{"id":328,"date":"2011-02-21T12:04:37","date_gmt":"2011-02-21T12:04:37","guid":{"rendered":"http:\/\/localhost\/bitra\/?p=328"},"modified":"2011-02-21T12:04:37","modified_gmt":"2011-02-21T12:04:37","slug":"tiada-lebah-tiada-kehidupan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/tiada-lebah-tiada-kehidupan\/","title":{"rendered":"Tiada Lebah, Tiada Kehidupan"},"content":{"rendered":"<p><font color=\"#ff6600\">Perubahan Iklim | <a href=\"http:\/\/kompas.com\/\">Kompas.com<\/a><\/font><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"caption\" src=\"images\/stories\/sarang-lebah.jpg\" border=\"0\" title=\"Foto: Kompas\" hspace=\"4\" vspace=\"4\" width=\"153\" height=\"78\" align=\"left\" \/><strong><font color=\"#0000ff\">\u201dJika<\/font><\/strong> lebah musnah dari muka bumi ini, manusia hanya sanggup bertahan selama empat tahun. Tak ada penyerbukan, tak ada tanaman, tak ada binatang lagi, tiada lagi manusia.\u201d (Albert Einstein)<\/p>\n<p>Ungkapan fisikawan Albert Einstein ini barangkali terlalu menyederhanakan, tetapi sebenarnya sangat masuk akal. Tanpa lebah, tak akan ada penyerbukan\u2014setidaknya prosesnya akan berkurang drastis. Tiada penyerbukan berarti tiada makanan. Bagaimana manusia bisa bertahan tanpa makanan?<\/p>\n<p>\u201dMemang ada beberapa cara lain untuk membantu penyerbukan, tetapi lebah tetap yang terbaik. Setidaknya 90 persen penyerbukan tanaman biji-bijian dibantu lebah,\u201d kata Warsito, ahli serangga Pusat Penelitian (P2) Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Namun, dunia saat ini terancam kehilangan lebah.<\/p>\n<p>Salah satu fenomena terbaru adalah terjadinya colony collapse disorder (CCD). Dalam setahun sejak dilaporkan pada tahun 2007, CCD telah memunahkan sepertiga lebah (Apis mellifera) di Amerika Serikat dan menghabisi jutaan koloni di seluruh dunia (Alison Benjamin dan Brian McCallum dalam A World Without Bees, 2008).<\/p>\n<p>Pada tahun 2009, Pemerintah AS melaporkan terjadi penurunan koloni lebah hingga 29 persen. Penurunan misterius lebah itu juga telah dilaporkan di Eropa, Jepang, China, dan sejumlah negara lain sehingga mengancam pertanian tanaman yang bergantung pada lebah penyerbuk.<\/p>\n<p>Fenomena CCD masih belum jelas penyebabnya hingga kini. Namun, bisa dikenali dari gejalanya, yaitu sarang-sarang yang ditinggalkan lebah pekerja dan menyisakan sang ratu serta bayi lebah yang kelaparan dan akhirnya mati. Sejumlah peneliti menduga, CCD disebabkan hilangnya kemampuan navigasi lebah akibat perubahan iklim sehingga mereka tidak mampu menemukan jalan pulang ke sarang. \u201dPadahal, lebah serangga genius yang memiliki navigasi canggih. Kehilangan kemampuan navigasi bisa jadi akhir bagi lebah,\u201d kata Warsito.<\/p>\n<p>Sebagian ilmuwan menduga hal itu karena pestisida dan perubahan lingkungan. Bagaimana dengan kondisi di Indonesia?<\/p>\n<p><strong>Musim Tanpa Bunga<\/strong><\/p>\n<p>Pada setiap awal musim kemarau (Juni) hingga awal musim hujan (Desember), Kebun Raya Bogor biasa dipenuhi koloni lebah hutan (Apis dorsata). Pada bulan-bulan itu, Kebun Raya Bogor biasa ramai oleh dengung kepak sayap lebah hutan. Namun, suasana tiba-tiba berubah pada tahun 2010. Nyaris sepanjang tahun tak terdengar dengung Apis dorsata di sana. Peneliti lebah dari P2 Biologi LIPI, Sih Kahono, yang sejak 1993 meneliti lebah hutan di Kebun Raya Bogor, terkaget-kaget dengan situasi ini.<\/p>\n<p>\u201dSaya melihat beberapa peristiwa yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Irama alam kacau. Beberapa tanaman tidak berbunga. Ratusan ribu lebah dari 40 koloni yang biasanya muncul serempak dan pergi bersama-sama tak terjadi lagi,\u201d kata Kahono.