{"id":373,"date":"2011-01-26T03:48:50","date_gmt":"2011-01-26T03:48:50","guid":{"rendered":"http:\/\/localhost\/bitra\/?p=373"},"modified":"2011-01-26T03:48:50","modified_gmt":"2011-01-26T03:48:50","slug":"bank-padi-bank-petani-kecil","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/bank-padi-bank-petani-kecil\/","title":{"rendered":"Bank Padi, Bank Petani Kecil"},"content":{"rendered":"<p><font color=\"#ff6600\">Ekonomi Pedesaan | Kompas.com<\/font><\/p>\n<p align=\"left\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"caption\" src=\"images\/stories\/lumbung%20toba.jpg\" border=\"0\" title=\"Lumbung padi Batak Toba\" width=\"55\" height=\"85\" align=\"left\" \/><strong><font color=\"#0000ff\">Bagi<\/font><\/strong> petani kecil, panen raya padi tak selalu merupakan kisah bahagia. Bahkan, kerap berkisah sedih. Harga gabah jatuh adalah yang paling sering terjadi. Banyak yang merugi karena terpaksa mengijonkan hasil panennya.<\/p>\n<p>Berangkat dari kenyataan itulah Bank Padi Desa Patikraja di Kecamatan Patikraja, Banyumas, Jawa Tengah, beroperasi. Dengan kredit tanpa bunga dan mesin pengeringan murah, mereka berupaya membantu petani kecil.<\/p>\n<p align=\"left\">Suara gemuruh mesin diesel penggilingan memenuhi ruangan berukuran 10 x 20 meter di bank itu. Sebuah bak berbentuk kubus setinggi 7 meter tegak berdiri di ujung utara ruangan.<\/p>\n<p>Itulah bak pengeringan gabah yang sanggup menampung 10 ton gabah. Bak raksasa itu terhubung dengan dua bak berbentuk trapesium tempat penyimpanan gabah kering yang bisa menampung 30 ton gabah.<\/p>\n<p>Dua meter sebelah selatan bak trapesium terdapat satu mesin penggilingan dengan tenaga penggerak diesel menderu, bekerja menggiling gabah yang tersalur otomatis dari bak penyimpanan.<\/p>\n<p>Tiga orang sibuk bekerja mengambil beras hasil gilingan dari corong mesin. Dua di antaranya bergantian memindahkan beras gilingan dari corong ke tumpukan beras. Satu orang lainnya sibuk memasukkan beras di tumpukan itu ke dalam karung berukuran 1 kuintal. Beras yang sudah terkemas karung itu pun siap dijual ke pasar.<\/p>\n<p>Itulah sekelumit kesibukan di Bank Padi Patikraja, Kamis (20\/1). Sekilas, kegiatan di dalam ruangan bank ini tak beda dengan tempat penggilingan beras. Namun, jika kita melongok mekanisme kerja mereka lebih jauh, kita akan tahu lewat rangkaian kegiatan produksi mengeringkan, menyimpan, dan menggiling beras, bank ini telah ikut membantu petani-petani kecil di sekitarnya.<\/p>\n<p>Menurut Siswo (58), Kepala Pengelola Bank Padi KUD Patikraja, meskipun dilengkapi alat pengeringan hingga kapasitas 30 ton dan mesin penggilingan ukuran besar, Bank Padi tak pernah mendapat keuntungan besar. \u201dPenggilingan ini lebih bersifat sosial. Uang dari hasil penggilingan kami putar untuk memberi pinjaman tanpa bunga kepada petani dan membeli gabah petani dengan harga yang pantas,\u201d katanya.<\/p>\n<p><strong>Modal<\/strong><br \/>Bank Padi Patikraja didirikan tahun 2005. Berawal dari bantuan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah sebesar Rp 1,1 miliar, seperangkat alat pengering dan penyimpanan gabah serta mesin penggilingan menjadi modal beroperasi. Semula, bank ini diharapkan dapat dimanfaatkan petani-petani sekitar untuk menyimpan dan mengeringkan gabahnya secara murah.<\/p>\n<p>Gabah terlalu basah selalu menjadi problem petani, yang membuat mereka tak mendapatkan harga jual memadai. Rendemennya pun rendah.