{"id":293,"date":"2011-01-06T07:10:15","date_gmt":"2011-01-06T07:10:15","guid":{"rendered":"http:\/\/localhost\/bitra\/?p=293"},"modified":"2013-05-14T10:56:36","modified_gmt":"2013-05-14T03:56:36","slug":"sejarah-berdirinya-kelompok-kesehatan-alternatif-sirih-merah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/sejarah-berdirinya-kelompok-kesehatan-alternatif-sirih-merah\/","title":{"rendered":"Sejarah Berdirinya Kelompok Kesehatan Alternatif Sirih Merah"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" alt=\"\" src=\"images\/stories\/kel-sirih-merah.jpg\" width=\"160\" height=\"119\" align=\"left\" border=\"0\" hspace=\"4\" vspace=\"4\" \/><span style=\"color: #0000ff;\"><strong>Awal<\/strong><\/span> tahun 2001, beberapa alumni Yayasan Pembinaan Tabib Indonesia (YAPTHI) yang berpusat di Ngemplak, Jawa Timur, mengadakan pelatihan dasar thabib di Medan. walaupun dalam pelatihan tersebut peserta di kenakan biaya Rp 175,000 per orang untuk 2 hari, tetapi yang ikut cukup banyak, sekitar 150 orang.<\/p>\n<p>Beberapa bulan kemudian guru besar YAPTHI Kyai H. Mhd Socheh Burhanuddin juga menyelanggarakan pelatihan tabib di Medan selama 10 hari. biaya keseluruhan hampir 1 juta per orang. kegiatan tersebut di ikuti sekitar 40 orang dari berbagai wilayah, termasuk Aceh dan Riau. sebagian besar peserta adalah peserta pelatihan dasar tabib sebelumnya, termasuk penulis.<\/p>\n<p>Dua kali pelatihan inilah yang menjadi dasar bagi penulis dan beberapa teman-teman yang lain dalam menekuni dunia pengobatan tradisional\/alternatif ke depan. Bagaimana tidak? Dalam pelatihan tersebut betul-betul di tanamkan keyakinan yang sangat kuat akan manfaat dari pengobatan tradisional serta sasarannya ke depan. Bahkan beberapa metode pengobatan tradisional dikenalkan dan di ajarkan, antara lain; akupresure, gurah, bekam, ruqyah, ramu-ramuan herbal dan yang lain, semua itu berlandaskan agama.<\/p>\n<p>Paska pelatihan masing-masing peserta terjun ke masyarakat di daerahnya masing-masing sehingga seiring berjalannya waktu ada yang tetap bertahan dan ada yang tenggelam karena tidak terorganisir dengan baik. walaupun pada awalnya YAPTHI membuka klinik pengobatan alternatif di jalan Bahagia By Pass, Simpang Jl Saudara (kira-kira 100 meter dari kantor BITRA) sebagai pusat informasi dan komunikasi bagi para alumninya (penulis juga ikut praktek sebagai praktisi) namun karena manajemen yang kurang baik, akhirnya klinik tutup.<\/p>\n<p>Kondisi seperti itulah yang kemudian mendorong penulis dan beberapa teman-teman untuk tetap menjalin komunikasi, agar bisa saling bertukar informasi tentang kendala-kendala yang di hadapi di lapangan. Sehingga, kemudian setiap bulan diadakan pertemuan rutin dan tempatnya berpindah-pindah. Tetapi sayang yang aktif dan bertahan hanya sekitar 15 orang saja dari wilayah Binjai, Medan dan Deli Serdang.<\/p>\n<p>Seiring dengan dinamika yang ada dalam dunia pengobatan tradisional\/alternatif, semangat untuk\u00a0 menambah ilmu-pun semakin tinggi, sehingga dalam beberapa tahun kemudian, penulis dan teman-teman menguasai beberapa metode pengobatan yang baru seperti; terapi energy elektron, totok darah, gurah narkoba, pembuatan VCO, jamu instan, dll. Bahkan beberapa orang (termasuk penulis) sudah tergabung di dalam tim pengobatan kecanduan narkoba yang bekerja sama dengan jajaran kepolisian dan pernah ikut dalam bakti sosial pengobatan narkoba di Rutan Labuhan Deli, Belawan, bekerja sama dengan jajaran polisi perairan Belawan.