<\/p>\n<p>Sepanjang tahun 2010, nyaris hanya 10 koloni yang datang. Itu pun jumlah lebah per koloni menurun drastis, nyaris separuhnya. Mereka juga tidak datang serempak. Sebagian yang bermigrasi kembali lagi. Bahkan, hingga Februari 2011, masih ada yang tinggal di Kebun Raya. \u201dIni tidak pernah terjadi sebelumnya. Mereka gagal bermigrasi. Lebah sepertinya kebingungan membaca iklim. Mereka mungkin tidak tahu harus pergi ke mana. Bisa jadi itu pertanda CCD,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Bagi Kahono, fenomena ini adalah pertanda masalah lebih besar. Perilaku lebah yang sudah terbentuk sekian lama menjadi kacau karena ritme alam berubah. \u201dSetiap hewan atau satwa dibekali kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan. Namun, tidak semua bisa. Kalaupun bisa, butuh waktu. Bisa jadi lebah termasuk yang akan gagal beradaptasi,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Apalagi, selain perubahan iklim, lebah juga mengalami desakan yang luar biasa karena rusaknya habitat. Pestisida menjadi ancaman yang paling ganas, selain pembalakan hutan. Kahono mengatakan, sejauh ini belum ada penelitian yang rinci memetakan penurunan populasi lebah di Indonesia. Namun, dari penelitian intensif di sejumlah sarang sejak 10 tahun terakhir, Kahono menemukan penurunan jumlah koloni dan anggota tiap koloni sebanyak 30-50 persen.<\/p>\n<p>Kuntadi, peneliti lebah di Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi Kementerian Kehutanan, mengatakan, lebah merah (Apis koschevnikovi) sekarang hanya ditemui di Kalimantan. \u201dDi Sumatera tidak ada lagi,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Selain itu, lebah kerdil (Apis andreniformis) juga terancam punah. \u201dLima tahun lalu, warga Ujung Kulon mengaku melihat Apis andreniformis. Dari deskripsi morfologinya memang benar. Namun, saya tidak bisa menemukan,\u201d kata Kahono.<\/p>\n<p>Fenomena sulit lebah alam ini juga dialami oleh lebah ternak. \u201dTahun ini produksi madu di peternakan sangat turun,\u201d kata Kuntadi, yang memelihara 150 koloni lebah eropa (Apis mellifera). Tiap koloni terdiri dari sekitar 10.000 lebah.<\/p>\n<p>Setahun terakhir, tiap minggu, Kuntadi mesti memberi gula 150 kg untuk tambahan pakan lebah. \u201dBukannya untung, justru merugi. Karena itu, banyak peternak yang mengurangi lebah mereka hingga separuh karena sulitnya cari bunga,\u201d katanya. Lalu apa jadinya jika lebah benar-benar punah?<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"caption\" src=\"images\/stories\/jenis-lebah.jpg\" border=\"0\" title=\"Sumber: Kompas\" width=\"510\" height=\"273\" \/><\/p>\n<p><strong>Penyerbukan Buatan<\/strong><\/p>\n<p>\u201dSaya mendapat laporan di sekitar Gombong, Jawa Tengah, petani harus membantu penyerbukan tanaman melon dengan tangan karena lebah bangbara (Xylocopa spp) sudah sangat jarang,\u201d kata Kahono.<\/p>\n<p>Dalam skala besar, fenomena Gombong ini mengingatkan pada situasi di selatan Sichuan, China, saat ribuan orang dibayar untuk membantu penyerbukan buah pir. \u201dSetiap April, ribuan orang membawa galah bambu yang ujungnya ditempeli bulu ayam untuk membantu penyerbukan buah pir. Ritual ini terpaksa dilakukan setelah pestisida memusnahkan lebah di sana,\u201d sebut Alison Benjamin (2009). Alison menyebutkan, penyerbukan buatan itu juga tak sepenuhnya sukses, selain juga membuat ongkos produksi pangan menjadi tidak rasional lagi.<\/p>\n<p>Dari lebah kita bisa membaca, perubahan iklim benar-benar telah hadir. Tak hanya lebah yang terancam, bahkan kehidupan manusia itu sendiri dalam ancaman besar, sebagaimana diperingatkan Einstein, seberapa lama kita mampu bertahan tanpa lebah? <\/p>\n<p>Oleh, Ahmad Arif<\/p>\n<p><em>Sumber: Harian Kompas &#038; Kompas.com<\/em> <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Perubahan Iklim | Kompas.com \u201dJika lebah musnah dari muka bumi ini, manusia hanya sanggup bertahan selama empat tahun. Tak ada penyerbukan, tak ada tanaman, tak ada binatang lagi, tiada lagi manusia.\u201d (Albert Einstein) Ungkapan fisikawan Albert Einstein ini barangkali terlalu menyederhanakan, tetapi sebenarnya sangat masuk akal. Tanpa lebah, tak akan ada penyerbukan\u2014setidaknya prosesnya akan berkurang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"class_list":["post-328","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-lingkungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/328","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=328"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/328\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=328"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=328"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=328"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}