{"id":289,"date":"2010-01-28T09:50:57","date_gmt":"2010-01-28T09:50:57","guid":{"rendered":"http:\/\/localhost\/bitra\/?p=289"},"modified":"2010-01-28T09:50:57","modified_gmt":"2010-01-28T09:50:57","slug":"sekolah-lapang-sebuah-pencerahan-bagi-petani","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/sekolah-lapang-sebuah-pencerahan-bagi-petani\/","title":{"rendered":"Sekolah Lapang, Sebuah Pencerahan Bagi Petani"},"content":{"rendered":"<div>\n<div style=\"text-align: center\"><img decoding=\"async\" class=\"caption\" src=\"images\/stories\/sl%20psa%204.jpg\" border=\"0\" alt=\"SL-PSA\" title=\"Kelompok tani Subur di desa Lubuk Bayas, Serdang Bedagai, Sumatera Utara, sedang melakukan pengamatan tanaman pangan (padi organik) mereka dalam rangkaian kegiatan SL-PSA\" \/><\/div>\n<\/div>\n<div align=\"left\"><strong>Padi<\/strong> (<em>oryza sativa<\/em>) merupakan komoditi pangan utama penduduk Indonesia. Akibat bertambahnya penduduk dan berkurangnya areal sawah, sejumlah pihak terus berupaya mengembangkan teknologi budidaya padi. Tapi sayang, sejumlah teknologi temuan tidak berdasar pada kelestarian lingkungan alam.<\/div>\n<div align=\"left\">Pemupukan, pengendalian hama dan penyakit dengan racun sintesis yang tidak mengikuti aturan pemakaian serta penggunaan benih di lahan pertanian, membuat petani melupakan budidaya pertanian selaras alam. Jika keadaan ini terus berlangsung, maka ketergantungan petani akan asupan dari luar takkan bisa diretas. <\/div>\n<div align=\"left\">  <\/div>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Tentu saja hal ini akan berdampak negatif bagi kelangsungan hidup petani, sebab segala bentuk asupan tersebut akan semakin mahal harganya sebagai mengikuti perkembangan harga pasar. Kondisi ini akan menambah beban hidup petani yang pada akhirnya akan memungkinkan petani beralih profesi sehingga konversi lahan produksi pertanian akan meningkat dan dapat mengancam ketersediaan pangan. Jika hal tersebut terjadi, maka angka kenaikan produksi Gabah Kering Giling (GKG) pada 2009 yang diasumsikan Badan Pusat Statistik (BPS) sebesar 63,84 juta ton, tidak akan bisa terwujud.<\/p>\n<p align=\"left\">\u00a0<\/p>\n<div align=\"left\">  <\/div>\n<p>Bukan hanya soal ketersediaan pangan. Jikapun angka ramalan tersebut dapat terpenuhi dan kita bisa melakukan swasembada beras maupun ekspor beras, bagaimana dengan kualitas kesehatan beras dan kesehatan ekosistem pertanian?<\/p>\n<div align=\"left\">  <\/div>\n<p>Akumulasi senyawa kimia dalam produk pertanian, terutama sayuran dan buah buahan, merupakan isu utama para konsumen yang perduli terhadap kesehatan. Dalam sebuah investigasi yang dilakukan di Italia terhadap berbagai produk buah-buahan ditemukan sedikitnya 25 sampel yang terkontaminasi thiabendazole (TBZ) dan 27 terkontaminasi carbendazim (CBM) dari 83 sampel (Sannino, 1995). Hal sama terjadi di Belgia dimana hanya 31.3 persen sayur-sayuran terbebas dari kontaminasi pestisida sedangkan 49.1 persen terkontaminasi senyawa residu kurang berbahaya dan 19.6 persen oleh residu yang berbahaya (Dejonckheere et al., 1996). Di Cina, sedikitnya 5 jenis 4 senyawa organophosphate ditemukan pada berbagai produk makanan oleh Chen &#038; Gao, (1993). Sedangkan di Indonesia, menurut hasil penelitian dampak residu pestisida pada produk pertanian segar yang dilakukan Laboratorium Kimia Agro, ditemukan residu imidakloprid (merupakan bahan aktif dari golongan kloronikotinil yang bekerja cepat sebagai racun perut dan sangat efektif mengendalikan lalat) sebanyak 0,08688 mg\/kg dari batas standard aman 0,05 mg\/kg.