{"id":390,"date":"2010-08-16T05:41:05","date_gmt":"2010-08-16T05:41:05","guid":{"rendered":"http:\/\/localhost\/bitra\/?p=390"},"modified":"2012-07-23T09:46:52","modified_gmt":"2012-07-23T09:46:52","slug":"arsip-majalah-bitranet","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/arsip-majalah-bitranet\/","title":{"rendered":"Arsip Majalah Bitranet"},"content":{"rendered":"<p><strong><span style=\"color: #0000ff;\">Setelah<\/span><\/strong> 18 edisi majalah triwulanan &#8220;Hanura&#8221; yang diterbitkan oleh Yayasan BITRA Indonesia, Medan kini berubah nama menjadi Majalah &#8220;Bitranet&#8221;&#8230; Perubahan ini disebabkan oleh banyak faktor yang tidak dapat diuangkap satu persatu&#8230;<\/p>\n<p>Namun salah satu yang menjadi penyebab perubahan nama adalah adanya partai politik yang menggunakan nama sama dengan nama awal majalah kita. Sehingga hal ini menimbulkan kebingungan dan kecurigaan bahwa Bitra partisan ke salah satu parpol tertetu, kerap muncul di basis Bitra. Untuk itu kita membulatkan tekad merubah nama majalah &#8220;Hanura&#8221; menjadi &#8220;Bitranet&#8221;.<\/p>\n<p>Secara aturan yang ditetapkan oleh bagian ISSN LIPI (sebagai pihak yang berwenang mengeluarkan ISSN), maka kita harus memulai edisi majalah kita ini dengan edisi awal (edisi 1) karena peraturan ISSN LIPI tidak membenarkan jika melanjutkan edisi dari nama yang berbeda pada edisi 18 yang lalu pada majalah Hanura.<\/p>\n<hr size=\"2\" width=\"100%\" \/>\n<p><a href=\"http:\/\/content.yudu.com\/Library\/A1oux1\/MajalahBitranetEdisi\/resources\/index.htm?referrerUrl=http%3A%2F%2Fwww.yudu.com%2Fitem%2Fdetails%2F207745%2FMajalah-Bitranet-Edisi-1\" target=\"_blank\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"images\/stories\/bitranet\/edisi-1.jpg\" alt=\"\" width=\"130\" height=\"173\" align=\"left\" border=\"0\" hspace=\"4\" vspace=\"4\" \/><\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/content.yudu.com\/Library\/A1oux1\/MajalahBitranetEdisi\/resources\/index.htm?referrerUrl=http%3A%2F%2Fwww.yudu.com%2Fitem%2Fdetails%2F207745%2FMajalah-Bitranet-Edisi-1\" target=\"_blank\">Majalah Bitranet edisi 1<\/a> ini mengangkat laporan utama tentang &#8220;Ekonomi Neolib Vs Ekonomi Kerakyatan&#8221;, berbagai macam tulisan yang membahas pertentangan ke dua kutub pemikiran dan praktek ekonomi yang saling bertolak belakang ini tersaji di dalam majalah Bitranet edisi 1 ini&#8230;<\/p>\n<p>Begitu juga kolom-kolom reguler yang tersaji tidak menghilangkan pembaca setia majalah sebelumnya, dan yang kelihatan sangat berbeda dari majalah lain adalah kabar dari kampung sebagai ruang untuk rakyat langsung berkeluh kesah dan mengespresikan karyanya merupakan simbol penting majalah yang punya motto &#8220;rakyat menulis rakyat menbaca&#8221; ini&#8230; Selamat membaca&#8230;.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<hr size=\"2\" width=\"100%\" \/>\n<p><a href=\"http:\/\/content.yudu.com\/Library\/A1ouwv\/MajalahBitranetEdisi\/resources\/index.htm?referrerUrl=http%3A%2F%2Fwww.yudu.com%2Fitem%2Fdetails%2F207741%2FMajalah-Bitranet-Edisi-2\" target=\"_blank\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"images\/stories\/bitranet\/edisi-2.jpg\" alt=\"\" width=\"131\" height=\"174\" align=\"right\" border=\"0\" hspace=\"4\" vspace=\"4\" \/><\/a><\/p>\n<p>Pada <a href=\"http:\/\/content.yudu.com\/Library\/A1ouwv\/MajalahBitranetEdisi\/resources\/index.htm?referrerUrl=http%3A%2F%2Fwww.yudu.com%2Fitem%2Fdetails%2F207741%2FMajalah-Bitranet-Edisi-2\" target=\"_blank\">edisi 2 Majalah Bitranet<\/a> mengangkat laporan utama tentang &#8220;Sekolah Lapang: Jalan Menuju Organik, Sumbangsih Petani Terhadap Pelestarian Lingkungan&#8221;. Sekolah lapang merupakan pola yang dikembangkan petani yang didampingi oleh NGO ini merupakan model belajar langsung di atas lahan yang dimaksudkan agar pemahaman yang didapat dari teori dapat dipralktekkan langsung, termasuk dalam pengamatan hama saat petani melakukan pertanian denggan pola organik yang dapat menyumbang daya dukung kelestarian lingkungan dan tanah.