetap berada dalam ketidakadilan.<\/p>\n<p>&#8220;Mata air warisan Tuhan. Air mata warisan setan&#8221;.<\/p>\n<p><em>Penulis: Roma Tarigan (Pengurus Serikat Rakyat Binjai Langkat \u2013 SERBILA, dan Alumni Pelatihan Community Worker URM Hongkong, di Jakarta).<\/em><\/p>\n<p><strong>Sejarah yang Berulang<\/strong><\/p>\n<div id=\"attachment_502\" style=\"width: 217px\" class=\"wp-caption alignleft\"><a href=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2012\/05\/ignatius.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-502\" class=\"size-medium wp-image-502\" title=\"ignatius\" alt=\"\" src=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2012\/05\/ignatius-207x300.jpg\" width=\"207\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2012\/05\/ignatius-207x300.jpg 207w, https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2012\/05\/ignatius.jpg 398w\" sizes=\"auto, (max-width: 207px) 100vw, 207px\" \/><\/a><p id=\"caption-attachment-502\" class=\"wp-caption-text\">Ignatius, putra Roma Tarigan<\/p><\/div>\n<p>Tak ada yang lebih pahit dalam hidupku, kecuali kandasnya cita-citaku di tengah jalan. Padahal untuk mewujudkan cita-citaku ini, aku sudah berusaha keras. Sejak akhir tahun 2006, aku mulai menanam coklat, pinang, kelapa, karet, dan salak di lorong kelapa sawit yang tidak tumbuh di ladang bapak saya, di Kampung Kemerahan, Desa Tanjung Gunung, Kecamatan Sei Bingai, Langkat, Sumatera Utara. Hal ini kulakukan demi mencari biaya untuk kuliah di Seminari Tinggi (sekolah pastor dimana cita-citaku itu kugantungkan).<\/p>\n<p>Mulai Mei 2008, aku juga menanam rimbang (cempokak) lebih dari 10.000 batang dan cabai rawit lebih dari 2000 batang. Dalam anganku, terbayang rencana masuk kuliah pada 2009 yang kian mekar seiring mekarnya tanaman-tanamanku yang mulai menampakkan hasil. Setidaknya, pada akhir tahun 2008, cempokak dan cabai rawit yang kutanam ini sudah mulai panen.<\/p>\n<p>Tapi harapan dan cita-citaku ini mendadak pudar, gelap dan menjadikan pengalaman yang sangat traumatis. Kemerdekaanku bercita-cita sudah dirampas. Pada 14 Januari 2009, semua tanamanku dibabat habis oleh pihak PT. Serdang Hulu. Ladang dan kelapa sawit bapakku telah dikuasai oleh PT. Serdang Hulu, sampai sekarang.Tak tahan menyaksikan betapa sewenang-wenangnya PT. Serdang Hulu tersebut, jiwaku lantas tergoncang. Kejadian itulah yang membawaku hingga berada di Rumah Sakit Jiwa Medan.<\/p>\n<p>Kini, pelan-pelan aku sudah mulai mengingat semua yang terjadi.<br \/>\nMedan, 25 Maret 2012<\/p>\n<p><em>Penulis: Ignatius Tarigan (Anak petani pengurus Serikat Rakyat Binjai Langkat \u2013 SERBILA). Alamat yang ditulis beliau pada redaksi adalah: Rumah Sakit Jiwa, Medan.<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; Akan tetapi, belum lagi tercapai cita-cita itu, justru kenyataan pahit yang saya dapatkan. Pada tahun 1976, ladang karet modal kuliah saya ini habis digarap paksa oleh PT. Serdang Hulu. Tak cuma itu, saya bahkan diusir, dipukul dan dituduh PKI dengan dalih karena menentang adanya Hak Guna Usaha (HGU) bagi perkebunan-perkebunan besar yang muncul semasa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3,201],"tags":[30,31],"class_list":["post-500","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-advokasi","category-jurnalis-warga","tag-khabar-dari-kampung","tag-konflik-agraria"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/500","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=500"}],"version-history":[{"count":9,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/500\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":505,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/500\/revisions\/505"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=500"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=500"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=500"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}