<\/p>\n<div align=\"left\">  <\/div>\n<p>Kesehatan produksi pertanian ini sangat menentukan kualitas kesehatan manusia Indonesia. Tidak hanya berdampak negatif bagi kesehatan manusia, pemberian berbagai senyawa kimia, baik berupa bakterisida, fungisida, algisida, herbisida, akarisida, pestisida, nematisida maupun pupuk-pupuk kimia seperti urea, NPK, KCL, TSP dan sebagainya, yang dilakukan petani sejak gerakan revolusi hijau, telah membuat bahan kimia yang diaplikasikan ke alam terakumulasi di dalam tanah, air tanah dan bagian dari tanaman maupun hewan. <\/p>\n<div align=\"left\">  <\/div>\n<p>Selain itu, senyawa-senyawa &#8216;sida&#8217; yang dibawa pupuk dan racun hama sering tidak selektif membunuh berbagai mahluk hidup. Racun dari berbagai jenis \u201csida\u201d ini juga ikut membunuh organisme yang bukan predator hama. Alhasil, terjadilah ledakan hama sekunder. Kemudian, penggunaan senyawa \u201dsida\u201d yang tidak tepat dapat berdampak pada peningkatan kekebalan hama dan penyakit. Dampak negatif lainnya dari penggunaan segala jenis pupuk dan racun kimia ini adalah berkurangnya materi organik, sehingga tanah menjadi keras, porositas tanah berkurang, nilai tukar ion tanah, daya ikat air serta populasi dan aktivitas mikroba tanah menjadi rendah. <\/p>\n<div align=\"left\">  <\/div>\n<p>Secara keseluruhan, penggunaan senyawa \u201csida\u201d dapat berakibat pada rendahnya tingkat kesuburan tanah (Stoate et al., 2001). Tentu saja hal ini mengakibatkan terhambatnya proses serapan akar terhadap air dan hara yang terlarut sehingga keberadaan hara dalam jumlah rendah tidak dapat diambil akar secara optimal. Dengan demikian, diperlukan dosis pupuk yang lebih tinggi untuk memungkinkan akar dapat menyerap hara dalam jumlah yang cukup dari ketersediaan hara yang terdapat dalam tanah. Hal inilah yang menyebabkan peningkatan dosis pemakaian pupuk kimia di lahan pertanian akibatnya lahan pertanian akan semakin kritis sebab pemakaian senyawa-senyawa &#8216;sida&#8217; ini juga mengganggu keseimbangan biota tanah yang memegang peranan penting dalam melakukan berbagai daur nutrien dan energi di dalam tanah. <\/p>\n<div align=\"left\">  <\/div>\n<p>Berbagai siklus yang penting bagi ketersediaan hara tanah bagi tanaman seperti siklus karbon, nitrogen, belerang, fosfor dan besi dilakukan mikrobiota tanah yang terancam akibat reduksi senyawa kimia dari berbagai jenis pupuk dan racun kimia. Kalau kehidupan mikrobiota sebagai salahsatu komponen ekosistem terganggu, maka terganggu pula ekosistem secara keseluruhan.<\/p>\n<div align=\"left\">  <\/div>\n<div align=\"left\">  <\/div>\n<p style=\"margin-top: 0pt; text-indent: 0pt; line-height: normal\" class=\"MsoBodyTextIndent\" align=\"left\"><strong><span>Kelestarian Ekosistem<\/span><\/strong><\/p>\n<div align=\"left\">  <\/div>\n<p style=\"margin-top: 0pt; text-indent: 0pt; line-height: normal\" class=\"MsoBodyTextIndent\" align=\"left\">Dari proses pembentukannya, ekosistem dibagi menjadi ekosistem alam (EA) dan ekosistem pertanian (EP) yang merupakan bentukan manusia. EA adalah ekosistem yang proses pembentukan dan perkembangannya terjadi secara alami tanpa campur tangan manusia. EA mempunyai keanekaragaman mahluk yang tinggi dan juga susunan yang lebih kompleks, yang mengakibatkan terciptanya stabilitas ekosistem. Pada EA akan ditemukan berbagai jenis organisme dengan tingkat populasi yang rendah, sehingga masalah peledakan hama\/penyakit jarang terjadi.<\/p>\n<p style=\"margin-top: 0pt; text-indent: 0pt; line-height: normal\" class=\"MsoBodyTextIndent\" align=\"left\">EP adalah ekosistem yang terbentuk karena adanya campur tangan manusia dalam proses pembentukannya dengan tujuan meningkatkan produksi pertanian dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan manusia. Berbagai materi dan energi yang dimasukkan oleh manusia sebagai input ke dalam EP antara lain pupuk, pestisida, benih\/bibit, tenaga kerja manusia\/ternak dan bentuk energi yang lainnya. Campur tangan manusia biasanya mempunyai maksud untuk mengubah keseimbangan alam dan menyebabkan ekosistem menjadi kurang stabil apabila tidak dikelola dengan baik. <\/p>\n<div align=\"left\">  <\/div>\n<div align=\"left\">  <\/div>\n<p style=\"margin-top: 0pt; text-indent: 0pt; line-height: normal\" class=\"MsoBodyTextIndent\" align=\"left\">EP dapat diartikan sebagai suatu kesatuan lingkungan pertanian yang tersusun oleh komponen-komponen hidup (biotik) dan komponen tidak hidup (abiotik) serta manusia dengan sistem sosialnya merupakan komponen yang tidak dapat dipisahkan dengan komponen-komponen tersebut.