<\/p>\n<p>Pengalaman dari sekolah lapangan yang dipraktekkan oleh kelompok-kelompok tani dampngain Bitra di beberapa kabupaten di sumattera utara merupakan pengalaman praktis yang dituangkan dalam tulisan-tulisan pada laporan utama edisi kali ini&#8230; Selamat membaca &#8230;.<\/p>\n<hr size=\"2\" width=\"100%\" \/>\n<p><a href=\"http:\/\/content.yudu.com\/Library\/A1oinr\/MajalahBitranet\/resources\/index.htm?referrerUrl=http%3A%2F%2Fwww.yudu.com%2Fitem%2Fdetails%2F194162%2FMajalah-Bitranet\" target=\"_blank\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"images\/stories\/bitranet\/edisi-3.jpg\" alt=\"\" width=\"132\" height=\"176\" align=\"left\" border=\"0\" hspace=\"4\" vspace=\"4\" \/><\/a><a href=\"http:\/\/content.yudu.com\/Library\/A1oinr\/MajalahBitranet\/resources\/index.htm?referrerUrl=http%3A%2F%2Fwww.yudu.com%2Fitem%2Fdetails%2F194162%2FMajalah-Bitranet\" target=\"_blank\">Edisi 3 Majalah Bitranet<\/a>mengangkat topik utama &#8220;Mengoptimalkan Petensi Pertanian Organik&#8221;. Laporan Utama ini diangkat dari hasil penelitian &#8220;Peluang Peningkatan Pertanian Organik di Serdang Bedagai&#8221;. Sebuah penelitian yang digagas untuk memasyakatkan pertanian organik pada petani di Serdang Bedagai.<\/p>\n<p>Penelitian ini melakukan penggalian terhadap kebiasaan masyarakat petani (sejak jaman moyang) yang ternyata secara tidak sadar merupakan perlakuan yang organik dinua pertanian yang sangat arif dan mendukung konservasi lingkungan.<\/p>\n<p>hasil dari penelitian ini merekomendasikan pemenrintahan kabupaten Serdang Bedagai agar membuat regulasi berbentuk Peraturan Daerah (Perda) untuk melindungi dan memperluas praktek pertanian organik di Serdang Bedagai.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<hr size=\"2\" width=\"100%\" \/>\n<p><a href=\"http:\/\/content.yudu.com\/Library\/A1pbhk\/MajalahBitranet4\/resources\/index.htm?referrerUrl=http%3A%2F%2Fwww.yudu.com%2Fitem%2Fdetails%2F225356%2FMajalah-Bitranet-4\" target=\"_blank\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"images\/stories\/cover-mb-4.jpg\" alt=\"\" width=\"133\" height=\"175\" align=\"right\" border=\"0\" hspace=\"4\" vspace=\"4\" \/><\/a><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/content.yudu.com\/Library\/A1pbhk\/MajalahBitranet4\/resources\/index.htm?referrerUrl=http%3A%2F%2Fwww.yudu.com%2Fitem%2Fdetails%2F225356%2FMajalah-Bitranet-4\" target=\"_blank\">Edisi 4 Majalah Bitranet<\/a> menyajikan topik utama <span style=\"color: #000000;\">&#8220;Pasar Lelang Kakao Petani Dataran Tinggi&#8221;<\/span> yang mengupas apa dan bagaimana pasar lelang dilakukan, seperti apa panjangnya rantai pasar kakao di desa-desa dataran tinggi dan seperti apa petani dataran tinggi membuat formula baru untuk memangkas rantai pasar tersebut dengan pola pasar lelang.<\/p>\n<p>Dalam edisi ini diturunkan tulisan secara komprehensif tentang pasar lelang, antara lain: Pasar Lelang Kakao Petani dataran Tinggi, Tabel Permasalahan Petani Pasca Produksi Polikultur, Skema Pasar Lelang, Melepaskan Petani Kakao dari Jeratan Tengkulak, Dengan Lelang Petani Cabai Melenggang, Peraturan dan UU Terkait Lelang &amp; Sejarah Pasar Lelang Dunia.