<\/p>\n<p>Meski demikian, kenyataannya, pada awalnya, banyak petani yang tak memanfaatkan fasilitas itu. \u201dPetani di sini rata-rata sawahnya kurang dari satu hektar, bahkan kurang dari setengah hektar. Hasil panen mereka di bawah satu ton. Padahal, biaya pengeringan dan penyimpanan Rp 800.000 per ton. Akibatnya, tak ada yang memanfaatkan bank ini,\u201d kata Siswo.<\/p>\n<p>Petani banyak yang memilih mengijonkan padinya. Mereka tak mempunyai pilihan lain karena terdesak kebutuhan ekonomi. Padahal, dengan mengijon, mereka mendapat harga gabah yang sangat murah dari tengkulak, yaitu Rp 1.800 sampai Rp 2.200 per kilogram. Itu jauh di bawah harga pembelian pemerintah (HPP) yang Rp 2.460 untuk gabah basah.<\/p>\n<p>\u201dKami lalu memutar strategi, bagaimana agar bank ini tetap bisa membantu petani dengan mendayagunakan alat-alat yang sudah terbeli,\u201d tutur Siswo.<\/p>\n<p>Akhirnya, dua cara dijalankan. Pertama, menjalin kerja sama dengan sejumlah pedagang untuk membeli harga gabah petani dengan harga sesuai HPP. Kedua, memberi pinjaman tanpa bunga kepada petani sebelum panen, untuk mencegah mereka terjebak ijon.<\/p>\n<p>Untuk langkah pertama, saat ini Bank Padi Patikraja sudah memiliki lima pedagang gabah tetap yang setia menyetorkan gabah petani di sekitar Patikraja ke bank. Para pedagang itu jadi semacam mitra kerja. Mereka membeli gabah petani sesuai harga yang disepakati dengan bank, yaitu HPP. Dari pedagang itu, bank membeli gabah dengan harga sedikit di atas harga gabah.<\/p>\n<p>Dengan cara yang demikian, petani kecil yang selama ini kesulitan mendapatkan harga gabah secara pantas, akhirnya terbantu. Gabah mereka juga terserap dengan mudah. Gabah yang terlalu basah dapat diolah lebih baik di mesin pengeringan. \u201dPetani, pedagang, dan kami pun untung karena dapat beras. Meskipun untung, sebenarnya tak banyak. Setelah dikurangi rendemen, ongkos pengeringan dan penggilingan, dari satu ton untung kami hanya Rp 100.000,\u201d tutur Siswo.<\/p>\n<p>Soal pemberian pinjaman tanpa bunga, menurut Siswo, hal itu diberlakukan menjelang panen. \u201dDengan cara itu, mereka tak tergoda mengijon karena kebutuhannya tercukupi menjelang panen. Utang nanti dibayar saat panen,\u201d ujarnya bangga.<br \/><strong>(M Burhanudin)<\/strong> <\/p>\n<p><em>Sumber: http:\/\/koran.kompas.com <\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ekonomi Pedesaan | Kompas.com Bagi petani kecil, panen raya padi tak selalu merupakan kisah bahagia. Bahkan, kerap berkisah sedih. Harga gabah jatuh adalah yang paling sering terjadi. Banyak yang merugi karena terpaksa mengijonkan hasil panennya. Berangkat dari kenyataan itulah Bank Padi Desa Patikraja di Kecamatan Patikraja, Banyumas, Jawa Tengah, beroperasi. Dengan kredit tanpa bunga dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[14],"tags":[],"class_list":["post-373","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-small-enterprise-umkm"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/373","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=373"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/373\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1759,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/373\/revisions\/1759"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=373"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=373"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=373"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}