{"id":315,"date":"2009-07-05T11:02:34","date_gmt":"2009-07-05T11:02:34","guid":{"rendered":"http:\/\/localhost\/bitra\/?p=315"},"modified":"2009-07-05T11:02:34","modified_gmt":"2009-07-05T11:02:34","slug":"disinyalir-populasi-ikan-di-perairan-belawan-turun-akibat-tercemar-limbah-pabrik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/disinyalir-populasi-ikan-di-perairan-belawan-turun-akibat-tercemar-limbah-pabrik\/","title":{"rendered":"Disinyalir, Populasi Ikan di Perairan Belawan Turun akibat Tercemar Limbah Pabrik"},"content":{"rendered":"<p>Akhir-akhir ini, sejumlah nelayan tradisional mengeluhkan sulitnya menangkap ikan akibat turunnya populasi ikan dan hasil laut lainnya di sekitar perairan Belawan. Penurunan populasi ikan yang disinyalir akibat pencemaran limbah pabrik membuat para nelayan terpaksa berlayar hingga keluar dari perairan tersebut, bahkan sebagian dari mereka mengalihkan pekerjaannya ke sektor lain.<\/p>\n<p>\u201cBeberapa tahun belakangan ini hasil tangkapan kami menurun drastis,\u201d ucap Bahrul (50), salah seorang nelayan dari Desa Bagan Deli Kecamatan Medan Labuhan kepada Medan Bisnis, Minggu (26\/2) di Belawan.<\/p>\n<p>Menurutnya, untuk memperoleh hasil tangkapan hingga bisa menutupi biaya produksi, para nelayan terpaksa berlayar hingga ke luar dari perairan Belawan seperti Langkat, Pantai Labu dan sekitarnya. \u201cKarena perjalanan lebih jauh, otomatis waktu yang diperlukan jadi makin panjang dan biaya produksi kami juga semakin bertambah,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Sebelumnya, kata Bahrul, pekerjaan menangkap ikan hanya dilakukan satu hari satu malam saja dengan hasil tangkapan berupa kepiting sebanyak antara 80-100 kg. Tetapi sekarang mereka harus menghabiskan waktu hingga tiga hari tiga malam. \u201cTentu saja, biaya produksi berupa minyak solar atau minyak tanah makin bertambah. Bayangkan saja, dari 35 liter minyak yang biasa kami pakai naik menjadi 70 liter dan ini belum lagi biaya untuk makanan, rokok dan akomodasi lainnya,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Di tempat terpisah, Herman (35) mengatakan, sekali berangkat melaut, modal yang mereka butuhkan mencapai Rp 500.000 &#8211; Rp 700.000. Sementara pendapatan yang diperoleh kadang tidak sebanding dengan modal yang dikeluarkan.<\/p>\n<p>\u201cTak jarang kami harus berutang untuk menutupi cost produksi. Kalau sudah begini, kita tidak bisa lagi mengandalkan hasil tangkapan. Makanya untuk mengisi kekosongan waktu, saat melaut kami memancing dan ini bisa nambah pendapatan,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Herman sendiri mengaku memiliki sebuah perahu dengan jaring kepiting. Tiap harinya, rata-rata pendapatan bersih yang diterimanya hanya Rp 5.000. \u201cDari memancing selama melaut atau tiga hari saya bisa menambah pendapatan antara Rp 40.000 hingga Rp 50.000,\u201d akunya.<\/p>\n<p>Berkurangnya hasil tangkapan para nelayan menurut Herman dan Bahrul karena lingkungan perairan Belawan saat ini sudah tidak kondusif lagi sebagai tempat berkembangnya ikan dan biota laut lainnya. Terumbu karang misalnya, rusak karena pukat harimau yang mengeruk ikan hingga dasar laut. Selain itu perairan ini juga disinyalir sudah tercemar dengan limbah dari pabrik.<\/p>\n<p>\u201cLihat saja itu, banyak udang yang muncul ke permukaan karena mabuk. Kalau sudah begini, anak-anak pun ramai menangkapnya. Tapi hasilnya tak seberapa,\u201d katanya sambil menunjuk ke permukaan air laut.<\/p>\n<p>Lebih jauh Bahrul mengatakan, turunnya aktivitas nelayan di desa tersebut membuat sebagian kalangan nelayan mengalihkan pekerjaan ke sektor laut, seperti menjadi buruh, berdagang dan lainnya.<\/p>\n<p>\u201cSebagian lagi memang tetap menjadi nelayan tapi frekuensi melautnya dikurangi. Saya sendiri tidak punya keahlian lain. Jadi, mau tidak mau saya tetap mengandalkan hidup sebagai nelayan,\u201d ucap Bahrul.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Akhir-akhir ini, sejumlah nelayan tradisional mengeluhkan sulitnya menangkap ikan akibat turunnya populasi ikan dan hasil laut lainnya di sekitar perairan Belawan. Penurunan populasi ikan yang disinyalir akibat pencemaran limbah pabrik membuat para nelayan terpaksa berlayar hingga keluar dari perairan tersebut, bahkan sebagian dari mereka mengalihkan pekerjaannya ke sektor lain. \u201cBeberapa tahun belakangan ini hasil tangkapan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"class_list":["post-315","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-lingkungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/315","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=315"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/315\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=315"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=315"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=315"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}