{"id":3910,"date":"2016-11-16T20:04:29","date_gmt":"2016-11-16T13:04:29","guid":{"rendered":"http:\/\/bitra.or.id\/2012\/?p=3910"},"modified":"2016-11-16T20:04:29","modified_gmt":"2016-11-16T13:04:29","slug":"ini-tujuh-desa-unggulan-pilihan-tempo","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/ini-tujuh-desa-unggulan-pilihan-tempo\/","title":{"rendered":"Ini Tujuh Desa Unggulan Pilihan Tempo"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/wp-1479301369473.jpg\"><img decoding=\"async\" title=\"wp-1479301369473\" class=\"alignright size-full\"  alt=\"image\" src=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/wp-1479301369473.jpg\" \/><\/a><\/p>\n<p>Sebanyak tujuh desa dari berbagai wilayah Indonesia terpilih sebagai Desa Unggulan Pilihan Tempo 2016.\u00a0<\/p>\n<p>&#8220;Desa-desa unggulan ini telah melakukan banyak terobosan di banyak bidang. Sebagai komunitas akar rumput mereka bergerak menjadikan negeri ini lebih baik,&#8221; kata Redaktur Utama Tempo, Elik Susanto yang juga penanggung jawab edisi khusus Desa Unggulan Pilihan Tempo, di Jakarta, Selasa, 15 November 2016.<\/p>\n<p>Tujuh desa yang menjadi Desa Unggulan Pilihan Tempo 2016 adalah:\u00a0<\/p>\n<p>1. Desa Jabiren, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah yang terpilih sebagai desa unggulan kategori penjaga lingkungan<br \/>\n2. Desa Blang Krueng, Kabupaten Aceh Besar, Aceh terpilih sebagai unggulan sadar pendidikan<br \/>\n3. Desa Dermaji, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah menjadi desa unggulan melek teknologi\u00a0<br \/>\n4. Desa Mengwi, Kabupaten Badung, Bali dinilai unggul dalam pemberdayaan ekonomi\u00a0<br \/>\n5. Desa Lalang Sembawa, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan untuk kategori sadar kesehatan<br \/>\n6. Desa Kanonang Dua, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara terpilih sebagai unggulan desa hasil pemekaran yang inovatif<br \/>\n7. Desa Nita, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur menjadi desa unggulan kategori transparansi anggaran.<\/p>\n<p>Elik menjelaskan tim redaksi menyeleksi tujuh desa unggulan tersebut sejak September 2016. Tim menggelar focus group discussion dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi; Badan Perencanaan Pembangunan Nasional; dan Institute for Research and Empowerment (IRE) Yogyakarta.\u00a0<\/p>\n<p>Selain itu tim juga menggali informasi dan data dari Kementerian Dalam Negeri dan Wahana Visi Indonesia. &#8220;Kami juga melakukan survei via Tempo.co untuk menjaring usulan desa unggulan dari pembaca,&#8221; kata Elik.\u00a0<\/p>\n<p>Sosiolog Universitas Gadjah Mada dan peneliti IRE Yogyakarta Ari Sujito mengatakan wajah desa kini mulai berubah dari sebelumnya yang identik dengan keterbelakangan. &#8220;Secara bertahap desa memancarkan pesona baru dengan tumbuhnya berbagai inisiatif yang menjadi penanda kebangkitan lokalitas,&#8221; kata dia.\u00a0<\/p>\n<p>Menurut dia otonomi daerah sebelum masa sekarang hanya dinikmati para elit lokal, belum dirasakan rakyat di desa. Karena itu lahirnya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang desa menjawab persoalan tersebut.\u00a0<\/p>\n<p>Apabila dulu desa hanya dipompa untuk memperbesar partisipasi warga, kini desa diberi ruang untuk merencanakan pembangunan sesuai kebutuhan dan prioritas desa. &#8220;Sekalipun masih muda, kebijakan ini telah menumbuhkan harapan baru,&#8221; kata Arie. Karena itu pekerjaan yang harus dilakukan adalah mengawal perubahan desa ini agar sesuai harapan.\u00a0<strong>Odelia Sinaga.<\/strong><\/p>\n<p><em>Sumber (teks &#038; foto): m.tempo.co<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebanyak tujuh desa dari berbagai wilayah Indonesia terpilih sebagai Desa Unggulan Pilihan Tempo 2016.\u00a0 &#8220;Desa-desa unggulan ini telah melakukan banyak terobosan di banyak bidang. Sebagai komunitas akar rumput mereka bergerak menjadikan negeri ini lebih baik,&#8221; kata Redaktur Utama Tempo, Elik Susanto yang juga penanggung jawab edisi khusus Desa Unggulan Pilihan Tempo, di Jakarta, Selasa, 15 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[18,633],"tags":[650,649],"class_list":["post-3910","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-pedesaan","category-pelayanan-publik","tag-650","tag-desa-unggulan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3910","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3910"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3910\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3911,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3910\/revisions\/3911"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3910"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3910"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3910"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}