{"id":270,"date":"2009-07-05T10:40:36","date_gmt":"2009-07-05T10:40:36","guid":{"rendered":"http:\/\/localhost\/bitra\/?p=270"},"modified":"2009-07-05T10:40:36","modified_gmt":"2009-07-05T10:40:36","slug":"pertanian-monokultur-dinilai-hilangkan-keanekaragaman-varietas-tradisional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/pertanian-monokultur-dinilai-hilangkan-keanekaragaman-varietas-tradisional\/","title":{"rendered":"Pertanian Monokultur Dinilai Hilangkan Keanekaragaman Varietas Tradisional"},"content":{"rendered":"<p>Pertanian modern yang cenderung monokultur dengan menggunakan varietas baru yang seragam, dinilai merupakan salah satu penyebab hilangnya keanekaragaman genetik varietas tradisional.<\/p>\n<p>Menteri Pertanian Anton Apriyantono, di Jakarta, Kamis (9\/2) menyatakan, Indonesia memiliki 15% seluruh keanekaragaman hayati yang terdapat di bumi, namun demikian kekayaan tersebut sebagian besar belum dimanfaatkan secara bekelanjutan. \u201cBahkan sebagian masih belum dimanfaatkan sama sekali,\u201d katanya pada penjelasan keterangan pemerintah di depan Komisi IV DPR mengenai RUU tentang Perjanjian Mengenai Sumberdaya Genetik Tanaman untuk Pangan dan Pertanian.<\/p>\n<p>Dari berbagai spesies baik yang sudah dibudidayakan maupun yang dipanen langsung dari alam, hanya sejumlah kecil yang menjadi komoditas pertanian. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan pangan masih mengandalkan pada beberapa tanaman antara lain padi, jagung dan gandum, yang mana untuk ketiga tanaman tersebut Indonesia tidak memilik kendali dalam pemanfaatan sumbe daya genetik dunia.<\/p>\n<p>Kebutuhan manusia terhadap pangan terus meningkat sehingga tersedianya sumberdaya genetik tanaman untuk pangan dan pertanian menjadi semakin penting. Kepentingan tersebut telah mendorong petani dan pemulia tanaman menciptakan varietas baru dengan mutu lebih baik dan nilai ekonomi lebih tinggi.<\/p>\n<p>Di satu pihak, petani mengembangkan varietas tradisional dengan waktu penggunaan lebih lama dan melestarikan serta merawat varietas tersebut secara turun-temurun menjadi ras temurun. Di sisi lain, pemulia tanaman pangan selalu berusaha menciptakan varietas baru yang lebih produktif dalam waktu singkat dengan menggunakan teknologi modern. \u201cDalam upaya ini tak jarang varietas modern hasil pemuliaan akan menggeser varietas lama yang pada akhirnya secara terus-menerus akan mengakibatkan makin menyusutnya keanekaragaman sumber daya genetik,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Anton menyatakan, sejarah membuktikan siapa pun yang menguasai sumber daya genetik akan memegang kendali ekonomi dunia. \u201cOleh karena, negara maju yang mempunyai keunggulan ilmu pengetahuan dan teknologi banyak memanfaatkannya untuk menguasai sumber daya genetik khususnya untuk pangan dan pertanian,\u201d sebutnya.<\/p>\n<p>Menyinggung penyusunan RUU Perjanjian untuk Pangan dan Pertanian, Mentan mengatakan, hal itu untuk mendukung ketahanan pangan dan pertanian yang berkelanjutan melalui konservasi dan pemanfaatan sumbe daya genetik tanaman. Selain itu agar pembagian keuntungan yang dihasilkan dari pemanfaatan sumber daya genetik bisa secara adil dan merata selaras dengan konvensi keanekaragaman hayati.<\/p>\n<p>sumber: antara (11\/02\/06)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pertanian modern yang cenderung monokultur dengan menggunakan varietas baru yang seragam, dinilai merupakan salah satu penyebab hilangnya keanekaragaman genetik varietas tradisional. Menteri Pertanian Anton Apriyantono, di Jakarta, Kamis (9\/2) menyatakan, Indonesia memiliki 15% seluruh keanekaragaman hayati yang terdapat di bumi, namun demikian kekayaan tersebut sebagian besar belum dimanfaatkan secara bekelanjutan. \u201cBahkan sebagian masih belum dimanfaatkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-270","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-community-development"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/270","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=270"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/270\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=270"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=270"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=270"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}