{"id":3113,"date":"2015-05-22T15:04:26","date_gmt":"2015-05-22T08:04:26","guid":{"rendered":"http:\/\/bitra.or.id\/2012\/?p=3113"},"modified":"2015-05-22T15:40:24","modified_gmt":"2015-05-22T08:40:24","slug":"kisah-petani-yang-bertahan-di-tengah-gempuran-limbah-industri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/kisah-petani-yang-bertahan-di-tengah-gempuran-limbah-industri\/","title":{"rendered":"Kisah Petani yang Bertahan di Tengah Gempuran Limbah Industri"},"content":{"rendered":"<div id=\"attachment_3114\" style=\"width: 310px\" class=\"wp-caption alignright\"><a href=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/2015\/05\/22\/kisah-petani-yang-bertahan-di-tengah-gempuran-limbah-industri\/organik-limbah\/\" rel=\"attachment wp-att-3114\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-3114\" class=\"wp-image-3114 size-medium\" src=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/Organik-Limbah-300x191.jpg\" alt=\"Uji coba penanaman padi organik di Kecamatan Rancaekek yang teraliri limbah industri dinyatakan berhasil. Jumlah produksi padi naik lebih dari 100 persen. (Foto: Kompas.com\/Reni Susanti)\" width=\"300\" height=\"191\" srcset=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/Organik-Limbah-300x191.jpg 300w, https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/Organik-Limbah.jpg 510w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><p id=\"caption-attachment-3114\" class=\"wp-caption-text\">Uji coba penanaman padi organik di Kecamatan Rancaekek yang teraliri limbah industri dinyatakan berhasil. Jumlah produksi padi naik lebih dari 100 persen. (Foto: Kompas.com\/Reni Susanti)<\/p><\/div>\n<p>Senyuman berkembang di bibir Olih Solihin (53). Senyuman yang nyaris tak pernah terlihat sejak 1991 lalu setelah sawahnya kerap gagal panen. Alasannya karena satu, tercemar limbah salah satu pabrik besar di Bandung, PT Kahatex yang berdiri sekitar tahun 1991.<\/p>\n<p>Sejak berdiri, PT Kahatex diduga membuang limbahnya langsung ke Sungai Cikijing. Padahal aliran Sungai Ciking merupakan sumber utama pengairan sawah di Rancaekek dan sekitarnya. Akibat limbah yang di antaranya mengandung BOD dan COD ini, padi yang ditanam mati. Kalaupun hidup, padi yang dihasilkan kempes alias gagal panen (puso).<\/p>\n<p>Meski demikian, Olih tetap bertahan. Pada musim tanam, ia tetap menanam padi dengan harapan hasil yang diperoleh lebih baik. Namun saat panen, ia kembali kecewa karena hasil yang diperoleh jauh dari harapan. Bahkan, ada kalanya ia rugi dan tidak mampu menutup biaya produksi.<\/p>\n<p>\u201cBiaya produksi dari mulai benih, pupuk, hingga upah petani sekitar Rp 1 juta per petak,\u201d ujar Olih kepada <em>Kompas.com, <\/em>belum lama ini di Rancaekek, Kabupaten Bandung.<\/p>\n<p><strong>Kerap rugi<\/strong><br \/>\nOlih mengungkapkan, tahun 1980-an, beras Rancaekek menjadi yang terbaik di nasional. Harganya pun sangat tinggi dibanding yang lain. Namun kini, beras Rancaekek jelek dan harganya pun di bawah rata-rata. Jika di kampung lain gabah kering dihargai Rp 500.000 per kuintal, di Rancaekek hanya Rp 480.000 per kuintal.<\/p>\n<p>\u201cKami kerap rugi. Tapi kami tidak menyerah. Gagal, tanam lagi. Gagal lagi, ya terus tanam lagi. Walaupun memang hasilnya tidak banyak perubahan. Kalau dulu satu petak sawah bisa menghasilkan 1 ton gabah, kini paling banyak hanya 6 kuintal,\u201d ungkap Olih.<\/p>\n<p>Sebenarnya, sambung Olih, banyak petani yang enggan bertani. Namun mereka tidak banyak pilihan selain harus menanami lahannya. Karena setidaknya, mereka bisa memperpanjang hidup dan menaruh harapan hasil padi akan membaik. Untuk menutupi kebutuhan hidupnya sehari-hari, banyak petani yang menyambi jadi tukang ojek.