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<hr size=\"2\" width=\"100%\" \/>\n<p><a href=\"http:\/\/content.yudu.com\/Library\/A1qcyb\/MajalahBitranet05\/resources\/index.htm?referrerUrl=http%3A%2F%2Fwww.yudu.com%2Fitem%2Fdetails%2F262170%2FMajalah-Bitranet-05\" target=\"_blank\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"images\/stories\/cover-bitranet-05.jpg\" alt=\"\" width=\"132\" height=\"174\" align=\"left\" border=\"0\" hspace=\"4\" vspace=\"4\" \/><\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/content.yudu.com\/Library\/A1qcyb\/MajalahBitranet05\/resources\/index.htm?referrerUrl=http%3A%2F%2Fwww.yudu.com%2Fitem%2Fdetails%2F262170%2FMajalah-Bitranet-05\" target=\"_blank\">Edisi 5 Majalah Btranet<\/a> banyak mengupas mengenai persoalan kedaulatan pangan, ketahanan pangan dan pangan lokal yang merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling hakiki. Dan Meskipun konsep ketahanan pangan telah dikenal sejak tahun 1970-an, namun hingga kini pemenuhan kebutuhan pangan masih menjadi persoalan utama di berbagai negara, termasuk Indonesia.<\/p>\n<p>Laporan utama majalah Bitranet dengan topik &#8220;Pangan Hak Bagi Warga&#8221;, diisi dengan berbagai tulisan tentang berbagai rangkaian kegiatan hari pangan sedunia yang ke 30 yang secara nasional, untuk Sumatera Utara dipusatkan di Serdang Bedagai dan bahasan pangan dari sisi sejarah, peraturan Pemerintah tentang pangan dan kondisi pangan di tingkat petani dan masyarakat lain.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<hr size=\"2\" width=\"100%\" \/>\n<p><a href=\"http:\/\/issuu.com\/majalah_bitranet\/docs\/edisi_6\" target=\"_blank\">Edisi 6 Majalah BItranet<\/a>. Sarasehan ke-25 (8-10 Maret 2011) lalu diadakan di Desa Lubuk Bayas, Kec. Perbaungan, Serdang Bedagai merupakan ajang refleksi bagi Bitra dan seluruh pemangku kepentingan (stakeholder)-nya. Tanpa disa<a href=\"http:\/\/issuu.com\/majalah_bitranet\/docs\/edisi_6\" target=\"_blank\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"images\/stories\/edisi-6.jpg\" alt=\"\" width=\"134\" height=\"178\" align=\"right\" border=\"0\" hspace=\"4\" vspace=\"4\" \/><\/a>dari sejak pertama kali Sarasehan dilakukan pada tahun 1986 di Desa Pagarjati, Kecamatan Pagar Merbau, Deli Serdang, kini sudah berulang hingga 25 kali. Pada momentum Sarasehan yang lalu Bitra mendapatkan banyak pembelajaran. Secara tampilan dan pembawaan badan, Bitra dirindukan tampil seperti dulu. Maksudnya, kira-kira tetap guyub, bersahaja dan lebih banyak berinteraksi dengan warga desa. Ndeso gitulah!. Sementara dari segi pelayanan, Bitra diharapkan bisa memperbanyak pelatihan yang berkaitan dengan peningkatan ketrampilan teknis. Namun begitu, bukan berarti \u201cdipandekan untuk dibodoh-bodohi\u201d atau \u201cdiberi tanggung jawab tapi bukan sebagai alat untuk meperalat\u201d.<\/p>\n<p>Catatan cukup penting adalah dalam kurun 25 tahun ini Bitra sudah \u201cmenjadi\u201d sosok organisasi yang konsisten membela kepentingan kaum marginal, mendorong perubahan sosial di tingkat desa, meningkatkan kesadaran kritis masyarakat dan mengoptimalkan potensi sumber daya alam untuk kemaslahatan bersama. Namun yang dirasakan belum terjadi adalah \u201cmemiliki\u201d. Bitra belum merasakan bahwa dirinya dimiliki oleh masyarakat, terutama para penerima manfaat dan pemangku kepentingan keberadaan Bitra. Mungkin usia 25 tahun belum cukup untuk menjadikan lembaga ini dimiliki oleh public.