<\/p>\n<div align=\"left\">  <\/div>\n<div align=\"left\">  <\/div>\n<p style=\"margin-top: 3pt; text-align: justify; text-indent: 36pt\" class=\"MsoNormal\" align=\"left\">EP terdiri dari unsur biotik dan unsur abiotik. Unsur biotik yang ada di sawah meliputi tanaman padi, gulma, serangga hama dan patogen penyebab penyakit serta vertebrata hama, musuh alami dan lain-lain. Unsur abiotik di sawah antara lain tanah, iklim, sinar matahari, air, serasah\/sampah dan lain-lain. EP pada sawah sangat beragam keadaannya. Semakin beragam keadaan EP di suatu lahan, biasanya EP akan semakin stabil\/mapan sesuai dengan siklusnya.<\/p>\n<p style=\"margin-top: 3pt; text-align: justify; text-indent: 36pt\" class=\"MsoNormal\" align=\"left\">Semua mahluk hidup, termasuk hama tanaman adalah bagian dari EP. Serangga hama tanaman sangat berkepentingan untuk memperoleh sekadar makanan dan tempat hidup (habitat). Oleh karena itu, tindakan pemusnahan hama (eradikasi) dari muka bumi tidak dibenarkan, tetapi cukup mempertahankan populasinya pada suatu tingkatan yang secara ekonomi tidak merugikan dengan cara-cara yang sejauh mungkin tidak menggunakan pembunuh massal seperti pestisida.<\/p>\n<div align=\"left\">  <\/div>\n<p style=\"margin-top: 3pt; text-align: justify; text-indent: 36pt\" class=\"MsoNormal\" align=\"left\">EP tidaklah statis tetapi selalu bergerak berubah sesuai besarnya faktor-faktor yang memengaruhinya. Faktor-faktor tersebut antara lain tindakan manusia, iklim, air, serangga penyerbuk, inang alternatif, gulma dan musuh alami.<\/p>\n<div align=\"left\">  <\/div>\n<p style=\"margin-top: 3pt; text-align: justify; text-indent: 36pt\" class=\"MsoNormal\" align=\"left\">Tindakan manusia biasanya mempunyai kecenderungan menyederhanakan EP sehingga menjadi tidak stabil. Sebagai contoh, penggunaan pestisida yang berlebihan akan mengakibatkan efek tidak stabil yang akan mengakibatkan terjadinya peledakan hama dan penyakit tanaman. Reaksi balik ekosistem terhadap hal tersebut adalah timbulnya masalah resistensi hama, resurjensi hama, musnahnya musuh alami dan hewan bukan sasaran serta terjadinya pencemaran lingkungan.<\/p>\n<p style=\"margin-top: 3pt; text-align: justify; text-indent: 36pt\" class=\"MsoNormal\" align=\"left\">Unsur-unsur dalam EP dan interaksinya selalu berubah menurut waktu dan tempat. Setiap unsur dalam EP memiliki peran dan sifat khusus yang dapat memperbanyak tingkat pertumbuhan dan penyebaran populasi setiap organisme yang ada dalam ekosistem tersebut. Perubahan struktur dan perilaku agroekosistem dapat diketahui hanya dengan diterapkannya program pemantauan (monitoring) agroekosistem secara tepat.<\/p>\n<div align=\"left\">    <\/div>\n<p class=\"MsoNormal\" align=\"left\"><strong>Sekolah Lapang Pertanian Selaras Alam <\/strong><\/p>\n<div align=\"left\">  <\/div>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt\" class=\"MsoNormal\" align=\"left\">Pertanian selaras alam merupakan gerakan yang mengupayakan petani dapat melakukan budidaya tanaman yang selaras dengan alam. Pertanian Selaras Alam adalah sistem pertanian yang berbasis pada pemeliharaan ekosistem yang berkelanjutan, menguntungkan secara ekonomi dan kesehatan dengan memperhatikan kedaulatan petani yang dilakukan dengan memanfaatkan kearifan lokal secara optimal dan sedapat mungkin menghindari bahan-bahan kimia.