{"id":2764,"date":"2014-09-17T22:04:18","date_gmt":"2014-09-17T15:04:18","guid":{"rendered":"http:\/\/www.bitra.or.id\/2012\/?p=2764"},"modified":"2014-09-17T22:04:18","modified_gmt":"2014-09-17T15:04:18","slug":"manisnya-gula-aren-penungkiren-tak-semanis-harganya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/manisnya-gula-aren-penungkiren-tak-semanis-harganya\/","title":{"rendered":"Manisnya Gula Aren Penungkiren Tak Semanis Harganya"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/wpid-wp-1410966123957.jpeg\"><img decoding=\"async\" title=\"wp-1410966123957\" class=\"alignright size-full\" alt=\"image\" src=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/wpid-wp-1410966123957.jpeg\" \/><\/a><\/p>\n<p>Di teras rumahnya yang terbuat dari papan kayu, seorang pria paruh baya menyeruput segelas kopi panas. Asap putih mengepul tak jauh dari tempatnya duduk. Asap tersebut berasal dari tungku pembakaran. Di atasnya, wajan besar berisi cairan coklat kemerahan tampak menggelegak. Aroma harum keluar bercampur dengan asap yang sedikit menyesakkan. Petrus beranjak ke tungku, memasukkan kayu rambung yang sudah terbelah kemudian meniupnya. Tak seberapa lama, api dalam tungku marak.<br \/>\n&#8220;Beginilah kalau lagi masak gula aren, masih pakai kayu bakar, susahnya kalau cuacanya mendung seperti ini, kayu bakarnya lembab,&#8221; kata pria yang memperkenalkan dirinya dengan nama Petrus Kaban saat disambangi MedanBisnis, Selasa (17\/9), di rumahnya di Desa Penungkiren, Kecamatan STM Hilir, Deliserdang. <\/p>\n<p>Petrus kemudian mempersilakan masuk ke dalam rumahnya dan duduk lesehan di tikar plastik. Istrinya yang baru pulang dari ladang langsung menyalami tamunya selanjutnya menuju dapur. Ia keluar membawa 2 piring tape ketan dan 5 gelas plastik untuk minum.<br \/>\nObrolan mengalir santai dan ramah. Selang 30 menit, 2 orang pria paruh baya masuk ke dalam rumah dan bergabung dalam obrolan. Sembilan orang di dalam rumah, terdiri dari 4 orang tamu, 3 orang perpola (pembuat gula aren) ditemani istri-istrinya, membahas tentang kehidupan masyarakat desa dan seputar pembuatan gula aren selama ini di desa yang mayoritas penduduknya merupakan masyarakat Karo. <\/p>\n<p>Dikatakan Petrus, di rumahnya berisi 3 orang perpola dari 3 generasi. Esron Barus baru 3 tahun menjadi perpola. Ngatil Tarigan, sudah 30 tahun lebih dulu. Petrus sendiri, baru 14 tahun fokus membuat gula aren dengan mengelola 5 pokok aren. &#8220;Rata-rata kami semua mengelola sekitar 4 atau 5 pokok saja, meskipun di ladang pokoknya banyak, tapi tak semua mampu terkerjakan,&#8221; katanya. <\/p>\n<p>Ngatil Tarigan, yang berpengalaman lebih banyak, mengatakan, profesi perpola di Desa Penungkiren, ataupun desa lainnya yang memiliki pertanaman aren, mengalami naik turun. Sejauh ingatannya, dulu sangat banyak masyarakat yang mengambil air nira untuk dijadikan gula aren karena menguntungkan. Namun, sejak 10 sampai 20 tahun terakhir, sudah sedikit. Saat ini, paling tidak terdapat 8 sampai 10 orang saja yang membuat gula aren. <\/p>\n<p>Masing-masing perpola, dalam seminggu hanya bisa membuat sebanyak 3 sampai 4 kg. yang berarti, dalam sebulan, dari desa tersebut hanya mampu menjual sebanyak 160 kg gula aren. Gula aren tersebut dijual ke agen setiap minggunya. &#8220;Kalau sekarang ini harganya Rp14.000 per kg,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Selama 14 tahun menjadi perpola, menurut Petrus, harga gula aren dari Desa Penungkiren pernah melambung sampai di angka tertinggi Rp 18.000 perkg. Sayang, itu hanya terjadi sekali saja pada tahun 1999. Kemudian pernah jatuh bebas menjadi