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<hr size=\"2\" width=\"100%\" \/>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/issuu.com\/iswan\/docs\/bitranet_07\" target=\"_blank\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"images\/stories\/cover-bitranet-7.jpg\" alt=\"\" width=\"126\" height=\"178\" align=\"left\" border=\"0\" hspace=\"4\" vspace=\"4\" \/><\/a><a href=\"http:\/\/issuu.com\/iswan\/docs\/bitranet_07\" target=\"_blank\">Edisi 7 majalah Bitranet<\/a>: Argumentasi bahwa ekspansi sawit akan menyerap tenaga kerja (buruh) dan mengentaskan kemiskinan di pedesaan merupakan suatu kebohongan. Asumsi hitungan pemerintah dan korporasi yang menyebutkan bahwa 20 juta hektar lahan perkebunan akan menyerap sekitar 10 juta buruh sangatlah jauh dari kenyataan. Fakta yang ditemukan di lapangan bahwa dalam 100 hektar lahan hanya menyerap sekitar 22 orang tenaga kerja sehingga dengan demikian dengan 20 juta hektar hanya menyerap 4,4 juta buruh.<\/p>\n<p>Investasi korporasi hanya membawa derita bagi rakyat Indonesia, kerakusan industri ekstraktif, telah mematikan DAS, merusak hutan primer, lebih dari 5.000 DAS yang berada di Kawasan Taman Nasional mati akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit. Banjir terus meningkat pengungsi setiap tahun semakin bertambah dan meluas. Sementara para pengusaha perkebunan kelapa sawit yang tergabung di dalam GAPKI hanya ingin merampas dan menguasai sumber-sumber agraria. Pemerintah telah melalaikan tugasnya untuk melindungi warga negaranya, yang seharusnya mendapatkan perlindungan yang maksimal.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<hr size=\"2\" width=\"100%\" \/>\n<p><a href=\"http:\/\/issuu.com\/iswan\/docs\/bitranet_08\" target=\"_blank\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"images\/stories\/cover-bitranet-8.jpg\" alt=\"\" width=\"125\" height=\"178\" align=\"right\" border=\"0\" hspace=\"4\" vspace=\"4\" \/><\/a><a href=\"http:\/\/issuu.com\/iswan\/docs\/bitranet_08\" target=\"_blank\">Edisi 8 majalah Bitranet<\/a>: Puluhan keluarga warga yang terkena proyek pembangunan Bandar Udara Kualanamu di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut) mengeluhkan teror yang mereka alami beberapa waktu terakhir dan meminta Presiden RI membantu menghentikannya. Lahan yang sedang mereka tanami diratakan pihak PT Angkasa Pura II, sehingga warga terancam kelaparan, sementara proses relokasi tak juga dilakukan.<\/p>\n<p>Warga yang masih bermukim di areal calon Bandara Kuala Namu di Desa Pasar VI, Kecamatan Beringin, Deli Serdang, menyesalkan sikap Project Implementation Unit Pembangunan Bandara Kualanamu dan Kantor Cabang Bandara Polonia yang dengan sengaja membuldozer lahan milik warga. Setidaknya 5 hektar sudah lahan pertanian warga diratakan dengan tanah. Untuk itu, warga Kualanamu minta Presiden bantu hentikan teror dan Gubernur Sumut diminta berikan jatah hidup untuk warga Kualanamu agar tidak mati kelaparan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<hr size=\"2\" width=\"100%\" \/>\n<p><a href=\"http:\/\/issuu.com\/majalah_bitranet\/docs\/bitranet_ed_9\" target=\"_blank\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"images\/stories\/cover-bitranet-ed-9.jpg\" alt=\"\" width=\"131\" height=\"178\" align=\"left\" border=\"0\" hspace=\"4\" vspace=\"4\" \/><\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/issuu.com\/majalah_bitranet\/docs\/bitranet_ed_9\" target=\"_blank\">Edisi 9 majalah Bitranet<\/a>: Adalah anggapan yang salah, yang mengira bahwa pertanian organik sama dengan pertanian alami. Pertanian alami adalah pertanian dengan mengandalkan kekuatan alam, tanpa perlu campur tangan manusia. Sedangkan pertanian organik memerlukan adanya campur tangan manusia yang lebih intensif untuk memanfaatkan lahan dan berusaha meningkatkan hasil berdasarkan prinsip daur ulang yang dilaksanakan sesuai dengan kondisi setempat.<\/p>\n<p>Pertanian organik adalah pertanian yang selaras dengan alam yang memiliki daya dukung terhadap kelestarian lingkungan yang amat tinggi, namun tetap membutuhkan campur tangan manusia.