{"id":274,"date":"2009-07-05T11:13:15","date_gmt":"2009-07-05T11:13:15","guid":{"rendered":"http:\/\/localhost\/bitra\/?p=274"},"modified":"2009-07-05T11:13:15","modified_gmt":"2009-07-05T11:13:15","slug":"irigasi-tidak-berfungsi-petani-tapsel-alihkan-tanaman-pangan-ke-sawit","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/irigasi-tidak-berfungsi-petani-tapsel-alihkan-tanaman-pangan-ke-sawit\/","title":{"rendered":"Irigasi Tidak Berfungsi, Petani Tapsel Alihkan Tanaman Pangan ke Sawit"},"content":{"rendered":"<p>Masyarakat tani di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumut, mulai mengalihkan sebagian areal pertaniaannya dari tanaman pangan menjadi perkebunan sawit. Peralihan areal tersebut dikarenakan tidak berfungsinya saluran irigasi yang menyebabkan kekeringan lahan.<\/p>\n<p>Salah seorang petani dari Desa Huristak Kecamatan Huristak di Gunung Tua, Tapanuli Selatan, Marzuki mengatakan, peralihan tersebut dilakukan sejak delapan tahun lalu. Akan tetapi, akibat kekeringan lahan yang berlangsung terus menerus, peralihan lahan ini pun semakin marak dilakukan akhir-akhir ini. \u201cSebagian besar lahan sawah mengalami kekeringan karena debet air menurun sehingga tidak bisa lagi mengaliri areal persawahan. Makanya kami sekarang beralih ke lahan sawit,\u201d katanya kepada Medan Bisnis, Minggu (19\/3) di Gunung Tua.<\/p>\n<p>Menurutnya, pengelolaan tanaman sawit lebih mudah dibandingkan dengan bertanam padi. Begitu juga dengan hasil yang diperoleh jauh lebih besar. Kondisi inilah yang memicu petani di kabupaten tersebut beramai-ramai menanam sawit. \u201cSaat ini setidaknya ada delapan kecamatan di Kabupaten Tapsel yang sudah menanam sawit, di antaranya Kecamatan Huristak, Simpang Empat, Binanga, Portibi, Sosa, Sibuhuan dan Burumun. Bahkan sebagian sudah mulai panen dan sebagian lainnya baru menanam,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ia sendiri, lanjutnya, menanam sawit pertama sekali tahun 1998 dengan luas areal dua hektar. Dan, tanaman tersebut sejak dua tahun lalu sudah panen. \u201cMelihat hasilnya yang cukup menguntungkan, saya melakukan perluasan areal tiga hektar lagi. Yang satu hektar sudah berbuah pasir, satu hektar baru berusia lima bulan dan satu hektar lainnya baru ditanam,\u201d sebutnya.<\/p>\n<p>Dari satu hektar tanaman sawit miliknya, produksi yang diperoleh mencapai empat ton per bulan per hektar. Jika dikalkulasikan dengan harga sawit saat ini Rp 570 per kg, maka total penjualan yang dicapai Rp 1.140.000 per bulan.<\/p>\n<p>\u201cHarga tersebut masih murah, suatu kali, harga sawit pernah berkisar antara Rp 780 &#8211; 800 per kg. Kalau sudah begitu, untungnya jadi lebih besar lagi,\u201d akunya.<\/p>\n<p>Sementara untuk tanaman padi, lanjutnya, perolehan yang bisa didapat hanya Rp 8 juta per tahun dengan asumsi produksi yang dicapai empat ton per tahun per hektar (dalam setahun hanya sekali saja bisa ditanam-red) dengan harga gabah Rp 2.000 per kg. \u201cSetelah saya lakukan analisa usaha dengan mengurangi pendapatan dan modal, ternyata menanam sawit jauh lebih untung,\u201d imbuhnya.<\/p>\n<p>Begitupun, ia mengaku masih tetap menanam padi dengan luas areal 12 rante. \u201cKomoditas ini hanya untuk tambahan penghasilan saja dan sebagian besar untuk konsumsi sendiri,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Hal senada disampaikan Swaldi dari Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA). Menurutnya, peralihan tanaman ini akan berdampak buruk terhadap lingkungan. \u201cTanaman sawit merupakan tanaman monokultur yang menyerap hara dalam tanah dalam jumlah besar sehingga dalam jangka waktu yang tidak terlalu panjang akan terjadi kerusakan lahan. Begitu juga dengan kebutuhan air di mana setiap batang kelapa sawit memerlukan 25 liter per hari sehingga tanaman yang ada di sekitarnya kekurangan air,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Swaldi lebih jauh mengatakan, peralihan ini dipicu akibat masalah kekeringan yang terjadi dari tahun ke tahun dan tidak ada penyelesaiannya.<\/p>\n<p>Untuk itu, selain dilakukan penyadaran kepada masyarakat, harus juga dilakukan desakan kepada pemerintah untuk segera melakukan perbaikan irigasi sehingga petani bisa tetap bertahan pada tanaman pangan.<\/p>\n<p>Sumber: Medan Bisnis (20\/03\/2006)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Masyarakat tani di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumut, mulai mengalihkan sebagian areal pertaniaannya dari tanaman pangan menjadi perkebunan sawit. Peralihan areal tersebut dikarenakan tidak berfungsinya saluran irigasi yang menyebabkan kekeringan lahan. Salah seorang petani dari Desa Huristak Kecamatan Huristak di Gunung Tua, Tapanuli Selatan, Marzuki mengatakan, peralihan tersebut dilakukan sejak delapan tahun lalu. Akan tetapi, akibat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-274","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-community-development"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/274","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=274"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/274\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=274"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=274"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=274"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}