Rp 3.500 per kg dan kemudian naik menjadi Rp 6.000 per kg pada 2 tahun lalu dan terus merangkak naik ke harga sekarang Rp14.000 per kg. &#8220;Biarpun begitu, harganya sebenarnya masih tidak sebanding dengan pekerjaannya,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Dijelaskannya, dalam sebulan, perpola hanya bisa menghasilkan sebanyak 16 kg. Dengan harga tersebut, hasil penjualan gula aren, perpola hanya bisa mengantongi Rp 224.000 selama sebulan. Sementara harga kebutuhan pokok yang terus mengalami kenaikan dan kebutuhan hidup lainnya, seperti biaya sekolah anak, kalau hanya mengandalkan pendapatan dari gula aren tidak akan mencukupi. <\/p>\n<p>Selain itu, menjadi perpola memiliki risiko besar. Ia mencontohkan, untuk mengambil nira, perpola hanya mengandalkan tangga yang terbuat dari sebatang bambu yang di bagian tengahnya dilubangi sebesar jempol kaki orang dewasa tanpa pegangan tali. Padahal, tinggi pokok minimal 10 meter. Selain itu, umumnya pokok aren berada di tebing curam. Belum lagi dengan beban bambu betung di pundaknya sepanjang sekitar 120 cm, kadang menyulitkan ketika memanjat dan cukup memberati ketika turun. <\/p>\n<p>Belum lagi dengan jarak pokok aren yang berjauhan. Hal tersebut yang menyebabkan tak banyak pokok yang mampu dikerjakan oleh perpola. Sekali pengambilan air nira (bahan baku gula aren) dilakukan pada pagi dan sore hari. Itu pun, tidak semua pokok bisa mengeluarkan jumlah air yang sama. Terkadang, airnya sangat sedikit ataupun tidak ada sama sekali. &#8220;Makanya tak banyak gula aren yang bisa kita buat,&#8221; katanya.&nbsp; <\/p>\n<p>Esron Barus, mengatakan, faktor tersebut yang mungkin membuat semakin sedikitnya orang mau menjadi perpola. Namun demikian, kata pria yang baru 3 tahun menjadi perpola, sebenarnya sangat disayangkan jika kemudian ditinggalkan begitu saja. Karenanya, harus membuka pasar baru tidak sekedar dijual ke tengkulak dan harga jual yang layak. <\/p>\n<p>Pasalnya, selama ini tengkulaklah yang lebih menentukan soal harga. Perpola tidak bisa berbuat banyak ketika harga naik atau turun kecuali menjualnya berapapun harganya. &#8220;Desa ini sudah dari dulu dikenal dengan produksi gula arennya, sayang sekali kalau tidak kita lanjutkan. Apalagi, kualitas gula aren dari desa ini bisa bersaing, untuk membuatnya, tidak ada campuran apa-apa, ini gula aren asli,&#8221; katanya. (<em>dewantoro<\/em>)<\/p>\n<p><em>Sumber: Harian Medan Bisnis<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di teras rumahnya yang terbuat dari papan kayu, seorang pria paruh baya menyeruput segelas kopi panas. Asap putih mengepul tak jauh dari tempatnya duduk. Asap tersebut berasal dari tungku pembakaran. Di atasnya, wajan besar berisi cairan coklat kemerahan tampak menggelegak. Aroma harum keluar bercampur dengan asap yang sedikit menyesakkan. Petrus beranjak ke tungku, memasukkan kayu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[18],"tags":[511,406],"class_list":["post-2764","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-pedesaan","tag-ekonomi-rakyat","tag-petani-gula-aren"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2764","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2764"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2764\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2765,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2764\/revisions\/2765"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2764"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2764"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2764"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}