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/issuu.com\/majalah_bitranet\/docs\/bitranet_edisi_10_up\"><br \/>\n<\/a><\/p>\n<hr size=\"2\" width=\"100%\" \/>\n<p><a href=\"http:\/\/issuu.com\/majalah_bitranet\/docs\/bitranet_edisi_10_up\" target=\"_blank\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"images\/stories\/cover-edisi-10-up.jpg\" alt=\"\" width=\"133\" height=\"186\" align=\"right\" border=\"0\" hspace=\"4\" vspace=\"4\" \/><\/a><\/p>\n<p>Indonesia disebut negara agraris karena kaya akan sumberdaya hayati yang melimpas. Kaum tani yang menjadi ujung tombak merupakan orang yang sangat berperan dalam mengelola sumber daya ini menjadi menghasilkan pangan untuk semua orang. Namun apa yang terjadi dengan tanah atau lahan tempat\/media para petani ini beraktifitas&#8230;? Petani kini tidak memilikinya lagi&#8230;! <a href=\"http:\/\/issuu.com\/majalah_bitranet\/docs\/bitranet_edisi_10_up\">Edisi 10 majalah Bitranet<\/a> mengupas hal ini dengan mengangkat laporan utama &#8220;Gerakan Petani untuk Kemerdekaan Kaum Tani&#8221;.<\/p>\n<p>Baca juga kiat-kiat teknis pertanian organik lainnya dan manfaat tanaman bagi kehidupan dan kesehatan, seperti &#8220;Daun Sukun Dapat Melindungi Janting&#8221;.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<hr size=\"2\" width=\"100%\" \/>\n<p><a href=\"http:\/\/content.yudu.com\/Library\/A1vsih\/NewsletterBitranet01\/resources\/index.htm?referrerUrl=http%3A%2F%2Ffree.yudu.com%2Fitem%2Fdetails%2F482439%2FNewsletter-Bitranet-01\" target=\"_blank\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"images\/stories\/cover-newsletter-bitranet---1.jpg\" alt=\"\" width=\"129\" height=\"187\" align=\"left\" border=\"0\" hspace=\"4\" vspace=\"4\" \/><\/a><\/p>\n<p>Andai seseorang hidup tanpa hak asasi, dapatkah ia bertindak sebagai manusia sejati? Tentu pertanyaan ini membutuhkan renungan panjang, sepanjang sejarah umat manusia itu sendiri. Namun ibarat tersesat di labirin gelap, agaknya persoalan hak asasi manusia (HAM) ini selalu membentur \u201ctembok hitam\u201d. Begitupun, perjuangan HAM adalah perjuangan anak manusia yang tidak akan ada hentinya.<br \/>\nEdisi kali ini Newsletter Bitranet sebagai media alternatif komunikasi antar rakyat mencoba mengangkat persoalan HAM untuk yang kesekian kalinya.<\/p>\n<p>Perlu juga dikhabarkan pada pembaca bahwa majalah Bitranet untuk pertama kali pada awal tahun 2012 ini berubah bentuk menjadi <a href=\"http:\/\/content.yudu.com\/Library\/A1vsih\/NewsletterBitranet01\/resources\/index.htm?referrerUrl=http%3A%2F%2Ffree.yudu.com%2Fitem%2Fdetails%2F482439%2FNewsletter-Bitranet-01\" target=\"_blank\">newsletter (bulettin) Bitranet edisi 01\/2012.<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<hr size=\"2\" width=\"100%\" \/>\n<p><a href=\"http:\/\/content.yudu.com\/Library\/A1w8zz\/NewsletterBitraneted\/resources\/index.htm?referrerUrl=http%3A%2F%2Ffree.yudu.com%2Fitem%2Fdetails%2F501809%2FNewsletter-Bitranet-edisi-02\" target=\"_blank\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"images\/stories\/cover-newsletter-bitranet-02.jpg\" alt=\"\" width=\"133\" height=\"198\" align=\"right\" border=\"0\" hspace=\"4\" vspace=\"4\" \/><\/a><a href=\"http:\/\/content.yudu.com\/Library\/A1w8zz\/NewsletterBitraneted\/resources\/index.htm?referrerUrl=http%3A%2F%2Ffree.yudu.com%2Fitem%2Fdetails%2F501809%2FNewsletter-Bitranet-edisi-02\" target=\"_blank\">ANTARA LUMBUNG DAN LAMBUNG RAKYAT<\/a>. Ketika jumlah penduduk makin meningkat, hal dilematis yang biasanya jadi persoalan adalah hal pangan. Terutama di negara berkembang yang pertumbuhan ekonominya lamban, niscaya ini akan mempengaruhi ketahanan pangannya. Dampak lainnya adalah bahaya kelaparan yang bakal mengancam. Persis laporan World Food Program yang memperkirakan\u00a0 sekitar 854 juta jiwa di seluruh dunia terancam kelaparan.