<\/p>\n<div align=\"left\">  <\/div>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt\" class=\"MsoNormal\" align=\"left\">Model pertanian ini merupakan solusi untuk menjauhkan kelompok petani dari ambang kehancuran akibat gempuran pupuk dan racun kimia yang sebenarnya melemahkan petani serta mengancam keselamatan lingkungan dan manusia. Selain itu, model pertanian ini juga akan mampu mengembalikan kemandirian dan kreatinvitas petani dalam mengelola lahan pertaniannya. Dalam model pertanian ini, petani diajak untuk menganalisis ruang lingkup dan ekosistem lahan pertaniannya sehingga peningkatan hasil produktivitas pertanian dapat terwujud tanpa harus bergantung pada asupan dari luar semisal pupuk dan racun kimia. <\/p>\n<div align=\"left\">  <\/div>\n<p style=\"margin-top: 3pt; text-align: justify; text-indent: 36pt\" class=\"MsoNormal\" align=\"left\"><span>Melihat kenyataan itu, kelompok tani dampingan BITRA Indonesia menyadari perlu adanya tindakan untuk kembali melakukan praktik pertanian selaras alam. Dengan melakukan proses pembelajaran dan pengamatan terhadap praktik budidaya padi yang petani lakukan. Budidaya padi selaras alam menjadi harapan yang akan dilakukan kelompok tani saat ini sebagai gerakan untuk melepaskan diri dari ikatan perusahaan agribisnis besar yang mendominasi semenjak adanya revolusi hijau. <\/span><\/p>\n<div align=\"left\">  <\/div>\n<p style=\"margin-top: 3pt; text-align: justify; text-indent: 36pt\" class=\"MsoNormal\" align=\"left\"><span>Selain itu, kelompok petani ini juga menyadari bahwa memberikan hasil produksi pertanian yang menjamin kesehatan konsumen merupakan sebuah tanggungjawab yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Untuk mewujudkan semua harapan tersebut, maka Bitra Indonesia menggagas sebuah Sekolah Lapang yang memberikan pendidikan dan pelatihan bagi petani untuk mengelola pertaniannya secara mandiri dan menitikberatkan pada kelestarian alam dengan menjaga kelestarian ekosistem dan menjauhkan praktik pertaniannya dari segala bentuk racun dan pupuk kimia<\/span><\/p>\n<div align=\"left\">  <\/div>\n<p style=\"margin-top: 3pt; text-align: justify; text-indent: 36pt\" class=\"MsoNormal\" align=\"left\"><span>Sekolah Lapang Pertanian Selaras Alam Padi Sawah adalah proses belajar bersama yang dilakukan di lahan sawah petani setempat sebagai lokasi, alat bantu serta sumber informasi utama praktek Pertanian Selaras Alam yang langsung digunakan selama proses belajar. Melalui Sekolah Lapang diperoleh pembelajaran yang efektif untuk mempelajari budidaya tanaman padi sawah dipengaruhi ekosistem setempat. <\/span><\/p>\n<div align=\"left\">  <\/div>\n<p style=\"margin-top: 3pt; text-align: justify; text-indent: 36pt\" class=\"MsoNormal\" align=\"left\"><span>Proses belajar dilakukan dengan tahap mengalami, mengungkapkan, menganalisis dan menyimpulkan. Menurut Jumarni, Staf Pertanian Yayasan Bitra Indonesia, Sekolah Lapang Pertanian Selaras Alam ini memiliki tiga tujuan utama yaitu untuk meningkatkan ilmu dan keterampilan petani dalam memecahkan masalah pertanian yang dihadapi petani di lahan pertaniannya sesuai dengan konteks masalah dan pengalaman sehari-hari di persawahannya. <\/span><\/p>\n<div align=\"left\">  <\/div>\n<p style=\"margin-top: 3pt; text-align: justify; text-indent: 36pt\" class=\"MsoNormal\" align=\"left\">Selain itu Sekolah Lapang Pertanian Selaras Alam ini juga akan memberikan keterampilan pada petani dalam mengidentifikasi kebutuhan ilmu dan jenis keterampilan yang dibutuhkan untuk melakukan proses usaha tani padi sawah. Kemudian kelompok petani, dengan adanya sekolah ini, juga akan memiliki kemampuan dalam hal menganalisis serta mengambil keputusan yang tepat dan rasional atas pemecahan masalah yang dihadapinyua serta mampu memperbaiki usaha taninya secara berkelanjutan sesuai dengan sistem pertanian selaras alam.