<\/p>\n<p>\u201cKalau tidak <em>ngojeg<\/em> mau makan dari mana. Sudah nyambi juga makan hanya seadanya sama sayur, tempe, tahu, atau asin,\u201d imbuhnya.<\/p>\n<p><strong>Harapan baru<\/strong><br \/>\nSetelah lebih dari 10 tahun berduka, harapan baru muncul ketika sekelompok relawan membuat percontohan penanaman padi organik di lokasi tersebut. Proses ini mereka sebut bioremediasi, yakni dari mulai pembenihan, pemberian pupuk, hingga panen menggunakan cara organik. Terutama dalam hal pupuk, mereka menggunakan pupuk organik yang dibuat sendiri.<\/p>\n<p>\u201cYang dijadikan percontohan satu petak ini. Lihatlah hasilnya, luar biasa. Baru kali ini saya melihat padi di sini berisi. Dan, lihatlah sawah sekelilingnya, tidak bisa dipanen karena padinya kempes, enggak ada isinya,\u201d tutur Olih membandingkan sawah garapannya dengan milik orang lain.<\/p>\n<p>Pendamping Olih dari Paguyuban Warga Peduli Lingkungan (Pawapeling), Adi M Yadi menjelaskan, bioremediasi ini berhasil meningkatkan produksi padi. Di sawah percontohan yang hanya satu petak tersebut, padi yang dihasilkan mencapai 940 kg gabah basah. Jumlah ini meningkat lebih dari dua kali lipat dari sebelumnya 400 kg.<\/p>\n<p>Keberhasilan utamanya ada pada pupuk organik yang mereka produksi sendiri, yakni bakteri hasil fermentasi tumbuhan dan serangga selama dua bulan sehingga menjadi pupuk cair organik.<\/p>\n<p>\u201cPupuk tersebut terbukti mampu mengembalikan kontur tanah sawah tercemar menjadi produktif kembali,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Atas keberhasilan ini, ia mempersilakan petani dimanapun untuk mempelajari pembuatan pupuk cair organik tersebut.<\/p>\n<p>\u201cSemuanya gratis, silakan yang mau belajar. Karena tujuan kami adalah meningkatkan keinginan masyarakat untuk <em>nyawah<\/em>(menanam padi). Caranya dengan membuat biaya produksi rendah tapi hasil yang memuaskan,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p>Sebab, uji coba yang dilakukannya di Rancaekek hanya membutuhkan biaya yang sedikit. Seluruh tumbuhan dan serangga yang digunakan untuk pupuk banyak ditemukan di pesawahan. Begitupun dengan benih ia mendapatkannya cuma-cuma.<\/p>\n<p>\u201cKemarin itu ada kesalahan dalam pembenihan, kalau pembenihannya sukses maka hasilnya diperkirakan akan lebih bagus lagi,\u201d tutupnya.<\/p>\n<p><em>Penulis: Reni Susanti<\/em><\/p>\n<p><em>Editor: Farid Assifa<\/em><\/p>\n<p><em>Sumber Teks &amp; Foto:\u00a0http:\/\/regional.kompas.com<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Senyuman berkembang di bibir Olih Solihin (53). Senyuman yang nyaris tak pernah terlihat sejak 1991 lalu setelah sawahnya kerap gagal panen. Alasannya karena satu, tercemar limbah salah satu pabrik besar di Bandung, PT Kahatex yang berdiri sekitar tahun 1991. Sejak berdiri, PT Kahatex diduga membuang limbahnya langsung ke Sungai Cikijing. Padahal aliran Sungai Ciking merupakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7,11],"tags":[17,477],"class_list":["post-3113","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-community-development","category-lingkungan","tag-geliat-petani","tag-limbah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3113","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3113"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3113\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3117,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3113\/revisions\/3117"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3113"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3113"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3113"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}