<img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" alt=\"\" src=\"images\/stories\/berkelompok.jpg\" width=\"225\" height=\"250\" align=\"right\" border=\"0\" hspace=\"4\" vspace=\"4\" \/><\/p>\n<p>Pada tahun 2006 penulis mendengar informasi tentang sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang banyak menyelenggarakan kegiatan-kegiatan positif, termasuk tentang kesehatan alternatif\u00a0 di masyarakat. Lembaga tersebut bernama Bina Keterampilan Pedesaan Indonesia (BITRA). Namun karena informasinya kurang jelas, BITRA itu makhluk seperti apa? Arahnya kemana? Maka penulis belum bisa berhubungan. Baru di bulan Juli 2009 ada informasi yang akurat tentang lembaga ini, datangnya dari seorang teman alumni YAPTHI yaitu Bapak Suwardi yang kemudian mengajak untuk membentuk kelompok.<\/p>\n<p>Pucuk di cinta ulampun tiba, kabar ini di sambut baik oleh teman-teman dan akhirnya pada tanggal 24 Agustus 2009 diadakanlah pertemuan di rumah Pak Suwardi di Jl A. Yani, Pasar VII, Tanjung Jati, Langkat yang di hadiri oleh Pak Iswan Kaputra dan Pak Misdi dari BITRA, sehingga terbentuklah sebuah kelompok kesehatan Alternatif yang bernama Sirih Merah, dengan susunan kepengurusan; Supriyanto (Ketua), Rusdi (Wakil Ketua), Asrafin (Sekretaris) dan Sumiati (Bendahara).<\/p>\n<p>Setelah terbentuk kelompok Sirih Merah geliat dan keaktifan kelompok kesehatan alternatif ini-pun terus meningkat bersama BITRA mengadakan berbagai kegiatan di bidang kesehatan alternatif pada masyarakat, termasuk mengutus anggotanya untuk mengikuti berbagai macam pelatihan yang diadakan oleh BITRA.<\/p>\n<p>Berbagai pelatihan yang telah diikuti untuk meningkatkan kemampauan para pengobat anggota kelompok Sirih Merah antara lain; Pelatihan Siaga Bencana, Pelatihan Akupresure Dasar dan Lanjutan, Pelatihan Tentang Organisasi, Loby dan Negosiasi, Pelatihan Tentang Hukum dan HAM, Pelatihan Tentang Gender, Pelatihan Pembuatan Ekstrak Obab Tradisional di Laboratorium Farmasi USU, Pelatihan Fasilitator, Sarasehan di Air Hitam, Labuhan Batu, Baksos di Berbagai Tempat dan banyak lagi kegiatan lainnya.<\/p>\n<p>Tidak dapat dipungkiri selama menjadi dampingan BITRA, anggota kelompok Sirih Merah semakin tambah maju, baik dari ilmu pengobatan, ilmu berorganisasi, ilmu berkomunikasi, dan yang lain. Bahkan kini dengan di fasilitasi oleh BITRA kelompok Sirih Merah telah mewujudkan demonstrasi plot (Demplot) tanaman obat di Tanjung Jati, Langkat dan di Jl\u00a0 AR. Hakim, Binjai. Semoga ke depan tambah maju terus. Bravo Sirih Merah\u2026! Bravo BITRA\u2026!<\/p>\n<p><em>Penulis: Rusdi, Ketua Assosiasi Pengobat Alternatif Sumatera Utara (APASU) dan Wakil Ketua Kelompok Sirih Merah, Langkat.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Awal tahun 2001, beberapa alumni Yayasan Pembinaan Tabib Indonesia (YAPTHI) yang berpusat di Ngemplak, Jawa Timur, mengadakan pelatihan dasar thabib di Medan. walaupun dalam pelatihan tersebut peserta di kenakan biaya Rp 175,000 per orang untuk 2 hari, tetapi yang ikut cukup banyak, sekitar 150 orang. Beberapa bulan kemudian guru besar YAPTHI Kyai H. Mhd Socheh [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7,201],"tags":[],"class_list":["post-293","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-community-development","category-jurnalis-warga"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/293","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=293"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/293\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1762,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/293\/revisions\/1762"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=293"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=293"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=293"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}