<\/p>\n<div align=\"left\">  <\/div>\n<p style=\"text-align: justify\" class=\"MsoNormal\" align=\"left\"><span>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 <\/span>Sekolah ini digelar secara periodik<span style=\"font-family: 'Trebuchet MS'\"> <\/span>(mingguan) pada lahan sawah sebagai wadah belajar. Dalam pelaksanaannya, para petani yang menjadi peserta dibagi menjadi sub-sub kelompok. Tiap sub kelompok terdiri dari 8-9 orang dan memulai proses belajar langsung di lahan persawahan, selama 5 jam efektif. Proses pembelajarannya pun disusun secara partisipatif dengan model pendidikan orang dewasa.<\/p>\n<div align=\"left\">  <\/div>\n<p style=\"text-align: justify\" class=\"MsoNormal\" align=\"left\"><span>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 <\/span>Seperti petani lainnya, peserta di Sekolah Lapang Pertanian Selaras Alam ini juga melakukan pekerjaan lapangan seperti pengolahan lahan, pembibitan, penanaman pemupukan, tindakan pengendalian hama dan penyakit, penyiangan, pengamatan rutin terhadap tanaman, pemeliharaan hingga pemanenan. Tetapi perbedaannya adalah peserta tidak lagi menggunakan asupan dari luar semisal pupuk dan racun kimia. Mereka memproduksi sendiri pupuk organiknya. Untuk pengendalian hama, peserta juga memproduksi sendiri ramuan organik pengendali hama dan menggunakan rantai makananan dengan memunculkan musuh alami dari hama padi.<\/p>\n<div align=\"left\">  <\/div>\n<p style=\"text-align: justify\" class=\"MsoNormal\" align=\"left\"><span><span>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 <\/span>Para petani juga secara berkala melakukan pengamatan agroekosistem di lahan persawahan yang dijadikan media pembelajaran. Pengamatan dilakukan<\/span><span style=\"font-family: 'Trebuchet MS'\"> <\/span><span>terhadap tanaman sampel yang telah ditentukan. Pengamatan terdiri dari jenis hama penyakit tanaman beserta intensitas serangannya, pertumbuhan agronomi tanaman dan jenis musuh alami beserta intensitas perkembangannya di sawah. <\/span><span>Kemudian peserta akan menuangkan hasil pengamatan kedalam gambar analisa agroeksosistem. Gambar ini bertujuan memudahkan petani menjelaskan kondisi tanaman dan lingkungannya akibat suatu perlakukan sehingga orang lain dapat juga mengerti mengenai situasi alam yang dihadapi oleh tanaman dan pertumbuahn tanaman tersebut. <\/span><\/p>\n<div align=\"left\">  <\/div>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt\" class=\"MsoNormal\" align=\"left\"><span>Diskusi kelompok dan diskusi pleno pun menjadi sebuah rutinitas yang tak lagi asing bagi para peserta sekolah ini. Para peserta juga mempunyai jadwal lapangan dimana para peserta sekolah lapang turun ke sawah-sawah petani lain, untuk menjelaskan dan mengajak petani lain yang belum memperhatikan ekosistem dan kesehatan lahan pertaniannya untuk bergabung.<\/span><\/p>\n<div align=\"left\">    <\/div>\n<p style=\"text-align: justify\" class=\"MsoNormal\" align=\"left\"><strong><span>Sekolah Lapang Polikultur Kakao<\/span><\/strong><\/p>\n<div align=\"left\">  <\/div>\n<p style=\"text-align: justify\" class=\"MsoNormal\" align=\"left\"><span><span>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 <\/span>Tidak jauh berbeda dengan proses belajar Sekolah Lapang Pertanian Selaras Alam dimana pesertanya adalah petani padi sawah, di Sekolah Lapang Polikultur Kakao ini lebih memfokuskan diri pada petani-petani kakao.