<\/p>\n<p>Di Indonesia, sejak UU No 7 Tahun 1996 digulirkan, isu ketahanan pangan seakan menjadi wacana strategis dalam mengantisipasi ancaman kelaparan tersebut. Bagi pemerintah kebijakan tentang Pangan ini lantas menjadi motivasi untuk meningkatkan kapasitas produksi pangan nasional. Paling tidak sebagai acuan bagi negara dalam mencukupi kebutuhan pangan rakyatnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<hr size=\"2\" width=\"100%\" \/>\n<p><a title=\"Newsletter Bitranet 04\" href=\"http:\/\/content.yudu.com\/Library\/A1xpsq\/NewsletterBitraneted\/resources\/index.htm?referrerUrl=http%3A%2F%2Ffree.yudu.com%2Fitem%2Fdetails%2F560752%2FNewsletter-Bitranet-ed-4%3Fedit_mode%3Don\" target=\"_blank\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft  wp-image-767\" title=\"Cover-Newsletter-Ed-4\" src=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2010\/08\/Cover-Newsletter-Ed-4-202x300.jpg\" alt=\"\" width=\"144\" height=\"213\" srcset=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2010\/08\/Cover-Newsletter-Ed-4-202x300.jpg 202w, https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2010\/08\/Cover-Newsletter-Ed-4.jpg 462w\" sizes=\"auto, (max-width: 144px) 100vw, 144px\" \/><\/a>Sejak Konferensi Tingkat Tinggi Bumi PBB (1992) di Rio de Janeiro memperkenalkan\u00a0tiga pilar pembangunan, yakni pembangunan ekonomi, sosial dan lingkungan, diskusi\u00a0global mengenai masa depan planet bumi pun kian semarak. Bahkan masa depan\u00a0yang diinginkan manusia seolah berpatok pada ketiga pilar tersebut. Kendati demikian,\u00a0suksesnya pembangunan ketiga pilar ini tentu tak terlepas dari komitmen masyarakat\u00a0internasional, termasuk masyarakat Indonesia yang mengadopsi sistem pembangunan\u00a0berkelanjutan.<\/p>\n<p><a title=\"Newsletter Bitranet 04\" href=\"http:\/\/content.yudu.com\/Library\/A1xpsq\/NewsletterBitraneted\/resources\/index.htm?referrerUrl=http%3A%2F%2Ffree.yudu.com%2Fitem%2Fdetails%2F560752%2FNewsletter-Bitranet-ed-4%3Fedit_mode%3Don\" target=\"_blank\">Ekonomi hijau<\/a> sebagai gerakan tentu bukan dimaksudkan sebagai proyek kekinian\u00a0saja. Apalagi sebagai gerakan ekonomi semata. Tetapi diharapkan lebih mengacu\u00a0kepada gerakan budaya. Untuk itu dibutuhkan strategi budaya yang dapat menjalankan\u00a0ekonomi hijau ini sebagai gerakan yang dapat diterima masyarakat. Contohnya\u00a0pengembangan agrowisata yang beraspek budaya. Tradisi Subak di Bali dapatlah menjadi contoh yang baik.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setelah 18 edisi majalah triwulanan &#8220;Hanura&#8221; yang diterbitkan oleh Yayasan BITRA Indonesia, Medan kini berubah nama menjadi Majalah &#8220;Bitranet&#8221;&#8230; Perubahan ini disebabkan oleh banyak faktor yang tidak dapat diuangkap satu persatu&#8230; Namun salah satu yang menjadi penyebab perubahan nama adalah adanya partai politik yang menggunakan nama sama dengan nama awal majalah kita. Sehingga hal ini [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-390","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-arsip-majalah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/390","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=390"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/390\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":766,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/390\/revisions\/766"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=390"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=390"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=390"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}