{"id":374,"date":"2011-09-08T09:58:38","date_gmt":"2011-09-08T09:58:38","guid":{"rendered":"http:\/\/localhost\/bitra\/?p=374"},"modified":"2011-09-08T09:58:38","modified_gmt":"2011-09-08T09:58:38","slug":"cakar-ayam-monica-lubis-maju-dengan-industri-rumah-tangga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/cakar-ayam-monica-lubis-maju-dengan-industri-rumah-tangga\/","title":{"rendered":"Cakar Ayam Monica Lubis, Maju Dengan Industri Rumah Tangga"},"content":{"rendered":"<div><font class=\"Apple-style-span\" color=\"#ff0000\"><a href=\"index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=365:cakar-ayam-monica-lubis-maju-dengan-industri-rumah-tangga&#038;catid=40:small-enterprise-umkm\">Industri Rumahan<\/a> | <a href=\"index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=365:cakar-ayam-monica-lubis-maju-dengan-industri-rumah-tangga&#038;catid=40:small-enterprise-umkm\">Ekonomi Rakyat<\/a><\/font><\/div>\n<div><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"images\/stories\/ceker-ayam.jpg\" border=\"0\" hspace=\"4\" vspace=\"4\" width=\"107\" height=\"154\" align=\"left\" \/><font class=\"Apple-style-span\" color=\"#0000ff\"><strong>Jika<\/strong><\/font> dulunya Pasar Bengkel identik dengan oleh-oleh berupa dodol, sekarang daerah di Perbaungan ini mempunyai ikon baru oleh-oleh.\u00a0Nama oleh-oleh tersebut adalah cakar ayam. Makanan ringan satu ini sekarang menjadi salah satu oleh-oleh yang bisa dibawa pulang dari daerah Perbaungan. Oleh-oleh yang diolah oleh industri rumah tangga ini bisa menjadi salah satu kekuatan ekonomi rakyat yang bertahan dari krisis ekonomi dan membantu meningkatkan taraf hidup pelakunya. Seperti juga halnya usaha ekonomi atau industri rumah tangga lainnya.\u00a0<\/div>\n<div>Seperti usaha yang dikelola oleh Tiamsah. Di pinggiran rel kereta api, di sebuah bangunan sederhana ia bersama beberapa perempuan lain asyik memasak, membentuk, dan memotong ubi. Aroma gula aren kental menusuk hidung. Di tempat inilah Tiamsah membuka usaha dan mengolah cakar ayam dagangannya. Makanan ini bentuknya memang tidak sesuai dengan namanya. Terbuat dari ubi rambat dicampur gula merah, makanan ini sekarang menjadi popular di kalangan masyarakat Serdang Bedagai khususnya.<\/div>\n<div><\/div>\n<div>\u201cUsaha kami sudah jalan 1 tahun dengan 10 orang karyawan. Syukurnya, penggemar usaha kita sudah banyak,\u201d ujar Tiamsah. Usaha yang diberi nama \u2018CAKAR AYAM MONICA LUBIS\u2019 ini juga menerima pesanan sebanyak 800 s\/d 1.500 bungkus dan didistribusikan ke luar daerah. \u201cKabanjahe, Pancur Batu, Batangkuis, Tembung, Sibolga, Kota Pinang. Kami juga sudah pernah mengirimnya ke luar provinsi, seperti di Aceh, dan juga Malaysia,\u201d tambah Tiamsah<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Usaha yang beralamat di Pasar Bengkel, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Deli Serdang ini buka sejak pagi hari dan menutup toko saat menjelang Maghrib. \u201cTergantung pesanan. Kalau pas puasa kayak gini, jam 4 biasanya kami udah tutup. Pernah juga sampai jam 8 sampai jam 9 kalau pesanan lagi banyak,\u201d cerita istri dari laki-laki bermarga Lubis tersebut.\u00a0<\/div>\n<div><\/div>\n<div>\u201cDi sini kami sebagai produsen. Kalau bahan-bahan pokoknya, kami pesan ubi gunung dari daerah Brastagi, Kabanjahe, dan Siborong-borong,\u201d kata Tiamsah saat ditanya mengenai bahan dasar cakar ayam yang diproduksi usahanya. Alasan ia memesan dari luar daerah Sergai karena kualitas ubi di daerah tersebut mempunyai kadar air yang tinggi. \u201cKami biasanya pesan mulai dari 300 kg yang mau diolah dan biasanya jumlah segitu bisa membuat 650-700 bungkus. Pernah sampai 1 -2 ton dalam jangka waktu seminggu tergantung dengan pesanan,\u201d lebih lanjut perempuan yang mempunyai 3 orang anak ini bercerita.<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Teknik pembuatannya juga sederhana. Tiamsah menjelaskan kalau ubi rambat dicuci sampai bersih terlebih dahulu. Kemudian diparut dan digoreng dalam kuali hitam besar. Masih memakai sistem tradisional, di atas tungku dari batu bata, ubi-bi itu digoreng oleh dua orang wanita. \u201cSetelah digoreng, ubi-ubinya langsung dicampur gula aren dan dicetak pakai mangkuk kecil ini,\u201d ujar Tiamsah. Ia juga menjelaskan penggunaan semacam busa yang dipakai sebagai tempat alas cakar ayam yang sudah dibentuk. \u201cIni gunanya untuk menyerap minyak dari kue. Setelah dingin, barulah kue dimasukkan ke plastik. Ini supaya kue tidak amem,\u201d kata Tiamsah sambil tersenyum. Keistimewaan lain dari jajanan yang dijual perempuan ini adalah cakar ayam \u00a0buatannya tidak menggunakan bahan pengawet dan tahan sampai sebulan.<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Harga yang ditawarkan juga beragam. Untuk harga ecerannya, cakar ayam Monica Lubis dihargai lima ribu rupiah. \u201cKalau harga dalam partai ribuan, per bungkus kita kasih tiga ribu enam ratus, dan untuk partai tolak kita kasih\u2019 harga biasanya 4 ribu sampai empat ribu lima ratus rupiah per bungkus,\u201d terang Tiamsah lagi.\u00a0<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Dengan adanya usaha industri rumah tangga seperti ini, Tiamsah bisa menopang perekonomian keluarganya, meningkatkan ekonomi keluarganya, bahkan membantu ekonomi beberapa keluarga lain yang menjadi pekerjanya. <em>(Andi)<\/em><\/div>\n<div><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Industri Rumahan | Ekonomi Rakyat Jika dulunya Pasar Bengkel identik dengan oleh-oleh berupa dodol, sekarang daerah di Perbaungan ini mempunyai ikon baru oleh-oleh.\u00a0Nama oleh-oleh tersebut adalah cakar ayam. Makanan ringan satu ini sekarang menjadi salah satu oleh-oleh yang bisa dibawa pulang dari daerah Perbaungan. Oleh-oleh yang diolah oleh industri rumah tangga ini bisa menjadi salah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[14],"tags":[],"class_list":["post-374","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-small-enterprise-umkm"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/374","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=374"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/374\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=374"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=374"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=374"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}