<\/span><\/p>\n<div align=\"left\">  <\/div>\n<p style=\"text-align: justify\" class=\"MsoNormal\" align=\"left\"><span><span>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 <\/span>Sekolah Lapang Polikultur adalah proses belajar yang dilaksanakan di lahan polikultur dan monokultur, di lingkungan masyarakat setempat. Lahan usaha tani digunakan sebagai tempat dan alat bantu serta sumber informasi utama yang langsung digunakan selama proses belajar. Sekolah lapang merupakan metode belajar yang paling efektif untuk mempelajari budidaya tanaman yang dipengaruhi ekosistem setempat dan berbeda dari satu tempat dengan tempat lainnya. Proses belajar dilaksanakan melalui tahap-tahap mengalami, menganalisa dan menyimpulkan.<\/span><\/p>\n<div align=\"left\">  <\/div>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt\" class=\"MsoNormal\" align=\"left\"><span><span> <\/span>Petani kakao inipun kemudian belajar bagaimana merancang sebuah kebun polikultur yang baik sesuai dengan keadaan lingkungan dan tanaman pendamping kakao yang baik. \u201dKami mulai belajar di sekolah lapang ini sejak tahun 2003. Waktu itu orang dari Bitra dan pemerintah datang dan membuat pertemuan. Sejak itulah kami langsung belajar tentang apa itu polikuktur dan bagaimana cara menata kebun coklat kami sehingga bisa mendatangkan banyak keuntungan. Jadi selain coklat, kami bisa panen yang lain,\u201d ungkap Sudirman Tarigan, ketua Kelompok Petani Kakao Polikultur Ertunas Baru di desa Rambung Baru kecamatan Deli Serdang.<\/span><\/p>\n<div align=\"left\">  <\/div>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt\" class=\"MsoNormal\" align=\"left\"><span>Sebelum menerapkan sistem polikultur pada kebun kakao, para petani di daerah ini hanya bergantung tanaman kakao sebagai tanaman utama mereka. Setelah belajar tentang polikultur, mereka bisa menikmati hasil dari tanaman lainnya, seperti pinang, durian, manggis dan beberapa tanaman musiman lainnya yang merupakan jenis tanaman lokal yang kemudian dijadikan bagian dari kebun kakao milik nereka dengan melakukan penataan.<\/span><\/p>\n<div align=\"left\">  <\/div>\n<div align=\"left\">  <\/div>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt\" class=\"MsoNormal\" align=\"left\"><span>Sama halnya seperti sekolah lapang di persawahan, petani kakao ini juga belajar bagaimana membuat pupuk organik sendiri, pengendali hama yang tidak merusak lingkungan, pembuatan bokashi, sambung samping, pembiakan, dll. Hal-hal yang berkaitan dengan kakao, mulai dari sebelum tanam sampai setelah panen, menjadi santapan belajar para peserta sekolah lapang ini, sehingga hasil panen kakao mereka pun mengalami peningkatan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt\" class=\"MsoNormal\" align=\"left\"><span>\u201dYa, sejak kami belajar di sekolah lapang ini kami jadi mengerti bagaimana cara menanam merawat dan memanen coklat sehingga hasil panen kami sekarang lebih banyak ketimbang yang sebelum-sebelumnya,\u201d kenang Sudirman. <strong>(Tedy)<\/strong><br \/><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Padi (oryza sativa) merupakan komoditi pangan utama penduduk Indonesia. Akibat bertambahnya penduduk dan berkurangnya areal sawah, sejumlah pihak terus berupaya mengembangkan teknologi budidaya padi. Tapi sayang, sejumlah teknologi temuan tidak berdasar pada kelestarian lingkungan alam. Pemupukan, pengendalian hama dan penyakit dengan racun sintesis yang tidak mengikuti aturan pemakaian serta penggunaan benih di lahan pertanian, membuat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-289","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-community-development"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/289","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=289"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/289\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=289"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=289"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=289"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}